
Zia duduk tenang di bangku salah satu restoran terkenal di ibu kota. Sesekali ia melihat jam tangannya dan pintu masuk restoran. Sekitar 30 menit ia duduk di bangku restoran menunggu seseorang yang meminta nya untuk bertemu.
"Kenapa lama sekali." Gerutuan dengan nada pelan keluar dari mulut Zia.
"Maaf telat tadi ada meeting" ucap seseorang yang baru datang dengan pakaian formalnya, yaitu celana bahan warna hitam, kemeja putih dan jas warna hitam dipadukan dengan sepatu fantovel warna hitam mengkilap.
"Langsung aja." Ucap Zia sedikit kesal karena harus menunggu lama.
"Nggak pesen makan atau minum?" Tanya sosok yang duduk didepan Zia.
Zia diam namun matanya melirik gelas yang ada didepannya. Sosok itu mengerti dan memanggil waiters untuk memesan minum untuk dirinya.
Selepas waiters itu pergi Zia segera berbicara.
"Langsung ke intinya aja, Acel!" Ucap Zia dengan nada tak sabaran.
"Aku mau ngenalin Asha sama kakaknya." Ucap sosok didepan Zia yang tak lain adalah Acel.
Zia terkejut, jadi Acel sudah menikah dan memiliki anak. Tapi...tunggu dulu kakak? Jadi... Zia menatap Acel tajam.
"Jadi waktu kamu lakuin hal bejat itu sama aku kamu udah nikah? Kamu sudah mengkhianati istri kamu? " Ucap Zia dengan nada marahnya hingga menarik perhatian beberapa pengunjung.
"Tenang Zia!" Ucap Acel mencoba membuat Zia tenang.
"Kamu nyuruh aku tenang saat-" ucapan Zia terhenti saat waiters tadi mengantarkan pesanan Acel.
"Dengar Zia. Aku belum menikah-"
"Kamu juga lakuin hal bejat ke perempuan lain?!" Sela Zia menatap tak percaya pada Acel yang menghela nafas sabar.
"Aku nggak se brengsek itu Zia. Dengar perkataan aku.. Jangan menyela!" Ucap Acel memperingati Zia di akhir kalimat nya.
Zia diam menatap Acel masih dengan tatapan tajam nya. Acel rasanya ingin tertawa melihat ekspresi dan tatapan dari Zia untuk dirinya.
Zia perempuan yang berhasil merebut hati Acel. Cowok dingin, cuek, dan jahat. Acel jatuh cinta dengan Zia sekali pandang. Tapi sayang Zia dulu pacar orang.
Sadar dirinya melamun Acel berdeham untuk memulai pembicaraan dengan Zia.
"15 tahun yang lalu...kakak ku dan suaminya mengalami kecelakaan. Mereka tak bisa terselamatkan. Saat itu usia anak mereka baru setengah tahun.aku masih ingat betul bagaimana hancur nya mama saat salah satu anak dan menantunya pergi menghadap sang Ilahi. Ditambah mereka meninggalkan anak yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua.." ucap Acel jeda sebentar untuk melihat raut wajah Zia. Dan benar seperti dugaannya Zia akan langsung menangis. Zia nya masih sama, masih cengeng seperti dulu.
"Setelah itu aku dan mama putusan untuk merawat anak yang masih polos tanpa tau apa yang terjadi pada orang tuanya..
Beberapa bulan kemudian mama menyusul papa, kakak dan kakak ipar.. cobaan silih berganti menerpa hidup ku...hingga aku putuskan untuk merawat anak kakak ku disela-sela kesibukan aku kuliah...semua orang tak tau itu...aku merahasiakan nya...hingga aku bertemu dengan mu hingga puncaknya aku memperkosa dirimu.." ucap Acel berhenti guna membasahi tenggorokan nya.
"Apa dia tau kamu bukan orang tuanya?" Tanya Zia pelan setelah membersihkan ingus dan air mata menggunakan sapu tangan yang Acel beri.
"Tau... awalnya dia sedih..tapi kemudian dia bangkit dan semangat untuk satu hal.." ucap Acel membuat tanda tanya dalam benak Zia.
Seolah paham bahwa Zia tak tau apa maksud ucapannya Acel tersenyum dan memperbaiki posisi duduknya.
"Dia menemukan foto seseorang yang ia anggap sebagai mamanya..." Ucap Acel.
