POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 15. Terbongkar


__ADS_3

JANLUP VOTE AND KOMEN.


Minggu pagi yang cerah dimanfaatkan Asha untuk olahraga di sekitar lingkungan tempat tinggal nya. Sesekali menyapa orang yang dikenal nya, walau tak ada senyum diwajahnya.


Selesai dengan kegiatan olahraga nya. Asha kembali ke rumah dan mendapati sang bunda masih di rumah dengan pakaian santai sedang menyiapkan sarapan.


"Bunda nggak ke toko?" Tanya Asha sembari mengambil minum di kulkas.


"Enggak, Bunda mau menghabiskan waktu dengan putri kesayangannya Bunda." Ucap sang bunda.


Asha merasa aneh dengan sikap sang bunda tapi dia  hanya mengangguk dan mengintip apa yang sedang di masak sang bunda.


"Asha mandi dulu ya Bun." Ucap Asha lalu berlalu ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi Asha bergabung dengan sang bunda yang sudah duduk manis menunggu dirinya.


"Bun, nanti Asha minta izin keluar sebentar mau ke toko buku." Ucap Asha di sela-sela makannya.


"Mau bunda temenin?" Sahut sang bunda memberi penawaran.


"Enggak usah, bunda dirumah aja istirahat. Nanti Asha sama Ana." Jawab Asha.


"Bukankah tadi bunda bilang ingin menghabiskan waktu dengan putri bunda." Ucap sang bunda dengan wajah yang dibuat sedih.


"Asha janji akan pulang cepat Bun. Hanya membeli buku dan pulang." Ucap Asha menyakinkan bundanya.


"Ya sudah. Hati-hati ya." Ucap bunda.


Asha mengangguk bersamaan dengan makanan nya yang sudah habis. Saat akan membereskan peralatan makannya sang bunda menahannya dan meminta Asha bersiap-siap untuk pergi ke toko buku. Asha menurut, setelah dirasa siap Asha pamit.


Tak selang berapa lama kepergian Asha datang mobil mewah yang berhenti tepat didepan rumah Asha.


Keluarlah sosok pria dengan pakaian formal dan mahalnya. Pria itu menatap rumah Asha dengan pandangan datar. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Pria itu mengetuk pintu beberapa kali hingga ada sahutan dari dalam dan muncul lah sosok wanita yang tidak lain adalah bunda Asha.


"A...Acel?" Ucap bunda Asha terkejut melihat pria didepannya yang tengah menatapnya datar.


"Pagi Zia." Sapa pria yang ternyata Acel.


Tak mendapat jawaban dari wanita didepannya Acel melenggang masuk ke dalam rumah itu.


Zia yang sadar dari keterkejutan nya menyusul Acel yang sudah duduk di ruang tamu.


"Pergi! Aku minta kamu pergi Acel!" Teriak Zia cemas.


"Tenang lah Zia. Aku kesini ingin menanyakan sesuatu kepada mu tentang anak kita." Ucap Acel santai.


"Anak kita? Apa yang kau bicarakan Acel?" Tanya Zia dengan tawa sumbang, walau dalam hati ia cemas jika Acel bertemu Asha.


"Aku ingin kamu mengantar ku ke makam anak kita." Ucap Acel melihat Zia yang menatap nya terkejut.


"Aku ingin melihat anak ku, Zia.  Walau dia sudah tidak ada." Ucap Acel lirih sembari mengalihkan pandangannya pada objek lain.


"Bunda?" Panggilan dengan suara lirih membuat Zia menegang berbeda dengan Acel yang menoleh.


Di sana. Di depan pintu berdiri sosok gadis yang menatap dua orang dewasa di ruang tamu dengan pandangan tak terbaca. Raut wajahnya datar benar-benar datar.

__ADS_1


"Asha?" Ucap Acel terkejut melihat gadis remaja yang dikenalinya.


Asha menatap Acel datar saat pria dewasa itu memanggil namanya.


Awalnya Asha sudah akan menaiki ojek namun ia teringat bahwa ia melupakan catatan tentang buku yang akan ia beli.


Saat kembali ke rumah Asha heran karena ada mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Ia mengira itu Arlan. Tapi tidak mungkin karena Arlan ada latihan basket dengan teman-temannya. Apa tamu bundanya? Tapi siapa? Dengan rasa penasaran Asha melangkah memasuki rumah tersebut, hingga langkah nya terhenti saat mendengar percakapan dua orang di ruang tamu rumahnya.


...


Ruang tamu di rumah Asha dalam kondisi hening hanya ada suara jam yang berdetak. Zia bunda Asha menatap putrinya yang menunduk dengan tangan terkepal. Sedangkan Acel duduk dengan tenang tapi tidak tatapan matanya yang tajam pada Zia dan Asha bergantian.


"Zia? Bisa jelaskan pada ku!" Ucap Acel dengan nada menahan emosi memecah suasana yang sepi senyap.


Zia menatap Acel takut-takut kemudian beralih menatap Asha yang juga sedang menatap nya datar. Hati Zia sakit ditatap seperti itu oleh putri kesayangannya. Zia takut jika Acel akan membawa Asha pergi jika tau kebenaran nya.


"Apa yang bunda sembunyikan dari Asha?" Tanya Asha datar.


"Sayang tolong jangan seperti itu." Pinta Zia lirih menahan air matanya yang ingin keluar.


