
Selesai membuat sarapan, Laura sontak menyajikan makanan yang baru dibuatnya untuk diletakan dimeja makan.
"Wah, Non apa ini semua nona Laura yang masak?'' Ucap bibi dengan wajah terkejut.
"Iya dong Bi. Laura juga sering masak loh dirumah, karena Laura hanya tinggal dengan ibu setiap pagi sebelum berangkat bekerja pasti Laura sudah memasak untuk ibu.''
Sementara itu, Jack yang baru saja bangun dan melihat tempat tidur sudah tidak ada Laura membuat Jack bingung dengan kemana perginya Laura. Saat Jack tengah bangkit dari sofa melihat ada selimut di tubuhnya, Jack mengerti kalau yang menyelimutinya ketika tidur adalah Laura.
Jack sontak bergegas pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai, Jack berjalan keluar dari kamar Laura dan tercengang melihat Laura dan bibi yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Selamat pagi'' Ucap Jack yang tengah menutup pintu kamar.
Laura dan bibi yang sedang asyik berbincang langsung terhenti dan mengalihkan pandangannya menatap Jack yang baru keluar kamar.
"Selamat pagi tuan. Ayo kemari nona Laura sudah memasak banyak untuk sarapan pagi loh.''
Baru tahu kalau Laura bisa memasak, Jack melangkahkan kakinya dengan perlahan menghampiri meja makan.
"Wow, apa ini benar kamu yang memasak Laura? Kamu membuat capcay yang sangat mengeluarkan wangi beserta sup? Luar biasa!'' Jack sembari mengacungkan ibu jarinya.
"Tadinya aku ingin membuat capcay saja, tapi melihat cuaca yang cerah aku pikir sup juga sangat enak, apa lagi didalam sup itu banyak sekali sayuran yang bagus untuk tubuh. Ayo silahkan duduk bos''
Jack menarik kursi ke belakang dan langsung duduk, melihat Laura hendak mengambilkan dirinya nasi, Jack sontak menolak Laura.
"Biar aku sendiri saja. Laura, bibi ayo duduk kenapa berdiri saja?''
Bibi yang baru pertama kali mendengar Jack memerintahkan dirinya untuk duduk dan makan satu meja dengan Jack sempat terdiam hingga tak berkata sedikitpun.
Apa aku tidak salah dengar? Tuan menyuruhku duduk dan makan satu meja makan? Bukankah dia sangat tidak suka dekat dengan orang? Aku rasa semenjak kehadiran nona Laura, tuan sangat berubah banyak. Batin bibi yang masih berdiri dan menatap Jack dengan tatapan kosong.
Saat Jack hendak meraih nasi ke dalam piring yang ada didepannya, melihat dari ekor mata bibi hanya diam, Jack menaruh kembali nasi yang sudah di hampir di letakan di piring dan menatap bibi dengan heran.
"Bibi?''
__ADS_1
"Terimakasih tuan, tapi bibi harus cepat-cepat pulang karena dirumah ada cucu bibi yang sedang sakit.''
Ketika bibi membalikan badan, Jack yang merasa kasihan mendengar ucapan bibi sontak memanggilnya untuk kembali. Jack memerintah Laura untuk mengambilkan dompet Jack yang ada di dalam kamar.
"Bibi tunggu disini sebentar ya, tunggu Laura dahulu.'' Ucap Jack.
"Bos ini barang anda.'' Laura sembari menyodorkan dompet Jack.
Jack bangkit dari posisi duduknya, meraih dompet tersebut dari tangan Laura dan mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan dengan bibi yang hendak pulang.
"Ini untuk bibi. Bibi tadi bilang cucu bibi sedang sakit kan? Uang ini bibi gunakan untuk membeli obat ya?''
Dengan wajah menahan tangis sembari menatap Jack, bibi dengan tangan gemetaran perlahan menerima uang dari Jack.
"Terimakasih banyak Tuan. Uang ini pasti akan bibi ganti dengan uang bibi bulan ini.''
"Tidak usah Bi. Anggap saja ini sebagai balasan terimakasih Jack karena semalam bibi sudah membantu Jack dan Laura.''