"Palingan foto mantan kamu itu." Ucap Zia dengan nada bicara yang terdengar tidak suka.
"Kenapa kamu terdengar cemburu Zia?" Tanya Acel pada Zia yang menatap nya sengit.
"Cemburu? Mimpi!" Balas Zia membuang muka.
"Tap-" ucapan Acel terhenti saat seseorang memeluk Zia dari belakang dengan erat.
"Mama...aku kangen sama mama." Ucap seseorang itu dengan memeluk Zia erat.
Zia terdiam mematung kala seseorang memeluknya erat. Zia menatap Acel meminta penjelasan tapi malah di balas dengan kedikan bahu oleh Acel.
__ADS_1
"Duduk El." Ucap Acel kepada orang yang memeluk Zia.
Sosok itu diam tak bergerak atau menjawab, tubuhnya masih memeluk tubuh kaku Zia.
"Namanya Fazriel Andarjaya, anak ku dan...kamu " ucap Acel membuat Zia menatap tak percaya pada Acel.
Bagaimana bisa sosok yang tengah memeluknya itu anaknya?! Ia hanya melahirkan Asha.
"Ma?" Ucapan El terdengar lirih ditelinga Zia. ( Aku panggil Fazriel dengan nama El aja ya biar nggak ribet ).
Zia menoleh dengan kaku, menatap manik mata hitam pekat milik El. Zia menelan ludah nya kasar tenggorokan nya kering seperti belum minum seharian.
"Mama nggak kangen El? Mama kemana aja" Tanya El menatap Zia dengan sorot mata akan kerinduan dan sedih.
"Bunda...bun-" ucapan Zia terpotong oleh Acel yang meminta El untuk duduk di kursi.
"Nggak mau pa..nanti mama pergi lagi.." ucap El tanpa melihat ke arah Acel.
"Bunda nggak akan kemana-mana..El duduk ya di kursi." Ucap Zia lembut mencoba mengurai pelukan El pada tubuhnya.
" Nanti Mama pergi ninggalin El." Ucap El lirih dan kembali memeluk Zia erat.
"Bunda nggak akan kemana-mana" balas Zia sembari mengusap rambut El lembut.
Dengan bujukan Zia El mau duduk di kursi dengan tangan yang masih memegang tangan Zia erat seolah olah takut jika ia lepaskan wanita disampingnya itu akan pergi meninggalkan dirinya.
Acel diam menatap anaknya yang kini duduk disamping Zia tangannya menggenggam tangan Zia erat.
"Mama kemana aja selama ini? Ko nggak pernah pulang temuin El sama papa?" Tanya El yang membuat Zia diam tak tau harus berkata apa.
"El kan tau mama marah sama papa." Bukan Zia yang menjawab tapi Acel.
"Papa buat mama marah ya sampai lama banget nggak pulang?" Tanya El lagi.
"Iya..." Ucap Zia membuat El menegakkan badannya dan menatap Acel tajam.
Acel menatap El dan Zia bergantian kemudian membuang nafas nya kasar. Harusnya Acel tidak menjawab seperti tadi. Harusnya Acel diam dan membiarkan Zia yang menjawab.
"Mama mu saja yang kabur dan bersembunyi dari papa." Balas Acel kesal saat anaknya hanya menyalahkan dirinya.
"Kok kamu nyalain aku?" Kini Zia ikut masuk dalam perdebatan anak dan bapak satu ini.
"Iya. Ko papa nyalain mama?" Ucap El membela Zia.
Acel kembali menghembuskan nafas panjangnya untuk menetralkan emosi nya.
"Papa kan cuma mau buatin kamu adek. Jadi papa ngga salah dong!" Sewot Acel karena ga mau disalahkan.
Zia dan El terdiam begitu juga dengan pengunjung restoran yang lain, hingga bisik-bisik terdengar diselingi tawa kecil dari pengunjung restoran.
Zia menatap Acel tajam dan mendebat Acel dengan segala cacian dalam hatinya, tidak mungkin ia mencaci dengan kasar di depan banyak orang.
Perdebatan keluarga kecil itu menjadi tontonan gratis pengunjung restoran yang mulai ramai oleh pengunjung.
...
Selepas perdebatan tadi yang tentunya dimenangkan oleh Zia dan El. Kini mereka berada di luar restoran hendak pulang.
