
JANLUP VOTE AND KOMEN.
Seantero 'School Cendrawasih' dibuat geger oleh berita bahwa Prince cendrawasih berpacaran dengan si kutu buku yang dingin.
Asha berjalan dengan wajah datar di koridor sekolah yang ramai oleh siswa-siswi yang menikmati jam istirahat. Banyak tatapan tertuju untuk Asha, mulai dari tatapan benci, sinis, iri, dan biasa saja.
Ana yang berjalan disamping Asha terlihat risih oleh tatapan yang diberikan siswa-siswi School Cendrawasih kepada sahabat nya.
"Huffttt" Ana menghembuskan nafas lega saat ia sampai di perpustakaan.
Sedangkan Asha hanya diam sembari mendekati rak buku yang diperlukan nya.
"Sha, yang dibi-" Ucapan Ana terhenti oleh perkataan Asha yang datar.
"Bohong!"
"Kalau itu bohong, terus apa motivasi kak Arlan bicara seperti itu?" Ucap Ana penasaran.
Asha duduk di salah satu kursi yang ada di perpustakaan.
Disusul Ana yang duduk di kursi yang berada di depan Asha.
"Dia pasti punya rencana."
Ucap Asha datar sembari membuka buku.
"Asha?" Ucap suara bass yang Asha kenal.
Asha dan Ana menoleh ke sumber suara dan mendapati Denis patner olimpiade matematika.
"Ada apa kak?" Tanya Asha
"Ini aku mau ngasih beberapa contoh soal buat lomba." Jawab Denis sembari menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Asha.
"Heem, nanti aku coba pelajari." Jawab Asha sembari membolak balikan kertas yang diberi Denis.
Setelah itu Denis berlalu pergi meninggalkan Ana dan Asha yang masih duduk nyaman di kursi perpustakaan.
...
Seminggu sudah Asha menjadi pelayan 'Tuan Manja' Arlan. Selama itu juga Asha harus menyediakan stok sabar menghadapi sikap Arlan yang semena-mena dengannya. Ditambah rumor bahwa mereka-Arlan dan Asha berpacaran.
Asha mendapatkan beberapa hinaan dan bully dari fans Arlan. Entah sang idola tau atau tidak Asha tidak peduli. Ia sudah cukup senang karena terbebas dari Arlan sang otoriter.
Saat ini Asha sedang berada di perpustakaan bersama dengan Denis membahas masalah olimpiade yang akan dilaksanakan Minggu depan di Bandung. Kampung halaman Asha.
"Oh ya Sha, yang ini kamu udah mempelajari nya kan?" Tanya Denis sembari menunjukkan kertas yang terdapat banyak angka dan garis.
"Udah. Tapi bag-" Ucapan Asha terpotong oleh suara datar dan dingin seseorang.
"Perpustakaan buat membaca bukan tempat buat selingkuh." Ucap seseorang itu dengan intonasi datar.
Asha menghela nafas lelah, kesal, emosi, entalah rasanya campur aduk menjadi satu. Asha menatap ke belakang disana ada Arlan dan teman-temannya yang kini menatapnya tajam.
"Kalau semisal ini pakai rumus ini bisa nggak kak?" Tanya Asha kepada Denis dan mengabaikan perkataan Arlan.
Arlan yang merasa diabaikan mulai emosi dengan sengaja ia menendang bangku yang diduduki Denis hingga jatuh.
"Kak Arlan!" Seru Asha marah dan bangkit untuk menolong Denis. Belum sempat Asha mendekat tangannya sudah di cekal erat oleh Arlan ditarik mundur beberapa langkah. Digantikan oleh teman-teman Arlan yang ikut bersama Arlan.
Tanpa perasaan teman-teman Arlan menendang tubuh Denis.
"Berhenti!! Aku bilang berhenti!" Teriak Asha khawatir terhadap kondisi Denis.
"Semakin kamu mengkhawatirkan dan membela dia. Maka dia akan semakin sakit." Ucap Arlan dingin.
"Apa salah kak Denis sampai kakak nyakitin dia?!" Tanya Asha marah.
