POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 17. Tamu Tak Di undang


__ADS_3

JANLUP VOTE AND KOMEN.


Tatapan datar itu tercetak jelas di wajah Asha saat ia membuka pintu rumahnya di pagi hari. Tak ada senyum ramah, atau ucapan untuk mempersilahkan masuk tamu tak diundang yang datang bertamu di pagi buta. Berbeda dengan Asha, tamu itu menunjukkan senyum hangat dan tatapan lembut untuk Asha.


"Apa yang anda lakukan disini, Tuan Acel!?" Tanya Asha dengan menghela nafas.


"Papa- " ucapan Acel terhenti saat melihat tatapan tajam dari Asha yang langsung menatap nya saat ia menyebut dirinya 'papa'.


Acel tahu, tak seharusnya ia menyebut dirinya 'papa' disaat ia tidak diterima bahkan tidak dianggap sebagai seorang ayah oleh putri nya.


Sungguh hati Acel remuk redam saat tahu bahwa anaknya membenci nya. Tak ada rasa sakit di dunia ini yang lebih menyakitkan saat anak mu tak mau mengakui mu.


Asha mengalihkan pandangan nya menatap kearah lain, tak bisa dipungkiri hatinya menghangat saat sosok didepannya menyebut dirinya 'papa'. Tapi, di sisi hatinya yang terdalam ada rasa kecewa yang begitu besar.


"Siapa say-" suara lembut khas seorang ibu terdengar dari dalam rumah. Namun harus terhenti saat melihat tamu yang datang di pagi hari.


Zia diam menatap tak suka pada sang tamu yang tak lain adalah Acel. Asha diam melirik sang bunda yang berdiri di samping melalui ekor matanya yang sedang menatap AcelĀ  dengan tatapan tak suka.


"Bukan' kah ada baiknya kalau tamu disuruh masuk?" Ucap Acel seperti sindiran lebih tepatnya sindiran halus untuk Asha dan Zia.


Asha melangkah masuk tanpa kata dan duduk di ruang tamu. Meninggalkan dua orang dewasa yang masih adu pandangan.


"Sampai kapan kalian akan bertatapan!?" Tanya Asha datar tanpa menengok yang membuat Zia dan Acel tersadar.


Tanpa diminta Zia menyingkir dan mempersilahkan Acel masuk. Setelah Acel masuk ia menyusul sang putri yang duduk di sofa diruang tamu.


Zia mendengus dan ikut menyusul duduk di sofa singel, yang berada di tengah antara Asha dan Acel.


"Jadi?" Tanya Asha to the point pada Acel yang duduk santai di ruang tamu miliknya.


"Papa bawa sarapan buat kamu, setelah itu papa akan mengantar kamu ke sekolah, nanti pulangnya papa jemput. Setelah itu papa akan ajak ka-"


"Tunggu sebentar...anda, pikir saya setuju?" Tanya Asha dengan satu alis terangkat.


Acel menatap Asha dengan tatapan sakit, tapi ia harus sabar. Demi, meluluhkan hati putrinya ia akan menahan rasa sakit yang tak seberapa ini.


"Izinkan papa menebus segala waktu yang papa lewatkan... papa juga ingin-"


Asha berdiri dari duduknya, hal itu menarik perhatian Acel dan Zia. Asha tak menatap Acel, ia membuang muka tak mau memperlihatkan wajah nya yang sedih. Ia melangkah mengambil tas dan pergi tanpa pamit, meninggal kan dua orang dewasa yang menatap nya sedih.


Asha menghapus air matanya yang dengan lancang keluar tanpa diminta. Hatinya yang sedingin es tiba-tiba luluh oleh perkataan orang yang notabene ayahnya. Ayah yang selama ini selalu Asha rindukan, selalu Asha selipkan di setiap doanya. Harusnya Asha bahagia dia bisa bertemu dengan ayah yang selama ini ia rindu. Tapi situasi nya berbeda, Asha hadir bukan karena dua cinta insang manusia. Asha hadir karena sebuah obsesi yang dimiliki sang ayah terhadap bundanya.


Tangan Asha ditarik kuat hingga tubuhnya berada di pelukan seseorang. Asha mendongak menatap pemilik tubuh yang tengah memeluknya. Segera setelah tau siapa yang memeluknya Asha mendorong tubuh itu.


"Dua kali. Dua kali Lo mau bahaya'in nyawa orang. Kalau Lo mau mati. Nggak gini caranya!" Ucap orang itu dengan nada tinggi yang membuat orang disekitar mereka menatap mereka.


Mungkin mereka akan mengira sepasang remaja sedang bertengkar di pagi hari. Tapi mereka salah, mereka bukan sepasang kekasih. Mereka hanya orang asing yang bertemu karena tidak kesengajaan.


Asha tak menjawab ia menatap datar cowok yang telah menyelamatkan nyawa nya. Hanya kata 'terimakasih' yang mampu Asha ucapan, kemudian berlalu pergi.


"gue nggak terima makasih dari Lo." Ucapan itu mampu membuat langkah Asha terhenti namun tak berbalik.


Hingga tarikan pada tangannya membuat Asha berbalik dan mengikuti orang yang kini menarik tangannya kuat.

__ADS_1


Asha meronta meminta dilepaskan, ia tidak mau terlambat ke sekolah. Saat menatap jam tangannya Asha membulat saat jam menunjukkan pukul 06:50 sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.


"Lepasin!! Aku harus ke sekolah." Ucap Asha ditengah pemberontak'an nya.


