
JANLUP VOTE AND KOMEN.
.
.
.
Sebulan sudah Asha menjalani hari menjadi kekasih seorang Arlan Megantara. Begitu juga hubungan Asha dengan sang bunda yang sudah mulai membaik, tidak dengan hubungan nya pada sang ayah yang masih tak ada perubahan.Acel masih berusaha untuk mendekatkan diri dan memberi Asha kasih sayang. Asha tak tau harus bersikap bagaimana terhadap orang yang berstatus sebagai ayahnya itu. Bahkan sikapnya terhadap Bunda nya masih sedikit dingin, walau begitu Asha mencoba untuk bersikap seperti biasa kepada sang bunda.
Tak ada yang tau bahwa Asha adalah putri dari pengusaha terkenal di ibu kota. Bahkan sahabat Asha tak tau begitu juga dengan Arlan. Asha diam menyimpan semua masalah keluarga nya sendiri tak ingin membebani orang disekitarnya dengan masalahnya.
Kini Asha berjalan di koridor sekolah yang ramai oleh murid lain dikarenakan jam istirahat. Asha berjalan dengan wajah datar nya tak menghiraukan suara yang tengah menghinanya atau suara bisik-bisik yang terdengar keras seperti disengaja supaya Asha mendengar. Asha bersikap seolah-olah tak mendengar perkataan mereka yang menghinanya, biasanya tidak ada yang berani terang-terangan menghina Asha. Tapi kali ini mereka melakukan nya dikarenakan tidak ada Ana disamping Asha. Ya, Ana akan memaki dan mengancam mereka akan dilaporkan pada Arlan dan ancaman itu berhasil.
Seperti kejadian Minggu lalu..
Beberapa Minggu yang lalu contoh nya. Saat ada siswi yang menghina dan mempermalukan Asha di kantin saat Asha sedang makan bersama Ana. Siswi itu menghina Asha dengan semua kata makian, Asha diam tapi tidak dengan Ana.
"Gue bilangin kak Arlan tau rasa Lo!" Ucap Ana kesal.
"Lo pikir Lo siapa? Kalau Lo lapor terus Arlan bakal belain gitu? Mimpi Lo!" Ucap siswi itu yang diketahui bernama Soraya. Semua tertawa mendengar perkataan unfaedah dari Soraya.
Asha diam tak bersuara sama sekali. Ana sudah termakan oleh emosi jika begini pasti susah disuruh diam. Biasanya Dito yang akan menjadi penenang saat Ana marah. Tapi sayang Dito ada latihan voli untuk lomba Minggu depan hal serupa juga sedang dilakukan Arlan yang sedang latihan basket untuk lomba olahraga antar sekolah yang akan diadakan di stadion.
Singkat cerita, keesokan harinya kantin yang biasanya ramai kini hening. Semua diam menyaksikan pertunjukan yang sedang dilakukan Arlan dan teman-temannya. Arlan dan kawan-kawan membully Soraya dengan menunjukkan sebuah foto Soraya tengah bekerja di sebuah club, bukan sebagai wanita malam tapi sebagai waiters yang mengantar kan minuman kepada pelanggan. Soraya malu, karena dia disekolah berlagak seperti orang kaya tapi nyatanya dia hanya orang sederhana. Soraya tertunduk malu dan mengepalkan tangannya kuat.
Hingga ia mendongak saat mendapati sepasang sepatu dihadapan nya.
Asha menatap datar semua orang dan mengambil foto yang di lempar salah satu teman Arlan. Asha menatap foto itu dan Soraya bergantian.
Soraya menunduk malu saat Asha menatap dirinya.
__ADS_1
"Berdiri." Ucap Asha datar membuat semua yang ada disana terkejut. Berbeda dengan Arlan yang menatap nya datar menyembunyikan senyum yang siap terbit. Arlan tau kekasih nya itu berhati baik, meski dia disakiti dia akan tetap membela selama orang itu tak menyakiti orang yang ia sayangi.
"Berdiri!" Kini nada bicara Asha sedikit menekan setiap katanya.
Soraya berdiri dibantu Asha karena tubuh gadis itu bergetar karena menangis.
"Kalian semua nggak bisa men-judge seseorang karena pekerjaannya. Harusnya kalian malu kak Soraya bekerja untuk sekolah dan uang jajannya sendiri. Sedangkan kalian hanya tinggal meminta dan menghabiskan uang orang tua kalian untuk berfoya-foya, untuk menunjukkan seberapa kaya kalian. Padahal itu uang dan harta orang tua kalian." Ucap Asha yang menatap datar semua penghuni kantin yang sedang menunduk mendengar ucapan Asha.
