
Sesampainya Jack dan Laura dirumah, Keduanya sontak bergegas masuk ke dalam kamar masing-masing untuk mandi.
Saat Laura baru saja membuka pintu, Laura menghela napas lalu melangkah kakinya ke tempat tidur dan duduk dengan lemas.
Masih belum lupa dengan kejadian semalam karena Ibunya yang berubah total, Laura hanya bisa terdiam karena merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Laura bangkit dari posisi duduknya lalu bergegas berjalan menuju kamar mandi. Sembari merendam tubuhnya di bathtub.
"Apa semua ini salahku? Apa ibuku bisa menjadi seperti itu karena aku sendiri? Aku pikir dengan begini hidupku akan jauh lebih bahagia tetapi sekarang justru ibu yang dahulu paling mengerti aku kini tidak lagi.''
1 Jam kemudian.
Jack yang sudah berulang kali mengetuk pintu kamar Laura tetapi tidak ada jawaban, hanya berjalan dengan bolak-balik karena bingung apakah Laura sudah tidur?
Saat Jack hampir memutuskan untuk meninggalkan kamar Laura karena sudah yakin Laura tidur, tiba-tiba Jack teringat dengan ponsel yang ada di tangannya.
"Apa aku hubungi Laura saja ya?'' Jack yang berbicara sendiri sembari menatap ponselnya.
Karena masih penasaran tanpa berpikir panjang, Jack sontak membuka ponselnya dan menghubungi Laura.
"Ahh sial! Apa dia sungguh tidur? Apa aku ketuk lagi pintunya?''
Tidak bisa menahan keinginannya, Jack kaget ternyata pintu kamar Laura yang dari tadi sudah diketuk olehnya justru tidak dikunci. Jack perlahan melangkahkan kakinya dengan rasa ragu, masuk ke dalam kamar dan terperangah karena kamar Laura yang kosong dan masih tersusun rapih.
"Ada suara air mengalir dari kamar mandi? Apa dari tadi Laura baru mandi? Tapi ini sudah sangat lama.'' Ucap Jack.
Jack perlahan melangkah menuju kamar mandi dan lagi-lagi mengetuk pintu. Karena Jack tidak mendengar ada jawaban dari Laura lagi, Jack dengan paksa membuka pintu kamar mandi dan masuk. Baru saja masuk, melihat Laura yang berendam di bathtub tanpa sehelai baju dengan mata terpejam, Jack yang sudah panik dengan langkah besar sontak menghampiri Laura.
"Laura? Hei Laura??'' (Tidak ada respon)
Teringat kalau bibi masih ada dirumah, Jack sontak berlari ke luar dan memanggil bibi dengan nada tegas.
"Bibi?''
Sementara itu bibi yang kaget karena baru pertama kali mendengar Jack memanggilnya dengan nada yang keras, bibi yang sedang ada di dapur sontak meninggalkan pekerjaan dan berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Jack.
"Ada apa tuan?''
__ADS_1
Dengan wajah yang memerah karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat, Jack menjadi susah berbicara dan hanya mengacungkan jari telunjuknya menuju dalam kamar Laura.
"Laura tidak sadarkan diri, tolong bibi pakaian kan Laura baju nanti aku akan menggendongnya ke tempat tidur.''
Karena bibi baru pertama kali melihat ekspresi Jack yang panik, bibi justru tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar Laura.
Jack menyenderkan tubuhnya di pintu.
Kenapa dia bisa sampai seperti ini? Apa karena dia memikirkan Ibunya? gumam Jack.
"Tuan, aku sudah selesai memakaikan baju nona Laura.''
Jack yang mendengar sontak berjalan menuju kamar mandi, menggendong Laura dan meletakan Laura di tempat tidur dengan perlahan. Melihat wajah Laura yang pucat, Jack mengulurkan tangannya lalu menempelkan telapak tangan di dahi Laura untuk mengecek suhu tubuh Laura.
"Bibi terimakasih banyak sudah membantu Jack tadi, bibi boleh pergi sekarang.'' Ucap Jack yang duduk di sisi kosong tempat tidur sembari menatap bibi dengan wajah tersenyum.