"Dia nggak salah yang salah kamu!! Kesalahan kamu udah buat aku jatuh cinta!!" Ucap Arlan.
Asha terdiam begitu juga yang lainnya. Asha menatap Arlan dengan pandangan tak terbaca.
"Ini nggak lucu kak!" Ucap Asha datar.
"Aku nggak bercanda ataupun ngelucu Sha." Sahut Arlan menatap manik mata Asha.
__ADS_1
Asha melepas paksa cekalan tangannya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Arlan dan yang lainnya di perpustakaan.
Asha berjalan di koridor yang sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Asha mendapat dispensasi dari sekolah untuk tidak ikut pembelajaran karena mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba.
Asha berjalan dengan wajah datar menuju tangga rooftop sekolah.
Saat sampai di rooftop Asha disambut oleh angin sepoi-sepoi. Asha melangkah mendekati pagar pembatas dan berdiri menatap halaman luas School Cendrawasih. Banyak murid yang sedang mengikuti pembelajaran olahraga.
'Kesalahan kamu adalah membuat aku jatuh cinta sama kamu.'
Ucapan Arlan teriang- iang dipikiran Asha. Asha mencengkram erat pagar pembatas hingga jari-jarinya memutih.
Hingga nada dering ponsel Asha mengalihkan perhatian nya.
'Bunda'
nama sang penelepon.
"Assalamualaikum Bun" ucap Asha lembut
"......"
"Iya Bun"
" .... "
"Wa'alaikumsalam." Ucap Asha kemudian mengembalikan ponselnya ke saku.
Asha diam menatap sekitar dengan pandangan datar.
Tak lama suara bel istirahat terdengar.
Asha turun dari rooftop dan melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang mulai ramai oleh siswa-siswi school Cendrawasih.
Kini Asha berdiri didepan pintu masuk perpustakaan. Ia menghela nafas pelan kemudian masuk menuju meja yang ia gunakan untuk belajar dengan Denis.
Disana ada Denis yang duduk dengan wajah lebam, baju kusut, dan kotor bekas sepatu.
"Kenapa ga ke UKS?" Ucap Asha datar yang mendapat respon terkejut dari Denis.
"Ayo" ucap Asha tanpa menghiraukan ucapan Denis.
"Ayo? Kemana?" Tanya Denis bingung.
"UKS." Jawab Asha lalu menarik tangan Denis keluar dari perpustakaan.
Sepanjang koridor menuju UKS Asha dan Denis mendapat berbagai macam tatapan dari siswa-siswi lainnya.
Hingga langkah Asha terhenti karena orang yang berdiri didepannya sedang menatapnya dengan raut wajah marah.
Asha terdiam menatap orang itu dengan pandangan datar. Sedangkan Denis yang berada dibelakang Asha berusaha melepas pegangan tangan Asha pada tangannya. Asha menatap Denis datar saat tangannya terlepas dari tangan Denis.
"Ke-" belum sempat Asha bertanya dia sudah ditarik dengan kasar oleh seseorang.
"Kak Denis?!" Teriak Asha terkejut saat melihat Denis dipukuli oleh beberapa orang.
"Lepas! Lepas kak! Kak Arlan!" Ucap Asha emosi.
"Kak, berhenti! Siapapun tolong !" Teriak Asha kebingungan saat orang-orang hanya melihat tanpa menolong Denis.
"Kak. Aku mohon berhenti." Ucap Asha memohon kepada Arlan.
Namun diabaikan oleh Arlan. Genggaman tangan Arlan pada Asha semakin erat saat Asha berusaha memberontak.
"Apa yang kakak mau?!" Teriak Asha frustasi melihat keadaan Denis yang babak belur.
"Kamu." Ucap Arlan dingin dan datar.
Asha terdiam menatap Arlan tanpa ekspresi. Terdengar suuara erangan kesakitan dari Denis membuat Asha mengalihkan pandangan nya.
"Kak Denis. Berhenti!!" Teriak Asha saat melihat tangan Denis diinjak dengan kasar.
"Berhenti!" Teriak Asha hingga membuat semua terdiam dan menatap nya.