"Ayo ma sama El aja." Ucap El sembari menggandeng tangan Zia lembut.
Namun baru beberapa langkah Zia berhenti berjalan membuat dua laki-laki beda umur itu juga ikut berhenti.
"Bunda... Bunda pulang kerumah bunda dan kamu pulang sama papa kamu aja." Ucap Zia sedikit pelan takut menyakiti hati El.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya El sedih.
Zia bingung mau menjawab apa ia menatap Acel yang malah membuang muka seolah tak mendengar perkataan sedih El. Balas dendam karena kalah berdebat.ck.
Dengan segera Zia mendekati El dan memeluk nya.
"Nanti kalau bunda ikut El pulang, adek El gimana dirumah? Nanti dia nyariin bunda." Ucap Zia memberi penjelasan pada El.
Entalah, Zia merasa sayang pada El saat pertama kali melihat El. Sorot mata yang menatap dirinya dengan cinta yang tulus, penuh kerinduan dan kesedihan dalam satu tatapan membuat dirinya sayang.
Dan sejak saat pertama kali Zia dipanggil El mama Zia mau menerima El sebagai anaknya tapi tidak dengan bapaknya.
"Adek?" Tanya El membuat Zia sadar dari lamunannya.
Zia tersenyum dan mengangguk kala mendapati sorot mata bahagia dari El.
"El mau ketemu adik El ma." Ucap El seperti anak kecil yang mendapat adik baru.
Acel tersenyum melihat interaksi El dengan Zia. Dalam hati ia bersyukur Zia tak membenci El sama seperti Zia membenci dirinya. Acel tak buta hingga tak bisa membedakan tatapan mata Zia dan Asha yang masih membenci. Tapi tak apa Acel masih bersyukur Zia memperbolehkan dirinya bertemu Asha dan memberikan Asha kasih sayang seorang ayah walau mendapatkan respon yang tidak baik dari Asha yang masih dingin dan formal terhadap nya.
"Kamu nginep dirumah Mama aja gimana?" Itu bukan Zia tapi Acel yang memberikan ide kepada El dan langsung disetujui nya. Zia juga terlihat tak keberatan saat Acel mengusulkan ide itu.
Kini Zia dan El berpisah dengan Acel yang harus kembali ke kantor sedangkan Zia dan El pulang kerumah Zia.
"Ma, adek El cewek apa cowok? " Tanya El saat diperjalanan pulang.
" Cewek, beda satu setengah tahun dari kamu. " Ucap Zia sembari tersenyum.
"Berarti sekarang dia kelas XI dong?" Lagi El bertanya dengan antusias tentang adiknya.
"Iya..El sekolah dimana?" Tanya Zia kembali.
"El sekolah di London ma." Jawab El dengan senyum yang tak pernah luntur di bibirnya.
Zia hanya mengangguk dan tersenyum saat mendengar jawaban El.
"Adek El sekolah dimana?" Tanya El lagi.
"Di School Cendrawasih." Jawab Zia masih setia menjawab setiap pertanyaan El.
"Wah..El dulu juga sekolah disana ma..tapi El pindah." Ucap El seperti anak kecil.
"Kenapa El pindah?" Tanya Zia memiringkan kepalanya.
"Ada masalah dikit ma...hehehe" jawab El dengan tawa garing di akhir kalimat.
"Ini rumah mama?" Tanya El saat mobilnya berhenti di depan rumah sederhana.
"Iya...ayo turun." Ucap Zia lalu turun diikuti El.
"Maaf ya rumah bunda nggak semewah rumah papa kamu." Ucap Zia setelah masuk kedalam rumah.
El memeluk Zia dari belakang dan menyandarkan dagunya dipundak Zia. Awalnya Zia risih karena ia jarang berinteraksi bahkan kontak fisik dengan laki-laki lain tapi ia berusaha untuk terbiasa demi El.
"El nggak papa ko tinggal dimana aja asal mama nggak pergi ninggalin El." Ucap El lirih.
Zia mengelus tangan El yang ada diperut nya.
"Adek El kapan pulang ma?" Tanya El tak sabar bertemu dengan adiknya.
Belum Zia jawab suara didepan pintu membuat kedua orang yang tengah berpelukkan itu berbalik.
"LO!!" "KAMU?!!"
__ADS_1
Bersambung......
Makasih udah mampir ya😚