POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 14. Masa Lalu Zia


__ADS_3

Part Khusus CIA, Zia, Acel, dan Apolo


Cia memasuki rumahnya dengan senyum bahagia. Ia tak menyangka akan menemukan orang yang bertahun-tahun lamanya ia cari. Istilah dunia sesempit daun kelor memang benar adanya.


"Apa yang membuat mommy senang?" Tanya Apolo yang memasuki dapur dengan style yang masih memakai pakaian kantor.


"Daddy udah pulang?" Tanya Cia menghiraukan pertanyaan sang suami.


"mom?" Ucap Apolo dengan nada peringatan.


"Aku menemukan dia Dad.." ucap Cia semangat dan wajah bahagia.


"Dia?" Tanya Apolo bingung.


"Iya. Fazia Safitri. Temen kuliah kita dulu." Ucap Cia bahagian.


Apolo terdiam beberapa saat kemudian menatap sang istri.


"Mommy nggak salah liat kan?" Tanya Apolo memastikan.


"Enggaklah Dad..udah aku pastikan." Ucap Cia yakin.


"Aku ganti baju dulu." Ucap Apolo.


"Dad?" Panggil Cia saat Apolo akan beranjak pergi. Apolo menatap sang istri dengan satu alis diangkat.


"Apa kamu akan memberitahu Acel?" Tanya Cia.


Apolo langsung terkejut mendengar pertanyaan Cia. Dengan segera ia memutar tubuhnya kembali menuju ruang tamu. Terlambat. Orang yang diharapkan tidak mendengar kan pembicaraan nya dengan sang istri telah berdiri dengan wajah datar dan dingin.


"Acel?!" ucap Apolo dan Cia bersamaan.


"Dimana dia?!" Tanya Acel menghiraukan tatapan terkejut dari kedua sahabatnya.


Baik Apolo atau Cia sama-sama bungkam.


"Kalian tidak mau memberi tahu aku?!" Ucap Acel geram.


"Bu..." Ucapan Apolo terpotong oleh suara dingin Acel.


"Kalau begitu katakan!"


"Cia?!" Panggil Acel pada orang yang bersangkutan.


Cia diam dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Apolo yang melihat istrinya ketakutan menatap sahabatnya tajam. Sedangkan Acel yang di tatap begitu oleh Apolo membalas tak kalah tajam.


"Aku tunggu di ruang kerja mu. Berikan aku jawabannya atau kau akan melihat aku menggila!" Ucap Acel lalu berlalu pergi menuju salah satu ruangan yang ada dirumah itu.


Apolo mengajak Cia ke kamarnya. Rasa kesal terhadap sang sahabat sedang menyelimuti hati Apolo melihat istrinya ketakutan.


"Kamu duduk disini dulu aku mau ganti pakaian dulu." Pinta Apolo terhadap Cia.


Cia menurut dan duduk di sofa yang ada dikamar nya. Tak lama kemudian Apolo kembali dan gabung dengan sang istri yang masih menunduk gelisah.


"Tenanglah. Acel tidak akan menyakiti keluarga kita." Ucap Apolo menenangkan istri nya.


"Bagaimana jika dia menyakiti Zia kalau ketemu?" Tanya Cia khawatir.


Apolo terdiam. Ia tahu sifat pemaksa sahabatnya itu. Sifatnya 11 12 dengannya. Apa yang diinginkan harus di dapatkan.


Apolo menghela nafas panjang. Kemudian memeluk istrinya.


"Sekejam-kejam Acel... Aku yakin dia tidak akan menyakiti orang yang dicintainya." Ucap Apolo memberi pengertian kepada Cia.


"Jadi?" Lanjut Apolo menatap Cia.


"Dia pemilik toko kue Aszia..." Cia menceritakan semua bagaimana dia bisa bertemu dengan Zia.


"Kamu istirahat ya. Aku ada kerjaan dengan Acel." Ucap Apolo kepada Cia. Cia mengangguk dan mulai istirahat.


...


Ruang kerja


Saat memasuki ruang kerja Apolo mendapatkan tatapan tajam dari Acel yang lama menunggu nya.


"Dia memiliki toko kue." Ucap Apolo setelah duduk di sofa.


"Aszia cake" lanjut Apolo.


"Aszia?" Ucap Acel.


"Hmmm. Menurut informasi yang aku dapat. Dia belum menikah sampai sekarang." Ucap Apolo sembari meminum teh yang mulai dingin.


Acel tersenyum devil sedetik kemudian ekspresi nya berubah marah.


