
keesokan hari raka pergi ke makam ayahnya.
...----------------...
"Ayah!! Raka sedih kenapa paman sejahat itu dengan raka ayah? Apa salah raka kepaman dan bibi ayah?" jerit raka sambil menangis di makam ayahnya.
"ayah apa kah raka bisa sekolah ayah? kenapa paman dan bibi suar tidak mengizinkan raka sekolah? yah raka ingin jadi tentara yah" jerit raka lagi.
Tapi masih sepi di makam itu hanya ada raka seorang diri, tidak ada satupun yang menjawabnya.
Raka menangis lebih kencang lagi sambil menyesali dirinya, tak lama kemudian dunia sudah mulai gelap. Raka yang seharian menangis di makam ayahnya pun kini pulang ke rumah.
saat sampai di rumah....
bibi suar duduk di samping pintu menyambut datangnya raka, wajah bibi suar terlihat bahagia dan semringah.
"bibi kamu pasti sangat puas sudah merenggut semuanya dari aku, aku benci kamu bibi kejam"batin raka sambil menatap Bibinya sinis.
"kamu baru pulang raka?" tanya bibi suar menyambut raka sambil memandangi kukunya yang panjang itu.
sayang bocah malang itu hanya diam dan menatap bibinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kamu dari mana saja seharian menghilang?" tanya bibi suar lagi dengan nada marah karena raka tidak menjawabnya tadi.
Raka diam lagi....
bibi suar lalu mengalihkan matanya ke raka dengan tatapan marah dan membentak raka.
"Kamu dari mana?" lanjut bibi suar membentak raka.
"Dari mana saja itu bukan urusan bibi" jawab raka dengan tegas sambil mengepalkan jari tanggannya dan matanya memerah.
"owh bukan urusan saya! oke mulai sekarang kamu urus saja diri kamu sendiri" jawab bibi suar dengan nada lebih marah.
"bukannya selama ini aku hidup sendiri bibi. Bukannya selama ini bibi selalu menghalangi setiap orang yang menyayangi aku? Bibi itu orang yang paling kejam yang pernah aku kenal" jawab raka semakin memanas.
"piak👋....👋...." suara tamparan tangan bibi suar melayang ke pipi raka
"jangan kurang ajar kamu ya sama saya"lanjut bibi suar dengan wajah sangat marah
"ayo bi tampar lagi sepuas bibi. Bila perlu bibi habisi saja aku biar bibi puas! Toh semua kebahagiaan raka sudah bibi renggut bukan?" jawab raka sambil memegang pipinya itu.
__ADS_1
«Paman suar lalu datang karena mendengar suara ricuh di depan....
"ada apa ini? " tanya paman suar saat melihat raka memegang pipinya yang memerah setelah di tampar.
Raka yang melihat pamannya semakin marah, karena dia kecewa dengan kelakuan pamannya yang sudah mencuri sapinya raka...
Tatapan raka sangat sinis kepada paman suar...
"ini ni keponakan kamu ini, dia sangat kurang ajar" jawab bibi suar sambil melotot ke raka
"Sudah! sudah! raka kan masih kecil. Kamu jangan masukin ke hati ya!" jawab paman suar menenangkan istrinya sambil menepuk bahunya.
"gak bisa aku sabar kalau melihat anak ini" jawab bibi suar semakin menjadi-jadi.
"udah kita masuk aja ya! daripada meladeni anak ini" sambung paman suar sambil mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
Bibi suar lalu masuk ke dalam dengan wajah sangat marahnya itu.
"Ahhh... Paman Bibi lihat saja nanti aku akan membalaskan kelakuan buruk kalian. Aku tidak terima kalian merenggut semua kebahagiaan aku" batin raka dengan sangat geram, matanya ikut melotot dan jari tangganya dikepalkan erat.
(Sepertinya dendam raka semakin dalam dengan paman dan bibinya...)
Raka lantas masuk ke kamarnya..