Bibi hanya menganggukkan kepalanya, menatap Jack dan Laura sembari tersenyum menahan air mata lalu melangkah kakinya untuk pulang.
"Laura? Ini hari libur kan, apa kamu tidak mau pulang ke rumah mengunjungi ibumu?''
Laura yang tengah mengunyah makanan, mendengar pertanyaan Jack sontak terhenti dan menatap Jack. Mengingat Jack sendiri juga tidak dekat dengan ibunya, Laura dengan sengaja memprovokasi.
"Bagaimana dengan bos sendiri?'' Laura dengan wajah menahan tawa.
"Puftttt!'' Jack sontak menatap Laura dengan sudut mata yang tajam.
"Hahaha. Kenapa bos menatapku seperti itu? Aku rasa nasib kita sekarang sama.''
Dengan ucapan yang baru saja Laura keluarkan membuat Jack terdiam dan merasa kasihan, salut dengan Laura. Apa lagi Jack yang tahu Laura adalah tulang punggung keluarga. Jack menjulurkan tangannya dan mengusap kepala Laura dengan lembut.
Selesai sarapan, ketika Jack ingin membantu Laura membersihkan meja makan tetapi Laura justru memerintah Jack untuk duduk saja, Jack yang pasrah hanya bisa menuruti Laura.
__ADS_1
Jack yang tengah duduk di kursi sofa ruang tamu sembari menonton drama Korea di layar televisi, membuat Jack tiba-tiba berpikiran ingin menyatakan perasaannya di suatu tempat.
Sudah mendapat pikiran yang cocok, Jack yang selalu membawa ponsel kemana pun dirinya berada, Jack menjulurkan tangan meraih ponsel, mengetikan sebuah pesan lalu di kirim ke Rey.
Karena Jack sangat tidak suka hal kotor, Jack memerintahkan Rey untuk datang ke pemandian air hangat, memerintah petugas untuk membersihkan tempat pemandian air hangat tersebut dan menggantinya airnya dengan yang baru untuk di sewa.
"Bos apa mau saya buatkan kopi?'' Tanya Laura.
"Tidak, tidak perlu. Laura karena ini hari libur bagaimana kalau nanti kita pergi ke pemandian air hangat?''
"Pemandian air hangat? Tapi bagaimana dengan bos? Bukankah biasanya sangat banyak orang?''
"Tenang saja ini bukan pemandian air hangat yang biasa. Lebih baik sekarang kamu pergi mandi.''
Karena Laura sendiri bingung ingin melakukan kegiatan apa, Laura menyetujui ajakan Jack dan langsung bersiap kembali ke kamarnya untuk mandi.
1 jam kemudian.
Sesampainya di pemandian air hangat, Laura dan Jack yang sedang berjalan menuju masuk sontak disambung oleh pelayan yang bekerja di tempat tersebut.
"Selama datang Presdir dan nona, ayo saya antar masuk ke dalam.'' Ucap pelayan sembari menjulurkan tangan yang memberi isyarat membuka jalan.
Laura melihat pelayan wanita tersebut semakin lama semakin mendekatkan dirinya mendekati Jack, Laura yang takut bosnya akan kenapa-kenapa, menarik tangan Jack dan menahannya.
"Maaf, tolong jaga jarak anda karena bos kami tidak bisa sembarang dekat dengan orang luar.'' Ucap Laura dengan wajah yang tersenyum paksa.
"Ah benarkah? Maaf Presdir dan nona saya sungguh tidak tahu soal itu.''
Laura hanya membalas pelayan itu dengan senyum lalu menatap Jack dengan tatapan kesal.
Ada apa dengan wanita ini? Aku bahkan lupa kalau aku punya Mysophobia. Tapi ekspresi wajahnya barusan seperti sedang kesal, apa jangan-jangan dia cemburu? Batin Jack sembari menatap Laura yang jalan terlebih dahulu.
Semetara itu, Laura yang tidak tahu kenapa dirinya merasa kesal ketika melihat pelayan tadi mendekati Jack hanya terduduk sembari merenung.
__ADS_1
Bersambung.