Presdir Gila Bersih

Presdir Gila Bersih
Laura yang ganas


__ADS_3

"Akhirnya aku bisa meninggalkan rumah tua itu dan tinggal disini dengan gratis, tidak sia-sia aku membesarkan putriku.'' Ibu Laura yang tersenyum sinis.


Sesampainya dirumah Jack.


Baru saja masuk ke dalam, Jack dan Laura mendadak menghentikan langkahnya karena melihat meja makan yang penuh dengan makanan.


"Tuan, Nona ayo makan. Bibi sudah membuat makanan ini dari tadi dan dijamin bersih dan enak.''


Jack menatap Laura lalu tersenyum dan berjalan menuju meja makan.


''Terimakasih bibi, jangan memanggil ku nona, panggil saja aku Laura.'' Ucap Laura.


"Ah tidak bibi lebih nyaman memanggil nona, ayo silahkan dimakan. Bibi pulang dulu ya?'' Ucap bibi sembari tersenyum ramah.


"Terimakasih bi'' Ucap Jack.


Sesudah bibi pergi, Laura sontak menyiapkannya piring, mengambilkan Jack nasi dan lain-lain. Sembari memakan makanannya, melihat Laura yang sedang makan dengan lahap, Jack yang punya waktu luang sontak menatap Laura.


"Laura?'' Ucap Jack yang meletakan satu tangannya di atas meja lalu memangku wajahnya.


Sedih asyik makan mendengar Jack memanggilnya Laura yang masih mengunyah makanan didalam mulut, menoleh ke Jack dan mengangkat kedua alisnya ke atas seperti memberi isyarat bertanya apa?.


"Habis mandi bagaimana kalau kita nonton film horor dirumah?'' Ucap Jack.


"Nonton film horor?'' Tanya Laura yang memebelakak mata menatap Jack dengan serius.


Tertawa melihat wajah Laura yang seperti badut sedang mengunyah, Jack hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayo! Gas bos.'' Laura dengan wajah berani.


Selesai makan, Jack dan Laura pergi ke kamarnya masing-masing untuk bergegas mandi.


30 menit kemudian.


Jack yang sudah selesai mandi sontak keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju sofa diruang tamu sembari menunggu Laura, Jack meraih ponselnya dan memainkannya.


Sudah selesai berganti baju, Laura yang mengenakan dress sontak keluar dengan semangat karena ingin menonton film horor yaitu film kesukaannya.

__ADS_1


"Bo...s?'' Laura sontak terhenti karena saat dirinya baru membuka pintu, lampu rumah menjadi mati dan hanya melihat Jack duduk memainkan ponsel.


"Kemari, kenapa terkejut? Bukankah kamu tadi sangat semangat untuk menonton film. Aku sudah menemukan film sangat bagus.'' Ucap Jack.


Hanya mengandalkan cahaya dari kamarnya Laura melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati menghampiri Jack yang sudah duduk di depan TV.


Semakin jauh Laura melangkah, cahaya dari kamarnya pun semakin tidak terlihat. Sudah hampir sampai di dekat Jack, Laura dengan pencahayaan yang kurang dengan tidak sengaja membuat kakinya terbentur meja dan membuat Laura terjatuh.


"Ahh shtt'' Ucap Laura yang terduduk dilantai sembari memegang kakinya yang kesakitan.


Melihat Laura yang terjatuh kesakitan, Jack yang panik menjatuhkan ponselnya dilantai, langsung bangun dari posisi duduknya untum menghampiri Laura. Merasa bersalah, Jack menggendong Laura dan meletakan Laura di sofa.


Sesudah meletakan Laura, Jack pergi menyalakan lampu dengan langkah kaki cepatnya dan kembali menghampiri Laura yang kesakitan.


"Bagian mana yang sakit?'' Tanya Jack dengan wajah paniknya.


"Tidak bos, ini sudah tidak sakit lagi'' Jawab Laura yang seperti masih menahan sakit.


Tidak percaya dengan ucapan Laura, Jack mengulurkan tangannya dan menyentuh kaki Laura untuk melihat bagian mana yang terluka.


Bingung dan panik melihat Laura, Jack berdiri lalu pergi dengan cepat untuk mengambil kotak P3K yang biasanya Jack letakan di dapur.


