POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 7. Seenaknya


__ADS_3

Lupa sama tugas Lo?!" Tanya Arlan dengan nada menahan amarah. Rahang Arlan mengeras, gigi bergemelutuk.


"Aku nggak lupa, tadi ada urusan yang harus- " ucapan Asha terpotong oleh bentakan Arlan.


"Urusan pacaran diperpus! Iya kan?!" Bentak Arlan meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan.


"Kalau iya kenapa?! Jangan mentang - mentang aku terima tawaran kamu buat jadi pelayan kamu! Kamu seenaknya sama aku!" Teriak Asha meluapkan kekesalannya.


Arlan menatap Asha datar dan tajam, rahangnya mengeras, dan terdengar suara gigi yang saling beradu. Sebenarnya Asha takut, tapi ia tidak boleh memperlihatkan ketakutan nya pada laki-laki brandal didepannya ini. Bisa-bisa itu senjata buat laki-laki ini mengancam Asha.


Genggaman pada tangan Asha semakin menguat hal itu membuat Asha menahan ringisannya.


"Kalau dia buat Lo lupa sama tugas Lo....." ucapan Arlan menggantung kemudian menyeringai menatap manik mata Asha yang menatap nya datar, tapi tidak dengan sorot matanya yang memancarkan ketakutan.


"Apa gue suruh bokap gue buat drop out dia aja dari sekolah ini, gimana menurut Lo?" Tanya Arlan ringan tanpa beban.


Asha yang mendengar itu terkejut.


"Mau kamu itu apasih?!" Tanya Asha kesal setengah mati.


"Turutin perkataan gue!" Jawab Arlan melepaskan genggaman tangannya lalu memasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.


Asha menghela nafas panjang untuk meredam emosinya pada laki-laki didepannya ini.


"Aku sama kak Denis nggak ada hubungan apa-apa, kami dipilih sekolah buat ikut olimpiade matematika kak. Aku minta tolong, buat kasih aku waktu untuk belajar. Waktu ku ngga selalu harus ngurusin kamu. " Ucap Asha memberi penjelasan dengan nada putus asa menghadapi sikap Arlan yang seenaknya.


Tapi sedetik kemudian ia mengernyit bingung kenapa dia seolah olah pacar Arlan dan kenapa dia harus menjelaskan hubungannya dengan Denis.


"Gue nggak perduli, tugas Lo itu jadi babu gue." Jawab Arlan membuyarkan lamunan Asha.


Cukup! Udah cukup kesabaran Asha, dengan berani Asha membentak Arlan.


"Dasar cowok manja! Maunya menang sendiri!" Bentak Asha kesal lalu melenggang pergi dari hadapan Arlan yang menatap tak percaya bahwa baru saja adek kelasnya yang dingin, datar, dan cuek bisa bentak-bentak orang juga. Arlan terkekeh pelan mengingat betapa lucunya gadis itu membentaknya.


Arlan melangkah kan kakinya menuju belakang sekolah, ia akan bolos lagi.


Anak tunggal kaya raya pemilik sekolah bebas kan ya.


....


Bel pulang berbunyi 5 menit yang lalu, semua siswa sudah meninggalkan sekolah untuk pulang tapi ada juga yang melakukan aktivitas mereka. Begitu juga Asha. Dia tidak pulang karena ada urusan dengan anak manja yang sedang asik bermain game di hp nya.


Tak selang lama teman - teman Arlan datang ada yang membawa camilan softdrink ada juga yang sedang memakan camilan.

__ADS_1


"Wuihh pak ketu pacaran terus." Seru salah satu teman Arlan.


"Serasi." Ucap yang lain


Dan hal itu dihadiahi tatapan tajam oleh Asha namun berbeda dengan Arlan yang terlihat acuh.


"Ati-ati Cup." Sahut yang lain saat melihat tatapan Asha kepada teman mereka.


Asha berdiri dari duduknya dan hal itu menarik perhatian semua orang yang ada disana.


"Aku pulang!" Ucap Asha datar lalu beranjak pergi.


Namun saat baru beberapa langkah ia berhenti karena suara sang anak manja terdengar di indra pendengaran nya.


"Gue anter pulang!" Ucap Arlan lalu berjalan mendahului Asha


diiringi siulan dan sorakan dari teman-teman Arlan.


Di koridor sekolah sekarang sangat sepi tidak ada seorang pun, bahkan pintu kelas sudah tertutup dengan rapat. Asha dan Arlan berjalan bersama dengan hening.


