
Di kantor.
Baru membuka pintu ruangannya, Jack dan Laura kaget melihat Ibu Jack yang sedang duduk di kursi Jack, bertepuk tangan menatap dengan sinis dan Rey yang duduk di sofa ruangan Jack dengan wajah takut.
Jack yang sudah menduga pasti Ibunya akan membuat keributan, tidak mau bertanya dengan Ibunya, Jack mengajak Laura masuk dan menghampiri Rey.
"Kenapa wajahmu begitu ketakutan?'' Tanya Jack.
Sebelum menjawab Jack, Rey melihat Ibu Jack yang masih memelototi dirinya, membuat Rey takut untuk mengatakan yang sebenernya.
"Bughh!'' (Jack memukul meja dengan kepalan tangannya)
Dengan tubuh gemetaran, apa lagi melihat Jack yang sudah marah Rey dengan berani menatap Jack.
"Tadi nyonya datang kemari dan memaksaku untuk berkata kemarin kita melakukan apa saja dirumah asisten Laura, Nyonya baru saja mengancam ku kalau aku tidak bicara maka akan dipecat.'' Jawab Rey.
Laura yang berdiri tepat di samping jack, melihat wajah Jack memerah seperti sedang menahan marah, Laura mengulurkan tangannya lalu menepuk punggung Jack dengan perlahan.
"Jack apa matamu sudah tertutup sampai membela wanita kumuh itu terus menerus? Aku dan ayahmu membesarkan mu itu supaya kamu berbakti tetapi lihat dirimu sekarang. Aku sungguh menyesal membesarkan mu!'' Ibu Jack dengan nada keras.
Sudah diam menahan amarah hingga membuat mata Jack menjadi berkaca-kaca karena mendengar ucapan Ibunya sendiri yang berkata menyesal membesarkan dirinya, mengepalkan tangan lalu berjalan menghampiri Ibunya dengan wajah yang memerah.
"Apa ingin tahu apa alasan ku kenapa terus membela Laura dari pada Ibu? Karena aku merasa Ibu bukan orang tua yang baik, Berkat Laura juga Jack merasa kembali hidup tidak seperti dahulu saat tinggal bersama Ibu!'' Ucap Jack yang menatap Ibunya tanpa berkedip.
Semakin menggebu-gebu Ibu Jack bangkit dari duduk, mengangkat tangannya lalu melayangkan ke wajah Jack dengan kuat.
"Ingat Jack! Ibu tidak akan membiarkanmu hidup tenang!'' Ibu Jack meraih tas yang ada dimeja lalu pergi.
Baru pertama kali melihat ada seorang Ibu yang berucap sangat tidak pantas dengan anaknya sendiri, membuat Laura meneteskan air matanya apa lagi tadi Ibu Jack membawa nama Laura dan seolah-olah karena hadirnya Laura membuat hubungan Jack dan Ibunya semakin jauh.
"Bos maaf ini semua salahku. Aku akan pergi mengambil kantong batu es untuk mengompres pipi bos yang merah.'' Ucap Rey yang menundukkan kepala dan melangkah kakinya pergi.
Jack membalikan badan dan kaget melihat Laura yang sedang mengelap air matanya, Jack berjalan menghampiri Laura dan mengajak Laura untuk duduk di sofa.
"Kamu kenapa menangis? Maaf kalau tadi Ibuku membawa namamu'' Ucap Jack yang menatap Laura.
__ADS_1
"Aku menangis karena kasihan melihat bos bukan karena hal lain.'' Laura tersenyum dan masih berwajah sedih.
Tidak mengerti apa maksud Laura, Jack yang masih teringat dengan kata-kata Ibunya, menghela napas dan langsung terdiam.
Karena terus menerus merasa bersalah, Laura menatap Jack dengan ragu.
"Bos? Sepertinya aku akan mengundurkan diri.'' Laura tersenyum tipis.
Jack sontak menatap Laura dengan wajah kaget lalu mengulurkan tangannya meraih pundak Laura.
"Apa karena Ibuku tadi? Tidak-tidak aku tidak mengizinkan mu untuk mengundurkan diri, apa kamu tidak merasa kalau aku sedang mengejar mu?'' Ucap Jack masih dengan wajah memerah.