Sudah mendapatkan kotak P3K di tangannya, Jack kembali menghampiri Laura dan langsung mengoleskan obat ke bagian kaki Laura yang memar.


Sembari mengoles obat dengan perlahan, Jack yang sangat merasa bersalah mengubah nadanya menjadi lembut.


"Maaf aku membuatmu celaka, seharusnya tadi aku memang tidak mematikan lampunya.'' Ucap Jack.


Melihat Jack panik dan sedang fokus mengoles obat ke bagian kakinya, apa lagi dengan nada bicara Jack, membuat jantung Laura menjadi berdetak kencang dan hanya bisa berkata di dalam hati. Apa dia sengaja menggunakan nada begitu yang begitu halus dan lembut, kalau di lihat-lihat memang Jack sangat tampan, wajar saja banyak yang suka dengannya.


"Tidak bos ini bukan salahmu, jelas-jelas aku sendiri yang tidak berjalan dengan benar.'' Ucap Laura.


"Sudah selesai. Lebih baik nonton filmnya besok saja, sekarang kamu istirahat saja.'' Ucap Jack.


Tidak setuju dengan ucapan Jack, Laura menggelengkan kepalanya. ''Tidak! aku ingin menontonnya sekarang.'' Ucap Laura yang menatap Jack dengan wajah memohon.


Ekspresi Laura yang menurut Jack terlalu imut membuat Jack ingin sekali mengusap kepalanya lalu mencubit pipi Laura, namun karena malu Jack hanya memalingkan pandangannya.

__ADS_1


"Baiklah kalau tetap ingin menonton sekarang, kamu tunggu disini sebentar aku pergi ke dapur dahulu untuk mengambil cemilan. Kamu mau minum apa?'' Tanya Jack.


Mendengar Jack akan pergi ke dapur, Laura menurunkan kakinya dan berusaha berjalan.


"Bos duduk saja, biar aku yang mengambilnya.'' Ucap Laura.


Melihat Laura sudah berjalan, Jack mengela napas lalu menarik tangan kiri Laura dan kembali memerintah Laura untuk duduk kembali.


"Tetap diam disini, kali ini biar aku yang ambil.'' Ucap Jack yang memberi isyarat dengan jari telunjuknya supaya Laura tetap diam dan langsung pergi ke dapur.


Larangan dari Jack memuat Laura menjadi terdiam dan menahan rasa tidak enaknya karena seharusnya dirinya yang ke dapur justru malah Jack yang pergi.


Jack yang sudah kembali dengan kedua tangan yang kesusahan membawa camilan, tidak bisa tinggal diam, Laura bangun dari duduknya dan menghampiri Jack.


"Bos sini biar aku bantu, tenang saja kakiku sudah tidak sakit seperti tadi.'' Ucap Laura yang menatap Jack dengan senyum manisnya.


Melihat senyum di wajah Laura yang begitu manis membuat Jack terdiam, menatap Laura tidak berkata sepatah katapun.


Laura yang sadar Jack belum membawakan minum, Laura berniat mengambilnya sendiri. "Bos belum membawa minum, ya sudah kali ini aku saja yang mengambilnya.''


Senyum Laura, membuat Jack selalu tidak tega jika menolaknya, Jack membiarkan Laura yang mengambil minum dan meletakkan camilan yang dibawanya dimeja sofa. Karena masih khawatir dengan kaki Laura yang terbentur meja tadi, Jack kembali menyusul Laura yang ada di dapur.


Sudah sampai di dapur, melihat Laura yang sedang membuka lemari es dan menatapnya seperti orang bingung, Jack yang mempunyai pikiran mengerjai Laura, sengaja melangkahkan kakinya dengan lambat untuk mengagetkan Laura.


"Dorrrrrr"


"Anjing, goblok!'' Ucap Laura.


Tersadar kalau kata-kata yang baru di ucapkan tidak sopan, Laura menggigit jari telunjuknya, membalikan badan lalu tersenyum kecil menatap Jack.


"Maaf bos tadi aku refleks karena kaget, lain kali aku tidak akan mengulanginya.'' Ucap Laura.


Baru pertama kali mendengar Laura berbicara kasar karena kaget, membuat Jack tertawa.


"Aku kira kamu adalah wanita yang lembut, ternyata kamu juga bisa berbicara ganas haha.'' Ucap Jack.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2