
JANGAN LUPA VOTE AND KOMEN.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Asha dan Denis kini siap mengikuti olimpiade matematika di Bandung untuk mewakili sekolah mereka.
Kini Denis lebih menjaga jarak dengan Asha. Mereka hanya mengobrol jika perlu saja.
Masih terdapat samar-samar tanda lebam di wajah Denis. Asha menatap Denis yang sedang fokus pada hp nya. Hingga sebuah suara dengan nada ketus terdengar jelas ditelinga Asha.
"Liatin aja terus! Tapi jangan salahin gue kalau dia terluka." Ucap orang itu sembari menatap Asha marah.
Asha tak menjawab dia hanya melengos dan menatap sekitar.
"Lu masih inget kan kata-kata gue di UKS?!" Tanya orang itu yang mampu menarik perhatian Asha padanya.
Asha menatap orang disampingnya dengan ekspresi datar tapi sorot matanya memancarkan kebencian.
Asha tau apa maksud orang tersebut.
...
_flasback_
"Kakak yakin tidak mau ke rumah sakit?" Tanya Ana khawatir.
"Ga perlu, gue gapapa." Jawab Denis sambil menyentuh luka lebamnya.
Hingga beberapa saat hening.
"Em, kita belum kenalan. Gue Denis. Kalian?" Ucap Denis memecahkan keheningan.
"Ana dan ini Dito. Kita temennya Asha." Ucap Ana
"To-" ucapan Denis terhenti saat ada yang membuka pintu UKS.
Terlihat sosok gadis imut dengan ekspresi datar memasuki UKS.
"Asha?" Ucap Ana dan Dito saat melihat temannya itu datang.
Berbeda dengan Denis yang lebih memilih diam dan melihat ke arah lantai.
"Bagaimana?" Tanya Asha singkat.
Denis melihat Asha kemudian menunduk lagi saat melihat tatapan Asha yang memancarkan rasa marah, kesal, tapi ekspresi datar.
"Hanya luka kecil." Ucap Denis pelan.
Asha diam kemudian mendekat kearah Denis dan menekan luka Denis yang membuat sang empu meringis kesakitan.
"Luka kecil?" Tanya Asha datar.
"I-" ucapan Denis terpotong oleh suara pintu yang dibuka dengan kasar dan terlihat sosok devil berwajah dewa Yunani.
"Hebat. Ditinggal bentar udah selingkuh aja." Ucap orang itu yang tak lain adalah Artan.
Semua terdiam dengan dua ekspresi, takut dan datar.
Ekspresi Takut ditampilkan Denis dan Ana dan ekspresi datar yang ditampilkan Asha dan Dito.
"Apa yang tadi nggak cukup?!" Tanya Arlan dengan wajah datar bercampur emosi.
"Aku hanya melihat ke-" ucapan Asha terpotong oleh suara Arlan.
"Siapa yang ngizinin Lo nemuin dia?!" Tanya Arlan marah.
"Aku-" lagi-lagi ucapan Asha terhenti kali ini oleh tarikan Arlan .
"Gue peringatin Lo Asha Kavilla. Jangan pernah dekat dengan laki-laki lain selain gue, dan keluarga Lo. Atau orang itu akan terluka bahkan MATI. " ucap Arlan tegas dan serius hingga membuat semua yang ada di UKS menatap nya ngeri.
"Jangan anggap ini ancaman karena gue bakal buktik'in kata-kata gue!" Lanjut Asha kemudian menarik Asha keluar UKS meninggal kan Denis , Ana, dan Dito.
"Gila anjir!" Gumam Ana disambut anggukan Dito dan Denis.
...
Sekitar 2 jam lebih rombongan School Cendrawasih melakukan perjalanan Jakarta-Bandung.
Tepat pukul 10:30 Asha dan rombongan tiba di Bandung. Kini mereka menuju hotel tempat mereka menginap, dikarenakan lomba akan dimulai besok.
"Asha?" Teriak seseorang memanggil Asha yang akan memasuki lobi hotel.
Asha, Denis, pak Darto dan Bu Melly berhenti dan melihat ke arah orang yang memanggil Asha. Terlihat sosok laki-laki muda dengan pakaian formal terlihat sangat tampan dengan kulit putih bersih.