"Aku sudah hilang kesempatan untuk sekolah, tapi aku harus membanggakan ayah disana aku juga mau membuktikan ke ibu kalau aku bisa sukses walaupun ditinggalkan ibu dari kecil" gumam Raka sendiri dikamar.
"tok... " suara raka memukul meja belajarnya
"walaupun aku gak bisa sekolah aku akan tetap bekerja agar aku bisa menjadi orang sukses. Aku harus bangkit! aku harus bisa! " lanjut raka dengan kembali optimis.
"Aku harus mulai memikirkan masa depan! " ujar raka lagi.
raka merebahkan badannya di ranjang...
saat melihat langit-langit pikirannya mulai kacau dan gelisah lagi, dia mulai berfikir
"aku harus kerja apa ya? jujur aku masih kecil jika aku ingin melamar di perusahaan besar pasti aku tidak bisa di terima, aku kan tidak lanjut sekolah aku juga masih sangat kecil umurku saja baru 13 tahun" gumam raka dengan sangat kacau.
"tok... tok.. tok.. "suara orang mengetuk pintu
gumam raka tadi mulai terputus karena kejut dengan suara ketukan pintu tadi..
"siapa?" tanya raka dari dalam kamar
__ADS_1
"ini kakak" jawab dari balik pintu
"kakak siapa? " tanya raka lagi
"kak ayu ini" jawabnya lagi
"owh kak ayu"jawab Raka sambil meloncat dari tempat tidurnya dan membuka kunci pintu.
"kak!" jawab raka saat membuka pintu dengan wajah yang kebingungan, mata nya masih merah dan sembab pipinya juga masih berbekas tamparan tangan.
"raka! " sambut kakaknya dengan wajah sangat kasihan dengan adiknya
ayu langsung masuk ke kamar dan duduk di ranjang, Raka menyusul setelah menutup pintu
"kamu habis di apain lagi sama bibi suar" tanya kakak ayu sambil mengelus rambut raka dengan mata berkaca.
"orang tamak itu, menampar aku kak"jawab raka dengan nada marah
Selama ini Ayu juga tidak di sekolahkan sama seperti raka, tapi ayu setidaknya diperlakukan lebih baik dari raka. Ayu dari pagi juga bekerja di kebun paman dan bibinya sampai sore.
"kamu harus sabar ya, kita harus bisa menerima perlakuan paman dan bibi yang kurang ajar itu. Tapi kita hanya punya mereka di dunia ini raka"jawab ayu sambil menenangkan hati adiknya.
"tapi kak mereka tamak! Aku sekarang gak bisa sekolah kak! sapi-sapi aku sudah dicuri sama paman kak"jawab raka dengan tangisannya.
"apa? dicuri"tanya kakaknya sangat terkejut
"jadi kakak gak tau kalau sapi aku di jual dan belikan tanah sama paman?" tanya raka
"kakak tidak menyangka paman setega itu. Jadi tadi kamu bertengkar dengan bibi karena itu" jawab kak ayu
"bukan si kak aku di tampar sama bibi karena aku tidak menjawab pertanyaan bibi"jawab raka
"kenapa Paman&Bibi kalian setega itu sama aku dan raka? Kalian sering menyakiti raka dengan kata-kata kasar sekarang kalian mencuri jerih payah raka selama bertahun-tahun"batin kak ayu dalam lamunannya.
"Raka kecewa Kak padahal cuma sapi itu yang bisa membantu raka mengejar cita-cita tapi semua itu lenyap dalam sekedip mata kak" lanjut raka memecahkan lamunan kakaknya.
"Kamu sabar ya sayang" ujar kak ayu sambil merangkul raka.
"tapi kak... Raka mau jadi tentara! raka juga mau membuat ayah bangga disana. Tapi.." jawab raka dan ucapkan raka dipotong oleh kak ayu
" kamu masih bisa membanggakan ayah tanpa menjadi tentara " ujar kak ayu dengan memberikan saran kepada raka
Bersambung-:)
__ADS_1