
Malam harinya.
"Hei bos, bibi tadi mengirim pesan padaku kalau bibi tidak bisa datang hari ini karena sedang berada dirumah sakit. Lalu bos mau makan apa biar ku buatkan?''
Karena Jack sedang bekerja dan mengetik cepat yang ada laptop dipangkuan nya, sembari mendengarkan ucapan Laura, Jack hanya menatap dengan sekilas dan kembali menatap laptop.
Laura yang tadinya sangat baik hati karena berniat ingin memasak untuk makan malam, tetapi saat bertanya dengan Jack justru hanya menatap dengan sekilas dan tidak menjawab satu katapun, membuat Laura yang tengah berdiri tepat di depan TV langsung pergi ke dapur dengan suara langkah kaki yang keras.
"Tidak tahu diri sekali. Sebentar-sebentar romantis sebentar lagi membuat ku ingin menjambak rambutnya dengan kekuatan super! Memang harus diberi pelajaran! Coba saja aku orang jahat pasti aku akan memasak makan malam sup sampai untuknya!!'' Ucap Laura yang tengah sedang memilih sayuran di dalam lemari es.
Dengan wajah kesal, Laura sontak meraih beberapa sayuran dan langsung di potong menjadi beberapa bagian untuk di olah.
Tak tak tak
Mendengar bunyi dari arah dapur seperti suara tengah memotong sayur, membuat Jack sontak menghela napas, meletakkan laptop yang dipegangnya tadi di atas meja lalu bangkit dari duduk dan pergi menghampiri Laura.
Sementara itu Laura yang sibuk memotong sayur tetapi menatapnya bukan ke sayur yang tengah dipotongnya dengan tidak sengaja mengenai jari telunjuknya.
"Ah shtt!'' Laura sembari meniup jari telunjuk.
Jack yang baru sampai di dapur melihat Laura yang kesakitan dengan cepat langsung berlari. Karena panik melihat jari Laura yang terkena sayatan pisau, Jack sontak meraih tangan kiri Laura dan menghisap darah yang keluar dari jari telunjuknya.
"Ceroboh sekali. Kalau kamu tidak ingin memasak kenapa pergi ke dapur, coba kamu lihat akibatnya!'' Jack yang berbicara dengan nada tegas.
Karena ini pertama kalinya melihat Jack berbicara dengan nada keras dengan dirinya apalagi wajah yang begitu panik, membuat Laura kaget dan perlahan matanya menjadi berkaca-kaca.Laura melepaskan tangan Jack dan pergi ke menuju kamarnya.
Melihat Laura pergi, Jack yang tersadar kalau ucapannya barusan terlalu keras hingga membuat Laura marah, Jack sontak mengikuti Laura.
"Laura?''
Baru saja ingin mengetuk pintu tetapi Laura sudah keluar dengan berpakaian rapih, Jack yang melihat tangan Laura belum di oles obat serta merasa bersalah, Jack sontak menjulurkan tangannya dan menggendong Laura masuk kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Sesudah meletakan Laura di sofa, Jack meraih kotak P3K yang ada di meja samping tempat tidur Laura dan langsung mengoles obat ke jari telunjuk Laura yang terluka.
"Maaf aku sudah berbicara dengan nada keras, tadi aku sangat panik dan itu membuatku kelepasan. Sayang apa kamu memaafkan ku?''
Melihat Jack sudah selesai mengoles obat, Laura dengan perlahan manarik tangannya dan bangkit dari duduk.
"Aku sudah memaafkan mu, tetapi malam ini aku ingin pulang ke rumah ibu. Tenang saja besok pagi aku akan langsung berangkat ke kantor.''
Jack yang menatap Laura dengan tatapan sedih, hanya bisa terdiam sembari menghela napas karena paham dengan Laura yang kecewa.
Laura dengan berat hati tersenyum pahit lalu melangkah kakinya pergi.
Dirumah orang tua Jack.
"Tasya apa kamu tidak berniat membawa pulang kakakmu ke rumah ini? Apa anak itu lupa kalau masih punya ayah dan ibu?!''
