
Diruang tamu sederhana milik Zia, dua remaja beda jenis kelamin itu saling melempar tatapan tajam.
Zia menghela nafasnya melihat tingkah dua anaknya. Ya, meski El bukan anak kandungnya tapi ia akan menyayangi El seperti ia menyayangi Asha.
"Sampai kapan kalian mau tatapan begitu?" Ucap Zia memecah keheningan dan aksi tatapan El dan Asha.
"Sejak kapan bunda jadi mamanya dia?" Tanya Asha tak menghiraukan pertanyaan Zia.
"Sejak kamu belum lahir!" Jawab El dengan nada nyolot.
"Ck. Kapan bunda nikah sama papa kamu? Nikah aja nggak pernah." Ucap Asha tanpa menyadari perubahan ekspresi wajah El dan Zia yang menatap nya.
"Apa maksudmu? Mama dan papa belum menikah?" Tanya El pada Asha.
Asha menatap El kemudian berganti menatap Zia yang duduk dengan wajah pias.
"Bunda nggak bilang sama dia yang sebenarnya?" Tanya Asha menatap Zia.
Sedangkan Zia malah diam dengan detak jantung yang berpacu cepat, aliran darah nya seperti berhenti mengalir.
"Ma?" Panggil El lembut kepada Zia.
"Aku lapar...bund masakin makanan kesukaan Asha." Ucap Asha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak sopan banget kamu nyuruh-nyuruh mama begitu!" Ucap El tak suka.
"Nggak papa sayang. El mau bunda masakin apa?" Tanya Zia pada El setelah menghela nafas lega.
Zia tau Asha mengalihkan pembicaraan di antara mereka. Asha tau anaknya itu sangat peka dengan situasi.
"Apa aja yang penting bunda yang masak." Jawab El lembut.
"Ck. Tadi ngatain aku nggak sopan.. padahal dia tanpa sadar juga nyuruh bunda masak." Gumam Asha namun masih bisa didengar oleh El dan Zia.
"Gue denger." Ucap El sengit.
"Sengaja" Jawab Asha santai.
Kemudian berjalan ke kamar untuk mandi, karena dari tadi ia belum berganti pakaian. Dia sangat terkejut saat melihat bundanya berpelukan dengan pria yang usianya jauh di bawah usia Bunda nya.
Menghela nafas panjang Asha memasuki kamar mandi. Tak butuh waktu lama Asha keluar kamar mandi dengan pakaian santai nya.
Selepas itu ia berjalan menuju meja makan yang sudah ada laki-laki yang mengaku sebagai kakaknya duduk dengan tenang menunggu bundanya memasak.
"Sudah siap. Bunda masak ayam sambal balado sama telur dadar sosis." Ucap Zia sembari menaruh hasil masakan nya dimeja makan.
Asha dan El menatap masakan Zia dengan binar penuh minat. Kini mereka makan dengan tenang tanpa ada obrolan, hanya denting sendok yang beradu dengan piring.
...
Kediaman Megantara.
"Tumben Lo kesini?" Tanya Apolo pada Acel sahabatnya. Ya kini Acel tengah berada di kediaman keluarga Megantara.
"Zia udah ketemu sama El." Jawab Acel yang tak nyambung dengan pertanyaan Apolo.
"Serius? Terus-terus Zia marah sama El? Zia benci sama El?" Tanya Apolo tertarik dengan ceria sahabatnya itu.
Acel diam beberapa detik.
"Enggak.. mereka malah kelihatan udah kenal lama...gue di antara mereka kayak butiran debu." Ucap Acel sedih atau lebih tepatnya galau.
Apolo menatap Acel geli saat melihat wajah memelas Acel yang sangat tidak cocok untuk nya.
"Kamu kenapa Cel?" Tanya Cia yang baru datang membawa dua cangkir teh dan sepiring kue bolu.
"Dia lagi sedih mom, katanya dia di cuekin sama El sama Zia." Ucap Apolo mewakili Acel.
"Eh, El sama Zia udah ketemu?" Tanya Cia terkejut lalu duduk di sofa yang dekat dengan Apolo.
__ADS_1
"Udah. Dan kamu tau mereka akrab banget tau...terus ada yang ngambek gara-gara dicuekin." Ucap Apolo membuat Acel menatap nya tajam.