Sesampainya didepan Asha laki-laki itu memeluk Asha erat seolah olah mereka lama tak jumpa.
"Kakak kangen kamu. Kamu nggak telfon kakak" ucap laki-laki itu melepas pelukannya.
"Asha juga kangen sama kak Mario." Balas Asha dengan senyum tipis.
"Oh ya kak, kenalin ini guru dan teman Asha. Ini pak Darto dan ibu Melly guru Asha. Kalau ini kak Denis kakak kelas Asha sekaligus patner lomba aku." Lanjut Asha setelah melepas pelukan mereka, Asha memperkenalkan kakaknya dengan guru dan kakak kelasnya.
"Mario. Saya kakaknya Asha." ucap Mario menjabat tangan pak Darto, Bu Melly dan Denis. Raut wajah ketiganya terkejut. Namun tak ayal mereka membalas jabatan tangan Mario.
"Saya tidak tahu Asha memiliki kakak." Ucap Bu Melly dengan nada hati-hati.
"Saya tinggal di Bandung, Bu." Balas Mario ramah, lalu pandangan nya beralih pada Asha.
__ADS_1
"Kamu disini lomba?" Tanya Mario
Asha hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Nggak berubah." Ucap Mario bangga kepada adiknya.
"Lalu kapan lombanya?" Tanya Mario lagi.
"Lombanya besok kak, makanya kami menginap di hotel ini" jawab Asha mewakili.
"Bagus. Kakak akan pesan kan kamar dan pelayanan yang bagus buat kamu dan yang lainnya" ucap Mario.
"Tidak perlu nak Mario. Kami sudah-" Ucap pak Darto merasa tak enak hati harus terhenti karena Mario menyela.
"Tidak papa pak. Ini hotel sahabat saya dan adik kesayangan saya menginap disini jadi harus nyaman." Ucap Mario mencoba membujuk.
"Ayo kalian pasti butuh istirahat." Ucap Mario kemudian membawa Asha dan rombongan ke resepsionis.
"Apa bapak sepemikiran dengan saya?" Bisik Bu Melly pelan yang jalan di samping pak Darto.
Pak Darto mengangguk dan menatap bagaimana sikap Asha berubah saat bersamaan dengan laki-laki yang notabenenya adalah kakaknya.
Selesai chek in mereka pergi ke kamar masing-masing yang sudah dipesankan oleh Mario.
Mario mengantar Asha ke kamarnya sekaligus untuk mengobrol dengan adik kesayangannya itu.
"Kamu jarang hubungi kakak kenapa? Terus jarang pulang ke Bandung. Bunda aja pulang sebulan 2-3 kali tapi kamu nggak ikut. Kenapa? " Tanya Mario dengan nada dibuat kesal.
Asha tersenyum kecil lalu duduk disamping Mario.
"Asha takut ganggu kakak kerja. Asha kan harus sekolah. Bunda kan jaga nenek yang sakit." Jawab Asha.
"Kamu nggak ganggu kakak dek. Seenggaknya kirim pesan ke kakak biar kakak nggak khawatir sama kamu." Ucap Mario membantah alasan Asha.
"Iya. Mulai sekarang Asha bakal kirim pesen ke kakak sampai kakak bosen" ucap Asha dengan tawa kecil.
"Kakak nggak akan pernah bosen sama adik kakak ini" ucap Mario sembari mencubit pipi Asha dengan gemas.
"Kakak ko bisa di sini?" Tanya Asha.
"Kakak ada kerjaan disini" jawab Mario kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Oh ya dek. Mumpung kamu disini gimana kalau kita jalan-jalan ke kota Bandung. Lomba kamu masih besok kan?" Ucap Mario
Asha mengangguk kemudian mereka berdua pergi setelah meminta izin sekaligus pamit dengan pak Darto dan Bu Melly.
...
Mario dan Asha menikmati waktu berdua hingga memasuki waktu makan siang dan kini mereka berada di sebuah rumah mewah dikawasan perumahan elit.
Tak ada jawaban dari Asha. Hingga mobil yang ditumpangi Mario dan Asha memasuki pelataran rumah tersebut.
"Tuh udah ditunggu" ucap Mario dengan senyum menawan nya.