"Tuan kenapa tuan sangat khawatir, jangan-jangan tuan dan nona...?''
"Tidak ada apa Bi, kamu hanya berteman saja.''
Pagi harinya.
Saat Laura terbangun dan hendak duduk, Laura kaget karena melihat Jack yang tertidur duduk di sofa. Mengingat dirinya semalam sedang berendam di bathtub dan kini justru berada dikamar, Laura tersenyum menatap Jack.
Kemarin aku merasa sedikit tidak enak badan, apa mungkin saat dimandi aku tidak sadarkan diri? Tunggu, aku kan semalam tidak memakai sehelai kain pun, jangan-jangan bos... yang memakaikan ku baju? Batin Laura.
Karena merasa dirinya sudah gila, Laura menggelengkan kepala dan berusaha berpikir yang tidak-tidak. Kasihan melihat Jack tertidur tanpa selimut, Laura turun dari tempat tidur dengan perlahan, meraih selimut yang dipakainya tadi dan melangkahkan kakinya dengan sangat pelan.
Karena takut Jack akan terbangun, dengan rasa ragu sembari tangan yang gemetaran, Laura dengan mata terpejam menyelimuti tubuh Jack dengan selimut yang dibawanya tadi.
Melihat Jack tidak terbangun Laura perlahan membuka mata dan menghela nafas lega karena melihat Jack yang masih tertidur pulas. Teringat kalau hari ini adalah hari libur kantor, Laura yang tiba-tiba berkeinginan untuk memasak sontak berjalan keluar dari kamar.
Saat Laura tengah berjalan menuju dapur, mendengar suara benda seperti sedang memotong, Laura yang sudah menduga itu bibi sontak berjalan dengan langkah cepat.
"Selamat pagi bibi''
__ADS_1
Bibi yang tengah sibuk ingin membuat sarapan pagi tiba-tiba mendengar Laura, sontak menoleh dengan tangan yang masih menggenggam pisau.
"Nona sudah baik....ah!''
Melihat bibi sedang kesakitan, Laura sontak meraih tangan bibi dan mencuci bagian yang terkena sayatan pisau.
"Bibi tunggu disini, Laura ambil kotak P3K dahulu ya."
"Tidak usah non, ini hanya luka kecil saja'' Ucap bibi.
Tanpa menghiraukan ucapan bibi, Laura membuka pintu lemari kecil dan meraih kotak P3K. Sembari membalut luka bibi, Laura yang ingin tahu kejadian semalam dengan sungkan bertanya dengan bibi.
"Bibi? Apa bibi kemarin sore masih disini?''
"Iya non, nona tahu tidak kemarin saat non tidak sadarkan diri tuan sontak memanggil bibi. Bibi baru pertama kali melihat wajah tuan yang begitu panik.'' Jawab bibi sembari tertawa.
Mendengar penjelasan bibi, Laura sontak terhenti saat sedang membalut luka dan terperangah.
"Panik? Apa itu berarti bos melihat Laura saat Laura berendam?''
"Ya pasti, tuan saja meminta bibi untuk memakaikan baju nona.''
Seketika Laura merubah wajah menjadi sedih.
"Bibi bagaimana aku menghadapi bos kedepannya? Dia saja sudah melihat semua bagian tubuhku hiks hiks.''
"Bukankah nona dan tuan berpacaran? Kenapa bingung? Memang anak muda jaman sekarang sedikit aneh.'' Ucap bibi sembari tertawa kecil.
Laura dengan wajah memelas hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah itukan hanya musibah pasti tuan memaklumi. Nona duduk saja biar bibi buat sarapan dulu ya''
"Tidak. Bibi tetap duduk disini biar Laura yang memasak, karena tadi malam bos sudah membantuku jadi aku ingin memasak untuknya sebagai tanda terimakasih.''
"Baiklah kalau begitu anak muda, bibi menyapu halaman saja ya kalau begitu.''
__ADS_1
Bersambung