Cia tersenyum mendengar ucapan suami nya yang membuat Acel kesal.
"Zia tidak berubah." Ucap Cia dan diangguki oleh Apolo dan Acel.
"Oh ya, apa Zia sudah menikah?" Tanya Cia pada Acel.
"Menurut orang ku, Zia belum menikah. Tapi dia memiliki anak." Jawab Acel sembari meletakkan cangkir teh.
"Anak?" Tanya Apolo dan Cia bersamaan dan saling melempar pandangan.
"Hmmm." Jawab Acel santai.
"Jangan bilang..." Ucapan Apolo terhenti saat melihat anggukan kepala Acel.
"Jadi Lo punya anak?" Tanya Apolo menatap Acel terkejut.
"Hmmm. Gue jamin Lo lebih kaget saat tau anak gue." Balas Acel santai.
"Siapa?" Tanya Cia penasaran.
"Emmmm, dia-" ucapan Acel terpotong oleh suara Arlan yang baru pulang.
"Assalamualaikum Mom, Dad. Arlan ganteng pulang." Ucap Arlan teriak.
"Eh, lho pak tua ada disini?" Ucap Arlan dengan tatapan tak suka.
Entalah ada dendam apa Arlan terhadap Acel hingga menatap nya benci. Jika mereka bersama, mereka akan bertengkar dan berdebat seperti saat ini.
"Nggak bakal gue restuin lu sama anak gue." Gumam Acel kesal tapi gumamannya terdengar oleh Apolo dan Cia.
"Ha? Jangan bilang..." Ucap Apolo dan Cia bersamaan dan menatap Acel terkejut.
Acel hanya terkekeh dan mengangguk singkat. Sedangkan Arlan menatap bingung orang tuanya yang berteriak terkejut.
"Mom, dad. Ada apa sih?" Tanya Arlan berjalan mendekat.
"Anak? Istri? Situ halu?" Tanya Arlan tertawa geli melihat sahabat Daddy nya itu berhalu.
Acel menghela nafas dan menatap Arlan datar sebagai isyarat bahwa ia malas berdebat. Arlan memutar bola matanya menanggapi tindakan Acel.
"Arlan. Yang sopan kamu sama yang lebih tua." Tegur Apolo membuat Arlan menatap Daddy nya terheran heran. Pasalnya Daddy nya itu akan diam malah tertawa saat Acel memasang wajah kesal. Tapi, apa ini? Daddy nya membela sahabatnya. Ada apa sebenarnya ini?
Acel berdiri dan berjalan keluar dari rumah mewah milik keluarga Megantara. Sedangkan didalam rumah keluarga Megantara Apolo, Cia, dan Arlan masih diam memperhatikan Acel yang sudah pergi setelah berpamitan tadi.
"Dad, mom?" Ucap Arlan tanpa mengalihkan pandangannya.
Apolo dan Cia menengok ke arah Arlan bersamaan.
"Sebaiknya kalian bawa pak tua itu ke RSJ. Aku kasihan dengannya, dia jadi gila karena jadi perjaka tua." Ucap Arlan tanpa dosa.
"Aukhh!!" Aduh Arlan saat Apolo memukul kepalanya.
"Dad!" Ucap Arlan tak terima.
"Apa?! Kamu tuh kalau ngomong dijaga.. kalau kamu suatu hari nanti kesulitan Daddy nggak mau bantu." Ucap Apolo berlalu pergi.
"Mom, ada apa dengan Daddy? Dia tidak seperti itu sebelumnya." Keluh Arlan pada Cia yang kini sedang mengelus kepala Arlan.
"Jaga bicaramu sayang, tidak baik bicara seperti itu dengan orang yang lebih tua." Ucap Cia lembut memberi penjelasan pada Arlan.
"Iya Mom." Jawab Arlan dengan malas lalu berjalan menuju kamarnya.
Cia menggeleng melihat sikap Arlan seperti itu. Sifat dan sikapnya seperti Apolo. Bapak dan anak tak ada bedanya.
...