Asha keluar terlebih dahulu diikuti oleh Mario.
"Putri mama" ucap seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda.
Tubuh Asha dipeluk erat oleh wanita itu.
"Mama kangen sama kamu. Semenjak kamu pindah ke Jakarta kamu jarang ke sini." Ucap mama Mario dengan nada dan raut wajah yang dibuat sedih.
"Asha kan disana sekolah ma." Jawab Asha lembut dan dibalas dengan anggukan kecil dari mana Mario.
"Kamu di Bandung berapa hari?" Tanya mama Mario sembari membawa Asha masuk ke dalam rumah.
"Besok sore setelah lomba Asha kembali ke Jakarta ma." Jawab Asha.
"Kamu baliknya bareng kak Mario aja ya, nginep disini. Mama kangen sama kamu." Ucap mama Mario dengan nada membujuk.
"Ma, kan Asha harus sekolah." Sahut Mario yang duduk di sofa singel .
"Bisa minta cuti kan? Mama kangen sama anak mama. Rumah sepi sekarang. Papa kamu sibuk kerja, kamu kerjanya di ibu kota, nenek kamu ada di rumah sakit. Mama kesepian di rumah sendirian." Keluh mama Mario dengan ekspresi sedih.
"Mama kan bisa nemenin Bunda jaga nenek." Jawab Mario memberi pengertian kepada mamanya yang merajuk.
Asha hanya tersenyum kecil melihat perdebatan antara ibu dan anak didepannya ini.
Hanya didepan keluarga nya Asha menunjukkan sisi hangatnya. Papa Mario adalah kakak dari Bunda Asha. Sebenarnya Bunda Asha memiliki satu lagi kakak perempuan akan tetapi Tante Asha ini tidak begitu menyukai nya dan Bunda nya entah karena apa.
Meski ia memiliki keluarga yang kaya tapi Bunda Asha tidak pernah mau merepotkan keluarga nya itu. Ia bekerja keras untuk menyekolahkan dan membahagiakan Asha.
Bunda Asha lebih memilih hidup sederhana.
...
Pukul 18:00 Asha kembali ke hotel diantar oleh Mario dan mama Mario.
"Kamu istirahat ya sayang, pasti capek seharian jalan-jalan sama kak Mario." Ucap mama Mario sembari memeluk hangat Asha.
"Salam buat nenek dan Bunda ya ma. Besok Asha sempetin mampir sebelum kembali ke Jakarta." Ucap Asha melepas pelukannya.
"Iya. Good night dear. Sleep well and nice dream." Ucap mama Mario kemudian meninggalkan Asha yang menatap kepergian mereka.
Setelah mobil Mario tak terlihat lagi Asha kembali ke kamarnya.
__ADS_1
...
Keesokan harinya
Suasana ramai mendominasi di salah satu sekolah negeri yang ada di Bandung.
Peserta lomba dari berbagai sekolah kini mulai berdatangan dengan rombongan mereka.
Begitu juga dengan rombongan School Cendrawasih yang sudah tiba sejak pukul 07:00. Lomba akan di mulai pukul 07:30 masih ada waktu setengah jam lagi untuk mempersiapkan keperluan lomba.
"Semangat untuk kalian. Lakukan yang terbaik untuk sekolah kita. Bagaimana pun hasilnya bapak akan tetap bangga dengan kalian." ucap pak Darto.
Asha dan Denis mengangguk tegas. Sembari menunggu Asha dan Denis membaca lagi materi dan contoh soal yang diberi pak Darto dan Bu Melly.
+- 1,5 jam lomba di laksanakan dengan lancar kini tinggal menunggu hasil pengumuman.
"Juara ketiga olimpiade matematika adalah SMA Garuda. Di mohon peserta dari SMA Garuda maju ke depan. Untuk juara kedua jatuh kepada High School Cendana. Di mohon peserta dari High School Cendana maju ke depan. Untuk juara pertama olimpiade matematika jatuh kepada School Cendrawasih. Mohon maju ke depan perwakilan dari School Cendrawasih. Beri tepuk tangan untuk juara kita tahun ini." Ucap MC dengan ceria dan disambut tepuk tangan meriah dari semuanya.