"Jika bukan karna pelayan sialan itu. Wanita ku masih ada bersama ku." Ucap Acel dengan tangan terkepal.


"Cih. Belum tentu kalau Zia mau sama situ." Gumam Apolo langsung mendapat tatapan tajam dari Acel.


"Apa?" Tanya Apolo dengan wajah tanpa dosanya.Tak menghiraukan perkataan Apolo, Acel beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" Tanya Apolo ikut berdiri.

__ADS_1


"Menemui wanita ku." Jawab Acel santai.


"Hey. Kau tidak bisa pergi kita akan membahas masalah serius!!" Teriak Apolo karena Acel tidak mendengarkan nya.


"Sekretaris ku akan mengurus segalanya." Ucap Acel acuh tak acuh.


"Acel bang**t !!!" Maki Apolo kesal.


Menyesal ia telah memberi tahu Acel keberadaan Zia.


...


Toko Aszia Cake


Mobil Acel berhenti di sebrang jalan toko kue milik Zia. Ia menatap toko itu dengan pandangan datar. Banyak pengunjung yang datang untuk membeli kue disana.


Lama memandangi toko tersebut, hingga sosok yang dikenali keluar dari toko dengan membawa sekotak kue.


"Ikuti dia!" Ucap Acel memerintah supirnya.


Dengan segera sang supir melajukan mobilnya mengikuti orang yang di maksud oleh tuannya itu.


Mobil Acel berhenti di pinggir jalan saat orang yang diikuti juga berhenti. Terlihat orang itu dikerumuni oleh anak-anak jalanan. Mereka mencari tempat meneduh untuk duduk dan orang yang diikuti Acel membagi kan kue yang dibawa nya kepada anak-anak jalanan.


"Masih sama." Ucap Acel dalam hati.


Acel keluar dari mobil untuk mendekati orang itu.


"Terimakasih bunda." Ucap anak-anak itu setelah mendapat kue dan berlalu pergi.


Sosok yang di panggil bunda tersenyum untuk membalas ucapan anak-anak jalanan itu. Tanpa menyadari ada orang dibelakang nya yang sedang tersenyum licik.


"Lama tidak berjumpa Zia." Ucap Acel


Zia. Ya sosok yang di panggil bunda adalah Zia.


Merasa namanya dipanggil Zia menoleh dan mendapati orang yang dihindari nya selama bertahun-tahun kini berdiri dihadapannya dengan senyum devil nya.


Kotak kue yang sudah kosong terjatuh dari tangan Zia.


"A..Acel?" gagap Zia.


Tubuhnya membeku seperti patung. Otaknya memerintahkan nya untuk lari, tetapi tubuhnya tak bisa bergerak seinci pun.


"Bagaimana kabar mu? Seperti nya kamu baik-baik saja." Ucap Acel melihat Zia dari atas sampai bawah.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki Zia berbalik dan hendak pergi. Tapi sayang seribu sayang, niat hanya tinggal niat. Karena seorang Acel tidak akan pernah membiarkan apa yang sudah ia klaim miliknya pergi dengan mudah.


Acel mencekal tangan Zia kuat saat Zia memberontak.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan tuan. Saya tidak kenal anda." Ucap Zia terus berusaha melepaskan cekalan tangan Acel.


"Benarkah? Apa kau lupa dengan orang yang membuat mu tidak perawan lagi?" Tanya Acel frontal.


Zia memandang Acel benci. Kilasan masa lalu berputar di otak Zia.


Bagaimana breng*ek nya laki-laki dihadapannya ini telah mengambil mahkota nya. Telah merusak masa depan Zia. Membunuh orang yang dicintai Zia. Semua itu berputar dalam ingatan Zia seperti kaset.


"Tidak!!" Teriak Zia. Hingga membuat beberapa pengguna jalan menatap Acel dan Zia.


Acel yang mulai merasakan situasi tidak baik membawa Zia ke mobilnya. Tapi tidak semudah itu karena Zia terus memberontak.


"Diam dan ikuti aku Zia!! Atau kamu akan merasakan hal yang sama terjadi sama kamu saat kamu memberontak!" Ucap Acel dengan nada mengancam.


"Lepas!!" Teriak Zia.


Setelah berhasil memasukkan Zia ke mobil Acel meminta supir untuk kembali kerumah.


"Tidak. Aku tidak mau kerumah mu!" Teriak Zia takut.


"Kalau begitu diam! Aku ingin bicara dengan mu." Ucap Acel.


