
Akhirnya dia bisa satu kamar lagi dengan Julian sudah satu minggu dari tiba disini
dirinya tidur di kamar sendiri dan ia merasa aneh sekali ia mau menyelinap
tidur ke kamar Julian namun ia harus menahan diri. Dan sekarang kemenangan
berpihak pada dirinya.
“Kak, Ayok kakak harus mandi dahulu biar Julian bantu,” ucap Julian.
Arga hanya menuruti Julian yang membersihkan
dirinya dengan guyuran air yang sahi tubuhnya. Selesai dirinya membersihkan
diri Julian segera memakaikan pakain Arga denga cepat mengeringkan rambut Arga
lalu segera menuju meja makan yang sudah ada makanan yang tersedia.
Mereka
muali makan dengan suasana dia satu piring berdua di mana Julian yang menyuapi
Arga dan dirinya. Usai makan mereka
pergi beristirahat ke kamar Julian sudah berbaring di samping Arga yang tentu
ada batal guling sebagai pembatas mereka. Kerana Julian tidak bisa membiarkan
Arga di kamarnya sendiri dia sangat ke takutan berarti selama satu minggu Arga
tidur sendirian dia pasti sangat ke takutan sekali Julian merasa bersalah
jadinya.
Setelah berbaring tak terasa matanya sudah
mengantuk lambat larut dirinya tertidur sedangkan Arga yang masih miring ke
kanan-kiri untuk mencari posisi nyaman untuk tidur. Arga melihat Julian sudah
tidur dengan perlahan dia minggirin batal guling pembatas antaranya dengan
Julian. Dia menggeser tubuhnya ke dekat Julian dan tak menyisakan jarak
sedikit pun.
Arga memandangi wajah cantik, mulus, dan hidung maNcung Julian dengan kagum dalam
hatinya. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Julian dan
menempelkan bibirnya di bibir Julian dengan mengucup sekilas bibir itu. lalu
dia membaringkan tubuhnya di samping Julian sambil memeluk erat Julian sama
sekali Julian tak terusik sama sekali.
Pagi telah tiba Julian sudah bangun dari tidurnya ia melihat tangan Arga di atas
__ADS_1
perutnya dan Arga tertidur dengan pulasnya. Ia menyingkirkan tangan Arga dari perutnya dan
bergegas ke kamar mandi karena hari ini dia akan Mos untuk MABA .
Dengan secepat kilat dirinya mandi dan bersiap-siap ke kampusnya ia rasa sudah siap
dia berlari ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil makanan untuk Arga dan
meletakkannya di kamar dia. Nanti Arga gak susah mencari makanannya.
Dengan nafas ngos-ngosan Julian sampai di gerbang kampusnya itu, ia sangat takut
sekali terlambat di hari pertama dia MOS dengan cepat dirinya masak dan menuju
aula yang di sediakan oleh senior –senior untuk MABA Julian mencari tempat
duduknya akhirnya dia duduk di bagian
tengah.
Semua sudah berada di aula dan senior- senior sudah mulai mengambil posisi masing-
masing sesuai dengan instruksi yang telah di berikan oleh senior yang di depan.
“Selamat pagi semua, pada hari ini kita akan melaksanakan Masa Pekerkenalan Kampus( MPK)
jadi di saat MPK nanti berlangsung di harapkan semua mengikuti sesuai dengan
instruksi yang telah di berikan oleh
panitia atau senior- senior yang bertugas.”
“Bagus sekarang kita akan mulai dari perkenalan para sinor- senior yang
bertanggung jawab hari ini tapi dengan cara kalian akan mendatangi senior dan meminta tanda tangannya kami akan membagikan lembaran nama senior yang bertugas bagi kolom yang ada harus di isi
sesuai dengan banyak senior. Apa kalian semua paham dengan apa yang di
sampaikan?”
“Kami
paham,” balas mereka.
“oke
setelah dapat semua tanda tangan yang saya suruh tadi, harap di kumpulakan ke
dalam kotak yang ada di samping itu. lalu selanjutnya kalian akan di kasih satu
lagi satu lembar kertas yang sama seperti yang kalian pegang, namun di sana
hanya tertera nama Arlan Wijaya.”
Begitulah perintah dari Senior tersebut yang
di ketahui namanya Jaya.
__ADS_1
Semua sudah mulai bergerak untuk mencari, meminta tandatangan para senior- senior tersebut
juga termasuk Julian... satu jam telah berlalu akhirnya tinggal satu nama yang
mesti dia cari dan mendapatkan tanda tangannya, Julian memberi semangat pada
dirinya agar bisa tetap semangat.
“Permisi kak, perkenalkan Nama saya Julian Axial. Apa kakak yang bernama Renobarc?”
tanya Julian dengan Sopan pada pria yang tampak sombong itu.
Namun pria itu hanya menatap acuh saja Julian tetap sabar saat ia menunggu jawaban
dari seniornya itu namun tak kunjung di jawab.
Lalu Julian sudah merasa marah dengan
perlakuan senior itu dengan santainya dia melewati senior tersebut lalu dia menuju ke kotak
yang ada di pinggir aula di sana dan memasukan lembaran kertas miliknya itu.
Setelah itu di maju ke depan untuk mengambil lembaran kertas terakhir atas nama Arlan Wijaya. Julian mulai mendekati seniornya yang ada di depan sana itu senior satu- satunya yang belum dia temui
dia berharap itu yang bernama Arlan Wijaya.
“Permisi kak, perkenalkan Nama saya Julian Axial. Apa kakak yang bernama Arlan Wijaya?”
“..........” senior itu masih diam menatap Julian.
“Apa kakak yang bernama Arlan Wijaya?” tanya dia sekali lagi pada pria itu.
“Iya,” jawabnya dengan ketus.
“Apa boleh saya minta tanda tangan kakak?” tanyanya.
“Boleh tapi ada syaratnya!” ucap Arlan.
“Apa syaratnya kak?”
Arlan mendekat ke arah Julian lalu”Tidur sama gue!” ucap Arlan di depan Julian.
“Haaa... emang ada itu ya, syaratnya,” jawab Julian.
“Itu Syaratnya kalau lo mau dapat tanda tangan gue.”
“OW..kalau begitu saya tidak jadi de minta tanda tangan sama kakak, dasar senior bajingan,”
ucap Julian Ketus.
“Itu kalau kamu mau tanda tanganku!”
“Tidak akan pernah mau, gak papa saya gak dapat tanda tangan dari Anda ternyata Anda
sangat murahan sekali! Berarti setiap anak cewek yang minta tangan Anda akan
tidur dengan Anda! Sungguh menjijikkan Anda kakak, kayak piala bergilir saja,”
__ADS_1
ucap julian lalu pergi dari hadapan Arlan.