"Aku bisa pulang sendiri." Ucap Asha tiba-tiba.


"Gue nggak nanya." Jawab Arlan santai.


Entah mengapa kekesalan Asha membuat nya senang. Arlan mengernyitkan dahi bingung lalu mengubah kembali raut wajahnya menjadi datar.


"Nanti malem mommy ngundang ke rumah buat makan malam." Ucap Arlan tiba-tiba saat sudah sampai diparkiran.


"Ngundang siapa?" Tanya Asha polos.


"Lo lah siapa lagi?!" Jawab Arlan kesal, cewek ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.


"Nggak bis- " Ucapan Asha terpotong oleh dorongan Arlan yang mendorong tubuhnya jatuh ke kursi penumpang disebelah kemudi.


Setelah itu Arlan menutup pintu mobil dan berlari menuju kursi kemudi.


"Ak-" lagi lagi suara Arlan menghentikan omongan Asha.


"Pilih nanti malem atau sekarang?!" Tanya Arlan dengan kalimat dan nada mengancam.


"Aku harus ketemu-"


"Ketemu pacar cupu Lo itu?! Iya?!" Tanya Arlan dengan nada naik satu oktaf.

__ADS_1


"Aku ada kepentingan selain ngurusin hidup kamu!!" Ucap Asha sedikit membentak karena kesal.


"Lo juga nggak nyangkal waktu gue bilang mau ketemu pacar cupu Lo itu. Atau emang bener Lo pacaran sama sicu-" ucapan Arlan terpotong oleh teriakan kesal Asha.


"Diam! Kalau pun aku punya hubungan sama kak Denis itu nggak ada sangkut pautnya sama kamu! Si cupu yang kamu maksud itu punya nama! Namanya Denis! Berhenti buat ikut campur masalah pribadi aku! Kita nggak sedekat itu!" Ucap Asha mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


"Udah ngomong nya?!" Tanya Arlan datar.


Asha yang mendengar itu menghela nafas panjang. Percuma dia ngomong panjang kali lebar kalau akhirnya dijawab singkat dan datar. Asha tak menjawab hanya diam sembari melihat keluar jendela mobil Arlan.


Entahlah ada yang aneh dengan perasaan Arlan. Rasanya Arlan kesal dan marah saat Asha dekat dengan laki-laki lain atau membicarakan laki-laki lain.


Hening. Itu lah yang terjadi didalam mobil Arlan. Tidak ada percakapan diantara mereka setelah Asha mengeluarkan unek-unek nya.


Mereka akan berbicara saat Arlan menanyakan arah jalan ke rumah Asha begitu juga Asha akan berbicara ketika Arlan bertanya.


Hingga tak berapa lama mobil Arlan sampai didepan rumah sederhana namun bersih dan asri. Banyak tanaman bunga di halaman depan rumah itu. Satu pohon mangga yang rindang dengan bangku kayu dibawahnya.


"Makasih udah nganterin pulang." Ucap Asha mengalihkan tatapan Arlan dari rumah Asha kepada sang pemilik rumah yang sedang menatap nya dengan datar.


"Nanti jam 7 gue jemput." Ucap Arlan santai.


Asha hanya berdeham kemudian keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah tanpa menengok kebelakang.


'Rasa apa ini?' batin Arlan menatap kosong pada pintu rumah Asha yang sudah tertutup rapat.


Arlan menggeram kesal pada perasaannya yang seperti kehilangan.


Kemudian dia menjalankan mobilnya kembali pergi dari rumah Asha.


...


Disisi lain Asha sedang mengomel sendiri di dalam kamarnya.


"Dasar manusia nyebelin! Seenaknya sendiri! Aaaaaaa! Kesel bgt rasanya!" Ucapnya pada diri sendiri lalu melempar tas sepatu kesembarang tempat.


Tanpa berganti seragam Asha merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.


"Huftt..." Helaan nafas panjang keluar dari bibir mungil Asha.


"Pasti kalau bunda disini aku dimarahin, ngomel-ngomel kayak gini. Sekarang gimana ya keadaan nenek?" Monolog Asha sembari manatap langit-langit kamar.


"Andai tadi pulang lebih awal, pasti seru bisa nonton drakor atau baca novel mumpung nggak ada tugas dari guru. Ini semua gara-gara anak manja itu!" Ucap Asha kembali kesal mengingat kelakuan Arlan yang seenaknya.

__ADS_1


__ADS_2