"Tidak ada yang per..." Ucapan Zia terpotong oleh bentakan Acel.


"Ada Zia. Dimana anak ku?!" Ucap Acel dengan nada tinggi membuat Zia dan sang supir terlonjak kaget.


Sang supir mengelus dada karena terkejut. Bersyukur ia belum melajukan mobilnya.


Sedangkan Zia diam dengan kepala menunduk. Pikiran negatif bermunculan dalam otaknya. Bagaimana jika laki² ini mengambil anaknya? Bagaimana jika dia dipisahkan dengan anaknya?


"Aku tanya Zia. Dimana anak ku?!" Ucap Acel penuh penekanan.


"Anak apa?! Apa kau sedang bermimpi?!" Ucap Zia menekan rasa takutnya.


"Kau pikir bisa membohongi aku? Sebelum aku menemui mu aku sudah pastikan semua tentang mu selama kamu menghilang." Ucap Acel dengan senyum miring nya saat melihat wajah tegang Zia. Sebenarnya Acel belum mencari tau tentang kehidupan Zia selama menghilang. Dia hanya menggertak Zia, melihat respon Zia membuat Acel yakin bahwa Zia melahirkan anaknya.


"Dia sudah mati!" Ucap Zia asal.


"Jangan berbohong Zia!" Teriak Acel murka.


Zia menunduk semakin dalam tak ingin melihat wajah marah Acel. Kini, Acel menghela nafas panjang untuk meredam emosi nya. Hingga tawa kecil dari Acel membuat Zia menatap nya takut. Itu tawa jahat. Zia mengenal sangat baik tawa itu, pasti ada rencana jahat dalam otak Acel.


"Baiklah..mari kita iklhas kan anak kita yang sudah tenang disana.." ucap Acel lembut.

__ADS_1


Tangannya mengelus rambut Zia lembut dan penuh kasih sayang.


"Bagaimana kalau kita membuat lagi?" Ucap Acel ambigu.


Zia menatap Acel terkejut. Kemudian ia menggeleng dengan kuat.


"Tidak!" Teriak Zia memberontak.


"Kita pulang!" Ucap Acel di pada sang supir yang langsung dijalankan.


Zia terus memberontak dan berusaha membuka pintu mobil.


Setelah melakukan perjalanan yang penuh dengan teriakan dan pemberontak an dari Zia. Kini mereka tiba di rumah yang lebih pantas disebut istana.


Acel menarik Zia keluar dari mobil dengan kasar dan menyeretnya memasuki rumah. Di dalam rumah berbaris para pelayan yang menyambut tuan rumah.Tanpa menghiraukan teriak kan dan pemberontak an Zia, Acel terus menyeret Zia menuju kamar utama rumah tersebut.


Dengan kasar Acel melempar tubuh Zia ke tempat tidur. Tak lupa Acel mengunci pintu.


"Kamu tidak bisa melakukan ini Acel!" Teriak Zia menghindari Acel.


"Sudah cukup aku bersabar Zia. Sejak kau memutuskan pergi menghilang dari hidup ku." Balas Acel datar.


"Kau yang membuat aku pergi Acel! Kau membunuh kekasih ku dan memperkosa ku!" Teriak Zia sembari menangis.


"Kau membunuh orang yang kucintai. Kau merusak masa depan ku. Kita teman bukan? Lalu kenapa kau melakukan itu pada ku?" Ucap Zia lirih sembari memeluk tubuhnya sendiri.


Acel mendekat dan memeluk Zia erat. Meskipun Zia memberontak tapi Acel tetap tak melepaskan nya.


"Bukan aku yang membunuh dia Zia. Bukan aku. Dia meninggal karena kesalahannya sendiri." Ucap Acel memberi penjelasan kepada Zia.


Zia mendorong tubuh Acel kuat, hingga Acel mundur beberapa langkah.


"Kau mengatakan itu untuk membela diri mu bukan?! Kesalahan apa yang diperbuat oleh Bram hingga hukuman nya adalah kematian?" Ucap Zia tak terima.


"Kenapa diam? Apa tiba-tiba menjadi bisu heh?" Ucap Zia meluapkan emosi nya.


"Apa tidak..." Ucapan Zia terhenti karena ucapan Acel.


"Dia membunuh Marsalia." Ucap Acel datar dan dingin.


Zia menatap Acel tak percaya. Kekasihnya tidak mungkin melakukan itu. Acel pasti berbohong padanya. Marsalia meninggal karena bunuh diri.