"Bolos sekali nggak bikin Lo bodoh kan?" Ucap cowok itu kemudian mendorong tubuh Asha memasuki mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan.


"Aku-"


"Diam! Ikuti apa kata gue." Ucap cowok itu kemudian menutup pintu keras. Membuat Asha yang di dalam mobil terkejut.


"Lo nggak lupa nama gue kan?" Ucap cowo itu kemudian melajukan mobilnya entah kemana.


Asha diam, menatap pemandangan melalui jendela mobil.


"Serius ko lupa nama gue?" Teriak cowok itu heboh.


"El." Satu kata dari Asha membuat cowok itu terdiam.


"El? Nama gue Fazriel Andarjaya. Dari...."


".....Lo ngambil nama gue dari Fazriel Lo singkat jadi El?" Tanya cowok itu tak percaya.


"Hmm." Balas Asha malas.


"Bagus. Gue anggep itu nama spesial dari Lo." Ucap cowok itu yang tak lain Zriel.


Orang yang pernah menyelamatkan nyawa Asha saat Asha hampir tertabrak.


"Halo. Asha? Kamu dimana? Aku jemput kamu. Tapi kata bunda kamu udah pergi tanpa sarapan. Aku ke sekolah kamu nggak ada. Kamu dimana?" Ucap Arlan dengan nada khawatir.


Jantung Asha berdebar kencang saat mendengar suara khawatir Arlan.


"Siapa? Cowok Lo?" Suara Zriel membuat lamunan Asha buyar.


"Kamu dimana? Itu siapa? Itu cowok siapa!? Sharelok, aku kesana sekarang" Ucap Arlan dengan nada yang berganti emosi.


Asha menatap Zriel marah...saat sambung an telepon terputus.


Yang ditatap malah cengengesan dengan wajah tanpa dosanya.


Asha mendapat spam chat dari Arlan yang meminta dia buat sharelok.


Saat Asha baru saja akan sharelok, mobil yang ditumpangi nya berhenti. Membuat Asha mengernyitkan keningnya bingung, saat mobil itu berhenti di gerbang School Cendrawasih.


"Lo sekolah disini kan? Dulu gue juga sekolah disini, tapi gue milih pindah ku Luar Negri." Ucap Zriel sembari keluar dari mobil. Diikuti Asha yang keluar dari mobil.


Asha menatap jam tangannya jam 06:59 menit.


"Ga nanya!" Seru Asha lalu berlari ke arah gerbang.


"Pak tunggu sebentar." Ucap Asha kepada satpam sekolah saat ia melihat satpam itu yang akan menutup gerbang.


"Terimakasih." Ucap Asha lalu berjalan memasuki kawasan sekolah.

__ADS_1


Di depan gerbang Asha disambut oleh Arlan yang menatap nya datar.


"Ka-"


"Ikut aku!" Ucap Arlan lalu menarik tangan Asha.


"Kak Arlan, aku ada jadwal pak Jogi." Ucap Asha menyeimbangi langkah kakinya dengan Arlan.


"Bolos satu pelajaran nggak buat kamu bodoh Asha." Ucap Arlan tanpa menoleh maupun menghentikan langkah nya.


Asha merasa Dejavu saat mendengar ucapan Arlan.


Disini lah mereka sekarang. Di taman belakang sekolah yang jarang dikunjungi orang, kecuali orang-orang yang bernyali besar untuk menghadapi amukan Arlan. Bahkan guru pun tak mau menginjak kan kaki disini.


"Kamu dari mana? Itu tadi suara cowok siapa? " Ucap Arlan datar. Setelah melepas genggaman tangannya.


"Aku tadi lagi dijalan." Jawab Asha dengan nada sedikit lembut.


"Kenapa nggak nungguin aku? Kan aku bilang bakal jemput." Ucap Arlan kesal.


"Maaf.." Asha memilih mengalah agar drama ini segera berakhir.


"Jadinya kamu di godain kan sama cowok lain.. kalau ketemu tuh cowok aku pukul. Berani-beraninya dia godain pacar aku." Ucap Arlan kesal sembari mengepalkan tangannya.


Asha hanya diam, sedetik kemudian dia terkejut saat tubuhnya terhuyung kedepan dan merasakan sebuah pelukan hangat.


"Sha?" Ucap Arlan disela-sela dia memeluk tubuh Asha yang diam mematung karena terkejut.


"Sha?" Ucap Arlan lagi karena tak mendapat respon dari sang empunya tubuh.


"Ha? I-iya?" Ucap Asha gugup.


Arlan terkekeh saat mendengar suara gugup Asha. Gadis dingin itu bisa gugup juga ternyata.


"Denger nggak?" Tanya Arlan yang membuat Asha mengernyitkan keningnya bingung.


Sebab ia tak mendengar suara apapun kecuali.....detak jantung Arlan dan detak jantung nya yang berdetak kencang.


Asha mendorong tubuh Arlan untuk melepas pelukan mereka.


"Kayaknya ada masalah sama jantung Aku deh." Gumam gadis itu pelan.


Namun Arlan mendengar gumaman dari Asha, ia tergelak detik itu juga.


"Apanya yang lucu!?" Ucap Asha datar saat melihat Arlan tertawa keras.


"Kamu lucu." Ucap Arlan sembari mencubit pipi chubby Asha.


Asha merona dan detak jantung nya kembali berdetak kencang.


"Itu tandanya kamu sedang jatuh cinta Asha...Sama seperti ku yang jatuh cinta sama kamu." Ucap Arlan lembut yang mendapat tatapan terkejut dari Asha.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2