Keesokan harinya
__ADS_1
Asha menghela nafas berkali kali guna mereda emosinya yang akan meluap. Pagi-pagi Asha harus menghadapi sikap menyebalkan laki-laki yang mengaku sebagai kakak nya itu. Bagaimana tidak kesal, jika jam 4:00 pagi dibangun kan dan menyuruh Asha memasak karena tak ingin sang bunda memasak dan itu akan membuat sang bunda kelelahan. Ini masih pagi untuk membuat sarapan bukan?! Asha terus mengehela nafas saat melihat El manja dengan sang bunda.
"Asha udah selesai. Bund, Asha berangkat sekolah dulu." Ucap Asha datar.
"El?" Panggil Zia pada El.
"Ya ma?" Jawab El lembut pada Zia.
"Bunda minta tolong anterin adek kamu ke sekolah ya." Ucap Zia lembut pada El.
"Nggak perlu bund, Asha bisa berangkat sendiri." Sahut Asha tak suka.
"Gimana El?" Tanya Zia menghiraukan ucapan Asha.
"Boleh ma, sekalian El mau pamit ke mama buat ambil baju dirumah." Jawab El lalu berdiri.
"Tunggu. Ambil baju? Buat apa?" Tanya Asha bingung.
"Gue bakal tinggal disini sampai mama pulang ke rumah!" Jawab El dengan gaya sok nya.
"Ha? Aku nggak salah denger?!" Ucap Asha dengan nada sedikit meninggi.
"Nggak usah teriak woy! Nggak budek gue!" Balas El sembari memegang kuping nya.
"Bun!" Ucap Asha protes ke Bunda nya.
Zia tersenyum kaku saat melihat tatapan Asha yang berubah padanya, padahal beberapa hari yang lalu tatapan lembut nya kembali tapi kini ia mendapat tatapan datar dan kecewa dari putri nya itu.
Asha keluar rumah tanpa pamit dan disusul El yang mengoceh tidak jelas.
Dalam perjalanan Asha lebih banyak diam, kepalanya berdenyut memikirkan banyak hal yang terjadi padanya.
"Lo mau sampai kapan disini? Nggak sekolah Lo?" Ucapan El membuyarkan lamunan Asha.
Asha menatap ke sekeliling dan mendapati dirinya sudah berada di depan gerbang School Cendrawasih.
Tatapan Asha terhenti oleh sosok laki-laki dengan kacamata bulatnya, meski begitu laki-laki itu terlihat tampan dengan seragam sekolah yang rapi.
"Pacar Lo ya?" Ucap El dengan nada menggoda.
Asha tak menjawab, ia langsung keluar dan berlalu tanpa mengucapkan terimakasih.
"Ck. Adek durhaka! Untung anak mama kalau bukan udah gue buang tuh anak!" Kesal El lalu berlalu pergi.
Kini Asha melangkah menuju kelasnya, sudah banyak murid yang datang, hingga koridor sekolah sedikit ramai.
Langkah Asha terhenti saat ia tak sengaja mendengar pembicaraan siswi yang sedang asyik duduk dan mengobrol dengan teman nya.
"Gue denger-denger kak Vio mau pulang ya?" Ucap siswi dengan rambut sebahu nya.
"Iya, gue liat postingan nya kemarin katanya dia mau balik. Apa karna dia tau ya kak Arlan punya cewek?" Sahut siswi dengan rambut blondenya.
"Gue kasian sama ceweknya kak Arlan yang sekarang. Dia dijadiin alat sama kak Arlan untuk bikin mantan nya balik lagi." Imbuh cewek berambut sebahu.
Asha diam, mencengkram kuat tali tas sekolah nya.
"Lo ngapain disini Sha?" Tanya Ana membuat dua siswi yang tadi bicara menoleh dan menatap Asha terkejut.
"Kak Asha?" Ucap keduanya dengan wajah syok.
Ternyata dua siswi tadi adalah adik kelas Asha. Asha menatap kedua adik kelasnya datar. Ekspresi nya tak menunjukkan apa-apa.
"Ada apa sih? Sans dong Lo berdua. Nggak usah teriak!" Ucap Ana ngegas.
Asha berjalan meninggalkan mereka bertiga, tak menghiraukan teriakan Ana yang memanggil namanya.
Langkah kaki Asha bukan ke kelas, melainkan ke perpustakaan.
"Aku perlu bicara!" Ucap Asha dingin pada sosok yang duduk dihadapan nya.
__ADS_1
Bersambung....