Asha melihat Denis yang kesakitan dengan beberapa luka diwajah dan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku... Mau jadi pacar kak Arlan." Ucap Asha dengan berat hati dan ekspresi tak terbaca.
Asha dapat melihat perubahan ekspresi wajah Arlan yang lebih bahagia.
Asha melihat ke arah Denis yang melihatnya dengan tatapan bersalah.
Hingga tatapan itu beralih menatap wajah datar Arlan.
"Aku nggak suka pacar ku menatap laki-laki lain." Ucap Arlan datar.
"Satu lagi panggil nama ku tanpa embel-embel kak! Seperti awal kita kenal." Lanjut Arlan karena tak suka mendengar panggilan Asha terhadap nya.
Asha membuang muka kearah lain disana ia melihat kedua temannya Ana dan Dito yang menatap nya tak berbeda dari tatapan Denis.
"Apa dengan cara ini kamu bahagia memiliki aku? Dengan cara kasar seperti ini kamu puas?!" Ucap Asha dengan wajah datar dan intonasi dingin.
"Ya. Bahkan jika aku harus menggunakan cara kotor sekalipun agar kamu jadi milik aku. Aku akan melakukan itu." Ucap Arlan tegas.
"Ini hanya obsesi kak Arlan. Kakak nggak bener-" ucapan Asha terputus oleh suara guru yang datang.
"Ada apa ini?" Ucap seorang guru dengan kumis tebal dan badan tinggi kurus.
"Arlan? Buat ulah apa lagi kamu?!" Ucap guru itu dengan ekspresi galak.
"Pak Jogi nggak liat? Saya nggak ngapa-ngapain. Saya lagi diskusi sama pacar saya." Ucap Arlan dengan santai.
"Pacar? Emang ada yang mau sama kamu?" Tanya pak Jogi tak percaya.
"Nih, buktinya ada didepan saya." Ucap Arlan sembari merangkul Asha.
"Asha? Kok mau-maunya kamu sama bocah ini?" Tanya pak Jogi tak percaya.
Asha hanya diam tanpa ekspresi. Ia menatap Denis yang masih diam meringkuk kesakitan dilantai. Dengan kasar Asha melepas rangkulan Arlan dan mendekati Denis. Namun, belum sempat menolong Denis suara Arlan menghentikan aktivitas Asha.
"Jangan salahkan aku jika besok dia tidak diterima lagi di school Cendrawasih." Ucap Arlan datar dan dingin.
Asha menatap Arlan datar, kemudian menatap kedua temannya dan diangguki Ana dan Dito.
Asha melihat Denis sebentar kemudian berlalu pergi meninggalkan kerumunan.
Arlan ingin mengejar Asha tapi terhenti oleh suara galak pak Jogi.
"Arlan dan kalian Ikut bapak ke ruang BK dan bagi anak PMR tolong bantu temen kalian ini." ucap pak Jogi tidak bisa dibantah sembari menyuruh anak PMR membantu Denis.
"Biar saya dan teman saya yang bantu kak Denis pak." Ucap Dito diangguki Ana.
"Cih. Cari muka" ucap salah satu teman Arlan kemudian berlalu menuju ruang BK bersama yang lainnya.
Semua orang-orang membubarkan diri masing-masing kini tersisa Denis, Ana, dan Dito.
"Ayo kak, kami bantu ke UKS." Ucap Ana .
...
UKS
''shhhh''
Suara ringisan kesakitan terdengar di ruang UKS.
"Sudah selesai." Ucap penjaga UKS yang mengobati Denis.
"Terimakasih" ucap Denis, Ana, dan Dito bersama.
"Kakak yakin tidak mau ke rumah sakit?" Tanya Ana khawatir.
"Tidak perlu. Gue gapapa. " Ucap Denis dengan senyum samar.
Hingga beberapa saat hening.
"Em, kita belum kenalan. Gue Denis." Ucap Denis memecahkan keheningan.
"Ana dan ini Dito. Kita temen nya Asha." Ucap Ana
"To-" ucapan Denis terhenti saat ada yang membuka pintu UKS.
__ADS_1
Bersambung.......