
Setelah Arga menulis surat itu dirinya segera pergi dari Apartment tersebut menuju rumah miliknya. Sebelum dia pergi dirinya sudah membeli dan membangun sebuah rumah bagaikan istana. Dan sekarang dirinya akan pergi kesana walau hatinya sangat berat meninggalkan sang wanita yang di cintainya, namun dirinya harus melakukan itu
untuk membalas semua apa yang telah di lakukan saudaranya ibunya dan dia tidak mau melibatkan sang wanita tercintanya itu.
Keluar dari Apartment dirinya sudah di jemput oleh orang kepercayaannya yang juga
sudah membantu dirinya.
“Pagi bos,” sapa Kevin pada Arga.
“Pagi juga, sekarang kita harus segera berangkat.”
“Iya bos, mari masuk kedalam.”
“kevin bagaimana dengan cabang- cabang perusahaan yang sudah kita mabil ahli?”
tanya Arga.
“Saat ini berkembang dengan pesat bos, semua juga berjalan sesuai dengan ke inginan
bos.”
“Kevin tolong kamu cari lahan yang bekisanan 20 heter untuk membangun restoran!” titah
Arga.
“Baik bos, aku akan segera mencarinya bis, kalau boleh tahu bos juga akan bangun
restora?” tanya Kevin.
__ADS_1
“untuk gadisku, Julian Anggaraini! Kamu beli atas nama gadisku itu!” Perintah Arga.
“Baik bos,” balas kevin.
Kemudian Kevin fokus menyetir di depan dan begitu juga dengan Arga yang fokus dengan ponselnya.
“Kevin kau siapkan beberapa bodyguard untuk mengawasi gadis ku.di saat dia di laur termaksud di kampus juga.”
“Baik bos.”
“Jangan lupa kau kirimkan kepada ku data- data bodygurd itu.”
40 menit kemudian Arga sudah samapi di rumah dia yang bagaikan istana tersebut, lalu ia segera turun dari mobil berjalan mask ke dalam rumah itu. para bodygurdy dan pelayan di rumah itu berkumpul menyambut kedatangan dirinya di sana.
Arga masuk dan membalas semua sapaan mereka hanya dengan senyuman lalu dia segera
masuk menuju kamar yang di desain khusus untuknya.
dengan Julian di dinding kamarnya itu.
Dia melangkahkan kakinya untuk mendekati dinding itu lalu mengakat kedua tangannya
untuk mengelus lukisan itu.
Sedangkan di kampus saat ini Julian sedang di hadang oleh Jaya sebab dirinya mengerjain senior tersebut.
“Kamu mau kemana?” ketus Jaya.
“Maaf kakak saya harus masuk ke kelas , soalnya sebentar lagi masuk kak dan dosennya gak ijin terlambat kakak!” ucap Julian dengan lembut.
__ADS_1
“Gak peduli aku, yang penting kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan!”
“emang apa yang saya lakukan kakak, kan tidak membahayakan nyawa manusia.”
“kamu masih mengelak saat kamu sudah jelas- jelas salah.”
“bukan begitu kakak, tapi aku minta maaf ya kakak, aku harus ke kelas segera ,” mohon
Julian namun tasnya di tarik Jaya.
“enak saja kamu biarin kamu di hukum , itu balasannya bagi kamu.”
“Kak, kakak kan baik, ganteng, dan coll dan pemaaf,” puji Julian.
“kamu mau loby saya!” ketus JAYA.
“Gak kok kakak, aku bicara ke nyataan kok.”
“Jangan ngeles kamu,” ucap Jaya.
Julian kesal dengan Jaya yang menghalangi dirinya masuk menuju kelas. Jaya yang senang bisa mengerjain MABA itu tersenyum girang, namun semua di luar dugaan dirinya jika yang di ganggunya itu sedang
marah. Karena terdesak Julian menendang ke dua kaki Jaya saat itu dan melemparkan Jaya di atas lantai licin tersebut, hal itu sontak membuat semua mata melihat ke arah dia.
Karena ini kejadian langkah terjadi apalagi berurusan dengan senior mereka pasti akan takut. Namun hari ini mereka di perlihatkan bagaimana seorang senior yang tak berdaya di atas lanatai saat ini.
“Enak makan itu lantai,” ucap Julian dengan marah pada Jaya yang sudah menatapnya
bagaikan mata harimau yang mau menerkam mangsa.
__ADS_1
“Awas kamu MABA aku ku bikin perhitungan dengan kamu.”
Bisik- bisik di sana terjadi akan kejadian langkah itu.