Asha diam tak menjawab sama sekali bahkan ekspresi wajah nya tak berubah.


Kini Asha menatap Acel yang sedang menatap dirinya.


"Apa hubungan om dengan bunda saya?" Tanya Asha pada Acel karena tak kunjung mendapat jawaban dari Zia.


"Saya teman lama Bunda mu. Bahkan lebih dari itu." Ucap Acel santai.


"Lebih dari itu? Apa anda mantan suami bunda saya?" Tanya Asha kembali saat mendengar kalimat ambigu dari Acel.


"Kalau bukan..kenapa anda menanyakan anak kepada bunda saya? Yang pada nyatanya bunda saya hanya memiliki satu....." Ucapan Asha terpotong oleh suara sang bunda.


"Asha?" Ucap Zia gugup saat Acel menatap nya tajam.


"Lanjutkan Asha!" Pinta Acel tanpa menatap Asha.


"Bunda saya hanya memiliki satu anak yaitu saya." Lanjut Asha.


Acel langsung mengalihkan pandangannya pada Asha.


"Jadi kamu membohongi aku?!" Ucap Acel dengan nada tinggi.


"Jaga nada bicara anda tuan Acel!" Teriak Asha emosi saat melihat sang bunda di bentak.


Acel menghela nafas berat kemudian memperbaiki posisi duduknya.


"Boleh aku simpulkan Zia?" Tanya Acel datar.


"Bahwa Asha adalah putri ku." Lanjut Acel menatap Zia datar sedangkan Zia menatap Acel terkejut.


"Apa yang anda bicarakan tuan?! Ayah saya sudah meninggal dari saya masih dikandung ibu saya karena kecelakaan." Ucap Asha datar.


"Kau memperkenalkan si brengsek itu sebagai ayah anak ku?!" Tanya Acel dengan nada menekan rasa emosi.


"Yang kau sebut brengsek itu ayah ku!" Teriak Asha tak terima.


"Tidak ada yang pernah tidur dengan ibu mu kecuali aku!" Balas Acel dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Acel!" Ucap Zia.


Suasana menjadi hening kembali. Asha menatap Acel dingin, sedangkan Acel mencoba mengatur emosi nya dan Zia mendekat kearah Asha yang langsung di hindari Asha.


Zia menatap sedih saat anaknya tak ingin disentuhnya.


Satu air mata lolos dari mata cantik Asha. Fakta baru yang begitu menyakitkan untuk dirinya. Fakta bahwa Bunda nya membohongi dirinya. Fakta bahwa ia masih memiliki ayah. Fakta baru yang membuat dia tak percaya adalah ia anak haram.


Jadi yang dibilang tantenya itu benar. Jadi yang dibilang temannya dulu benar. Asha tertawa sumbang. Menertawakan takdir yang mempermainkan dirinya.


"Sayang..." Ucap sang bunda lirih.


"Kenapa Bun? Kenapa bunda bohong sama Asha?" Tanya Asha menahan rasa sakit dihatinya.


"Bunda bisa jelasin sayang. " Ucap Zia mencoba membujuk Asha.


"Semua ini menyakitkan bun, untuk Asha." Ucap Asha lalu berlalu pergi meninggalkan dua orang dewasa yang memanggil namanya.


Pagi ini tidak secerah apa yang terlihat. Asha berjalan tak tentu arah. Tatapan matanya kosong, raut wajahnya datar, matanya sembab, hidung nya merah.


Tanpa sadar Asha menyebrang jalan tanpa melihat sekitar.


Tinnnnnnnn


Suara klakson montor dan tarikan kuat menyadarkan Asha dari lamunannya.


"Kalau Lo mau bunuh diri jangan nyusahin orang lain!" Ucap seseorang dengan nada tinggi.


Asha menatap kosong pada sosok didepannya yang memakai Hoodie hitam sedang menatapnya datar. Asha tak bereaksi apapun.


Hingga sosok didepannya menarik tangan nya menuju warung pinggir jalan.


Sosok itu memberi air minum pada Asha.


"Gue tau Lo punya masalah. Tapi cara Lo nyelesaiin masalah itu salah. Seberat apapun masalah Lo, gue yakin Tuhan bakal bantu Lo." Ucap sosok itu pada Asha.


"Bagaimana jika orang yang sangat kamu percaya membohongi mu?" Tanya Asha tanpa sadar.


"Gue akan marah, kesel, kecewa..tapi gue harus bisa dengerin penjelasan dia kenapa dia bohongin gue. Gue yakin dia punya alasan untuk itu. Ya. Gue akui caranya salah, tapi seenggaknya dengerin dulu alesannya. " Jawab sosok itu.


"Btw nama gue Fazriel. Panggil aja Zriel." Ucap sosok itu yang memperkenalkan namanya.


Asha menatap uluran tangan sosok yang baru dikenalnya dengan datar.


"Asha." Ucap Asha kemudian berdiri.


"Terimakasih sudah menolong ku." Ucap Asha menengok kesamping tempat Zriel duduk.


Zriel menatap Asha tepat dimanik mata nya. Mata itu memancarkan rasa kecewa yang luar biasa.


"Apa rasanya sekecewa itu?"  Batin Zriel.


Asha memutus kontak mata dengan Zriel  dan berjalan pergi meninggalkan Zriel yang masih menatap punggung Asha yang semakin menjauh.


Bersambung......


Makasih udah mampir.

__ADS_1


__ADS_2