Tasya yang tengah duduk bersama ayah dan ibunya sembari memotong kuku, mendengar ucapan ibunya membuat Tasya menjadi tertawa.
"Tapi nak, Ibu dan ayah melakukan itu juga untuk kebaikan kalian sendiri. Kamu juga sama seperti kakakmu susah sekali untuk menurut. Coba kamu lihat pria yang ibu pernah kenalkan ke kamu dahulu, dia sangat tampan dan kaya.''
"Benar nak, ayah juga setuju dengan Ibumu.''
"Kalau begitu apa ayah dan ibu dahulu di jodohkan oleh kakak dan nenek?'' Tasya dengan wajah meledek.
Mendengar ucapan Tasya membuat ibu dan ayahnya sontak saling tatap menatap karena malu.
"Tentu saja aku dan ibumu di jodohkan.''
"Ayah, ibu coba dengarkan Tasya. Aku dan kakak bukanlah anak kecil lagi, kita juga ingin memilih pasangan mana yang cocok untuk diri kita sendiri. Coba lihat kakak saja sudah menjadi orang sukses bagaimana kalau wanita cantik idaman ibu itu hanya mengincar harta kakak? Lalu aku juga sudah punya beberapa kafe yang lumayan terkenal di luar negri.''
"Kembalilah ke luar negri Tasya kamu juga sangat sulit diatur.'' Ucap ayah Tasya sembari memijat kepalanya.
__ADS_1
Tasya yang lelah berbincang dengan ibu dan ayahnya sontak kembali ke kamarnya dan bersiap merapihkan barang untuk berangkat besok pagi ke negara C.
Keesokan pagi harinya.
Bunyi klakson mobil yang terus menerus membuat Tasya yang sedang bersiap-siap menjadi terburu-buru. Ketika sudah siap dan hendak turun tangga, ayah dan ibu yang melihat Tasya sudah berpakaian rapih dan membawa koper menatap dengan heran.
"Tasya mau kemana kamu?'' Tanya Ibu.
"Ayah dan ibu yang menyuruh ku kembali ke negara C, didepan sudah ada kakak yang siap menghantarkan aku ke bandara, sampai jumpa dilain hari ayah dan ibu.'' Tasya sembari mengulurkan tangan berjabat tangan dengan ibu dan ayahnya.
Melihat Tasya pergi dengan senyum bahagia tanpa sedih, membuat ibu dan ayah Laura menjadi sedih dan tidak habis pikir kenapa kedua anaknya meninggalkannya?
"Ayah? Apa mungkin kita terlalu menuntut Jack dan Tasya? Aku iri dengan orang yang bisa tinggal bersama dengan anak-anaknya.''
"Sepertinya benar, padahal semalam aku hanya bercanda tapi ternyata putriku sungguh berangkat pergi dengan wajah bahagia. 2 tahun lalu saat Jack saja Tasya meninggalkan rumah juga wajahnya penuh senyum.''
Sementara itu, Tasya dan Jack yang tengah dalam perjalanan hanya berdiam seperti seseorang sedang bermusuhan, Tasya sontak menatap Jack dengan heran.
"Kak apa kamu sedang ada masalah? Kenapa dari tadi wajahmu sangat tidak enak dipandang?'' Tanya Tasya.
"Pacarku sedang marah padaku, aku sudah meminta maaf dengannya tetapi dia semalam tetap pergi pulang ke rumah ibunya.''
Saat Tasya tengah meraih botol yang berisi air minum yang ada di samping ia duduk, mendengar ucapan Jack sontak tersedak dan langsung menatap Jack dengan heran.
"Pacar? Kak apa aku salah dengar? Apa kak Laura itu pacarmu? Astaga aku hampir punya kakak ipar.'' Tasya mendekatkan wajahnya dan memeluk Jack yang tengah mengemudi.
"Bodoh kenapa memelukku, yang boleh memelukku tubuhku adalah pacarku saja, kamu kalau mau peluk cari saja lelaki.''
"Kakak jahat, aku bangga padamu bro''
Bersambung.
__ADS_1