Selesai memberi piala dan penghargaan rombongan School Cendrawasih memutuskan untuk makan siang dan kembali ke hotel untuk chek out nanti sore.
Saat akan memasuki hotel langkah Asha terhenti oleh panggilan seseorang yang ia kenal.
"Kak Mario?" Ucap Asha.
"Maaf kakak nggak bisa datang. Kakak bangga sama kamu." Ucap Mario memeluk Asha saat melihat piala yang dipegang oleh Denis.
"Nggak papa kak." Balas Asha sembari melepas pelukannya.
"Asha..." Ucap Mario.
Asha, Denis, pak Darto, dan Bu Melly menatap Mario yang menunduk sedih.
Asha dapat melihat jelas raut kesedihan di wajah kakaknya dan ada nada ragu saat sang kakak memanggil namanya.
"Ada apa kak?" Ucap Asha dengan perasaan was-was, entah mengapa perasaannya tidak enak.
Bukannya menjawab Mario malah memeluk erat tubuh Asha.
"Nenek udah nggak ada." Empat kata yang diucapkan Mario mampu membuat tubuh Asha mematung.
Pak Darto, Bu Melly dan Denis terkejut mendengar penuturan Mario.
"Apa yang terjadi kak?" Tanya Asha dengan nada lirih.
"Semalem nenek baik-baik aja tapi tadi pagi nenek kritis dan dokter menyatakan nenek meninggal." Ucap Mario
"Asha pengen kesana kak." Ucap Asha lirih dengan air mata yang sudah mengalir.
Asha dan Mario diikuti oleh pak Darto, Bu Melly dan Denis menuju ke rumah duka.
Hingga tiba di rumah Mario yang sudah terlihat ramai oleh pelayat. Asha hampir terjatuh saat berlari memasuki rumah.
Berbeda dengan pak Darto, Bu Melly, dan Denis yang saling pandang dengan raut wajah terkejut yang ketara. Suara Mario yang mengarah kan mereka masuk membuat ketiganya sadar.
"Nenek.." Ucap Asha lirih saat melihat jenazah sang nenek.
"Asha" ucap Bunda Asha saat melihat sang putri.
Asha dipeluk erat oleh sang Bunda diikuti oleh sang mama.
"Asha yang kuat ya.." ucap mama Mario lembut membelai rambut Asha.
Asha hanya diam tanpa ekspresi tatapan mata nya kosong menatap ke arah jenasah sang nenek.
Nenek yang berjasa merawatnya dari kecil menyayangi nya tanpa membeda-bedakan cucunya yang selalu membela nya. Kini ia melihat sang nenek yang sudah satu tahun lebih tidak bertemu dengannya tertidur pulas dengan balutan kain kafan.
Kenangan bersama sang nenek berputar dalam ingatan Asha. Hingga tetes demi tetes air mata Asha turun membasahi pipinya.
...
Awan yang mendung dengan rintik hujan mengiringi kepergian nenek Asha. kini pemakaman di salah satu TPU Bandung ramai oleh pelayat yang mengantar kan nenek Asha ke peristirahatan terakhir nya.
Selesai proses pemakaman pelayat satu persatu pergi. Tinggal keluarga Asha yang ada disana.
"Asha?" Panggil pak Darto .
Asha mendekati pak Darto dengan wajah datar tetapi terdapat bekas air mata disana.
"Saya mewakili School Cendrawasih mengucapkan turut berduka atas kepergian nenek kamu. Kamu yang tabah ya." Ucap pak Darto lembut.
"Terimakasih pak." Ucap Asha dengan senyum tipis.
"Kamu yang tabah ya nak" ucap Bu Melly sembari memeluk Asha.
Asha mengangguk dan mengucapkan terimakasih dalam pelukan Bu Melly.
"Kamu yang tabah ya Sha." Ucap Denis.
Asha mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban atas ucapan Denis.
"Soal ijin kamu nanti bapak yang akan urus semuanya." Ucap pak Darto.
"Sekali lagi terimakasih Pak. Maaf merepotkan bapak." Ucap Asha tak enak hati.
"Tidak papa, kami tau keadaan kamu sekarang. Kalau begitu kami pamit dulu. Salam untuk keluarga kamu" ucap pak Darto kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Bersambung...