"Marsalia tidak meninggal karena bunuh diri, Zia. Dia dibunuh oleh Bram. Kau bisa tanya kan itu pada Apolo dan Cia. Kalau kau masih tidak percaya Apolo memiliki buktinya." Ucap Acel memberi penjelasan.


Zia terduduk syok mendengar kenyataan yang baru ia dapat. Kenyataan tentang orang yang selama ini ia cintai.


"Kenapa?" Tanya Zia menatap kosong pada lantai.


"Marsalia mengandung anak Bram, akan tetapi Bram tidak ingin tanggung jawab. Hingga suatu hari Bram datang ke kost Marsalia untuk mengantar makanan yang sudah diberikan racun. Polisi yang menyelidiki kasus itu tau dan ia bermaksud menangkap Bram. Tapi Bram kabur dan mengalami kecelakaan." Ucap Acel ikut terduduk di depan Zia.


Lalu kenapa kau melakukan hal bejat itu padaku?" Ucap Zia lirih menatap Acel dengan pandangan tak terbaca.


"Maafkan aku Zia. Aku...aku...aku putus asa. Saat pertama kali Marsalia mengenalkan kamu pada ku, aku jatuh cinta padamu. Tapi kenyataan menampar ku dengan cepat. Kamu memiliki seorang kekasih. Aku mencoba mengikhlaskan mu." Ucapan Acel terhenti kemudian ia menatap Zia yang masih menatap nya.


"Tapi suatu hari tanpa sengaja aku mendengar dan melihat bahwa Bram kekasih mu selingkuh dengan sahabat mu sendiri yaitu Marsalia." Lanjut Acel.


"Selama kita berkumpul aku memendam rasa marah karena mereka bersikap tak bersalah pada mu. Mereka membodohi mu. Aku mencoba memberi tahu pada mu. Tapi kamu tak pernah percaya. Saat aku mengirim foto² perselingkuhan Bram dan Marsalia, kau tak percaya. Kau acuh, hingga aku marah dan melakukan itu pada mu. Itu cara ku agar kau tak di sakiti oleh Bram lagi. Tapi aku sadar cara ku salah Zia. Maaf kan aku." Ucap Acel menunduk dan meminta maaf.


"Aku ingin pulang." Ucap Zia lirih lalu berusaha berdiri.


Acel ikut berdiri, saat akan membantu Zia berdiri wanita itu menghindar.


Acel mengalah kali ini. Mungkin wanitanya butuh waktu untuk menenangkan diri saat tahu kenyataan yang menyakitkan tentang orang yang dicintai nya.


"Biar supir ku yang mengantar mu." Ucap Acel sembari melihat Zia yang menghapus air mata nya yang terus mengalir.


Zia jalan keluar dari kamar yang diyakini milik Acel.Diikuti Acel yang berjalan dibelakangnya.


"Antar kan dia sampai rumah." Ucap Acel datar pada sang supir.


Zia diam tak berkata sepatah kata pun. Hingga mobil meninggal kan rumah besar itu.


...


Kini Asha duduk dengan gelisah di depan rumah menunggu sang bunda yang tak kunjung pulang. Saat menelepon pegawai toko, mereka mengatakan bahwa sang bunda sudah pulang dari sejam yang lalu. Ponsel sang bunda juga tidak bisa dihubungi. Rasa cemas Asha semakin menggila. Saat akan pergi mencari bundanya Asha melihat orang yang tengah dikhawatirkan datang dengan wajah sembab sehabis menangis.


"Bunda? Bunda kenapa? Ada yang jahatin bunda dijalan? Atau ada yang sakit?" Tanya Asha khawatir.


Sang bunda tersenyum melihat wajah khawatir sang putri. Air matanya menetes kembali, mengingat jika ia akan dipisahkan dengan buah hatinya.


"Bun?" Ucap Asha lalu menuntun sang bunda masuk kedalam.


Asha memberi segelas air kepada sang bunda.


"Bunda cerita sama Asha. Bunda kenapa?" Tanya Asha saat dirasa sang bunda mulai tenang.


"Bunda tidak papa sayang. Hanya saja bunda tadi bertemu teman lama dijalan. Banyak hal yang kami bicarakan, hingga ada satu cerita yang membuat bunda sedih." Ucap sang bunda memberi penjelasan.


Asha menatap sang bunda mencari kebohongan dimata sang bunda yang juga sedang menatap nya.


"Bunda istirahat ya. Biar Asha yang masak." Ucap Asha.


Selepas kepergian sang bunda ke kamar. Kini Asha berkutat di dapur untuk memasak makan malam mereka.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2