Sontak terdiam sembari menatap Jack, Laura menjadi bingung harus mengahadapi Jack kedepannya bagiamana, apa lagi Laura setiap dekat dengan Jack pasti membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Bos ini satu kantong batu es untuk mengompres bekas tamparan nyonya'' Melihat Rey seperti sedang berbicara serius dengan asisten Laura, Rey menaruh batu es tersebut di atas meja lalu pergi.
Laura sontak meraih satu kantong batu es yang ada di atas meja dan menempelkannya di pipi kanan Jack.
"Kamu belum menjawab ku.'' Ucap Jack.
"Aku masih belum tahu harus bagaimana, sepertinya nanti malam aku tidur dirumah Ibu dahulu.'' Jawab Laura.
Karena sudah berjanji dengan Jack akan kembali pagi hari, Laura yang sudah sampai dirumah Jack sontak membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan oleh Jack kemarin saat di kantor.
Baru saja masuk lalu membalikan badan menutup pintu, Laura dibuat kaget dengan adanya bibi yang sedang berjalan menuju meja makan untuk menyajikan sarapan pagi. Tersenyum ceria, Laura menghampiri bibi dan membantunya.
"Bibi sini biar Laura bantu?'' Ucap Laura yang berdiri dibelakang bibi.
Hampir saja menumpahkan mangkuk yang berisi sayur karena kaget, melihat Laura yang memanggilnya membuat bibi tidak bisa marah dan hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Tidak perlu nona ini juga sudah selesai.'' Ucap bibi pembantu rumah tangga Jack.
"Baiklah, bibi kenapa kemarin tidak datang?'' Tanya Laura yang sedang meletakan tas di atas meja makan sembari menengok sekeliling tempat dan belum melihat Jack.
"Ah bibi sangat minta maaf, kemarin ada saudara bibi dikampung meninggal jadi tidak sempat meminta izin dengan Tuan jack.'' Jawab bibi.
__ADS_1
"Laura turut berdukacita ya bi, ya sudah kalau begitu, Laura bangunkan bos dulu ya sepertinya bos semalam begadang jadi sekarang belum bangun.'' Laura menepuk pundak bibi dan pergi ke kamar Jack.
Sudah sampai depan pintu kamar Jack, Laura yang tidak berani menerobos masuk hanya mengetuk pintu dengan perlahan.
Jack ternyata sudah bangun dari awal sebelum Laura datang dan sudah berpakaian rapih, mendengar suara ketukan pintu, Jack sontak melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
"Bo...s?''
"Hah sudah berpakaian rapih? Sepertinya tadi sangat sepi seperti belum bangun tidur.'' Ucap Laura yang terheran.
Tersenyum tipis melihat Laura, Jack mengepalkan tangannya lalu mengetuk dahi Laura dengan perlahan.
"Bos kenapa memukulku?!'' Laura sembari mengelus dahinya.
"Kamu sudah cantik, wangi, ayo makan.'' Ucap Jack.
Tidak percaya dengan Jack, Laura membuntuti Jack dan duduk di meja makan sebelah Jack.
Saat tengah makan, mendengar bunyi pesan dari ponsel Jack. Jack meletakan kembali dan meraih ponselnya yang ada di atas meja lalu ketika membaca pesan tersebut membuat Jack tersenyum puas.
Laura yang sedang makan sembari memperhatikan Jack yang senyum sendiri, sontak Laura berpikiran pasti Jack sedang membaca pesan dari pacar onlinenya.
Sudah membalas pesan, Jack kembali meletakan ponselnya lalu meraih sendok makannya.
"Ayo makan nanti kamu ikut aku terlebih dahulu ya?'' Tanya Jack.
Penasaran dengan Jack yang ingin pergi kemana, Laura menanggapi Jack dan hanya Jack senyum paksa.
Setelah selesai makan, Jack dan Laura sontak bergegas pergi menuju bandara.
Sesampainya di bandara.
Tidak mengerti kenapa Jack pergi ke bandara bukannya ke kantor, Laura melihat Jack seperti sedang senang, turun dari mobil dan menghampiri Jack yang sedang berdiri diluar sembari menunggu seseorang datang.
"Bos apa yang kita lakukan disini? Kenapa tidak ke kantor?'' Tanya Laura.
__ADS_1
Baru saja ingin menjawab Laura, Jack yang tidak sengaja menoleh, sudah melihat orang yang dari tadi ditunggunya, Jack sontak berlari menghampiri wanita tersebut dan meninggalkan Laura begitu saja.
Bersambung.