Hening.
"Disini kalian berteman karena status ekonomi. Jika orang itu miskin kalian tidak mau berteman. Jika kalian kaya semua mendekat untuk berteman." Lanjut Asha diakhir dengan senyum sinis.
Mereka semua terkejut dan merasa tertampar mendengar ucapan Asha. Terkejut karena pertama kali nya Asha berbicara panjang lebar, tertampar karena apa yang dikatakan Asha benar.
Tapi masih aja ada siswi yang tidak suka dengan sikap Asha yang menurut mereka sok pahlawan.
Asha tak peduli mereka mendengar atau tidak tapi Asha hanya sekedar mencoba memberi sedikit pencerahan agar anak-anak sombong itu mendapat hidayah.
Langkah Asha terhenti saat ia tak sengaja melihat Denis kakak kelasnya itu sedang berdiri di pintu kelas menatap dirinya dengan tatapan berbeda. Sedetik kemudian Denis memutuskan tatapan mata mereka dan berlalu pergi menuju perpustakaan.
Asha menghela nafas panjang, sudah biasa hal itu terjadi. Denis akan buang muka setelah menatap dia dengan pandangan seakan akan Denis ingin memberi tahu Asha sesuatu.
Asha tak dapat berbicara kepada Denis karena ada teman Arlan yang selalu disekitar nya. Asha tau itu dan Asha pura-pura tidak tau.
Asha melanjutkan langkahnya hingga ia melewati lapangan basket dan melihat anak-anak basket sedang istirahat. Salah satunya Arlan yang sedang duduk bersama teman-temannya yang lain. Hingga langkah Asha terhenti saat ada salah satu siswi memberi Arlan air mineral dan handuk. Asha tak tau gadis itu kakak kelas, adek kelas atau seangkatan dengan dirinya.
"Maya. Teman kelas Arlan. Mereka dekat." Ucap seseorang tiba-tiba membuat Asha terkejut.
Asha menoleh dan melihat Denis yang sedang menatap lurus kearah Arlan dan kawan-kawan nya.
Kenapa Denis bisa disini? Pertanyaan itu ada di benak Asha tapi Asha tetap diam tak bersuara.
__ADS_1
"Aku minta maaf Sha...aku nggak papa di bully di pukul sama Arlan jika kamu mau putus sama Dia." Ucap Denis yang membuat Asha menatap nya terkejut.
"Dan membuat aku hidup dengan rasa bersalah?" Ucap Asha datar.
"Nggak gi-"
"Jangan buat aku merasa orang paling jahat karena membuat ibu kak Denis nangis khawatir..." Ucap Asha sekilas ia melihat Arlan yang sedang berbicara dengan teman-teman nya. Kemudian Asha berlalu pergi meninggalkan Denis yang menatap nya sedih.
"Gue nggak mau Lo jatuh cinta sama Arlan Sha..." Ucap Denis dalam hati lalu pergi meninggalkan lapangan basket.
Denis marah pada dirinya sendiri, dia punya suatu rahasia yang orang lain tidak ada yang tahu. Rahasia yang tak sengaja Denis tahu. Hal itu membuat Denis tertekan, menyesal dan merasa bersalah.
Entah apa yang dipikirkan Denis hingga mengarang cerita bahwa Arlan dekat dengan Maya yang notabene adalah kekasih Bagas teman se-geng Arlan.
Denis tau Maya datang ke lapangan basket untuk menemui Bagas sembari membawa minum untuk anak basket.
Tadi pagi Denis melihat dan mendengar percakapan Maya dan Bagas bahwa sepasang kekasih itu sedang merayakan dua tahun hubungan mereka. Maya berinisiatif mentraktir anak basket minuman dan makanan.
Denis tak tau apa yang hatinya mau...ia ingin membebaskan Asha dari Arlan karena semua ini ulahnya...tapi ia bingung caranya. Ditambah lagi Denis terkejut saat Asha mengatakan bahwa ibunya menangis karena mengkhawatirkan dirinya.
"Lo liat apa sih Zi?" Tanya Bagas saat memperpegoki Zian sedang menatap tempat yang tadi terdapat Asha dan Denis.
"Bukan apa-apa" ucap Zian kemudian mengalihkan pandangannya menatap Arlan yang sedang fokus pada ponselnya.
Zian diam, ia tak mau terjadi keributan lagi.
"Jangan buat masalah lagi Nis, Sha." Batin Zian.
Bersambung......
Makasih udah mampir...
__ADS_1