
Tetesan air hujan mulai membasahi dunia,tanah yang awalnya kering kini basah terkena sentuhan hangat air hujan,sebagian wilayah yang terdampak kekeringan parah mulai mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa karena karunia-Nya hujan mulai turun dengan derasnya.
Warga berbondong-bondong mengadakan acara syukuran,ada yang memasak,menyiapkan acara,hingga salat berjamaah dilakukan warga sebagai ucapan puji syukur kepada Nya.
Dena panggilan akrabku, Ayah memberiku nama demikian agar aku selalu bermanfaat dan menjadi pemimpin di mana pun aku berada.Dena Cantika Anggraeni nama yang cantik bukan?.
Aku cukup heran kenapa ayahku memberiku nama demikian,bukan karena aku tak menyukai nama tersebut tapi setau ku beliau adalah orang yang lucu semasa mudanya.
Dia mendapat julukan “Si Badut Kelas” saat duduk di bangku SMA,parasnya lumayan tampan,tapi Ayahku tidak memiliki sifat orang tampan pada umumnya karena Ayahku memilih untuk bersikap humoris kepada setiap orang yang ditemuinya.
Ayahku punya alasan yang kuat mengapa ia mau mempermalukan diri nya di depan banyak orang,Ayahku pernah berkata kalau ia ingin membuat setiap orang di sekitarnya tertawa dan bahagia,walaupun sebenarnya ia tidak sedang bahagia.
Ia akan menutupi segala kesedihan nya dengan cara membuat orang tertawa,aku sebenarnya malu saat tau Ayahku pernah bertindak demikian tapi lama kelamaan aku sadar kalau menjadi orang yang lucu tidak seburuk yang ku kira,malah sebaliknya tawa riang selalu terdengar di dalam rumah kami.
Tapi aku tidak seperti Ayahku,sifatku sangat bertolak belakang dengannya,entah mengapa aku lebih suka diam dan tidak terlalu suka bergaul dengan teman sebaya ku,aku selalu mengurung diri di rumah dengan segala pikiran negatif ku.
Aku akan bicara panjang lebar kepada orang yang membuatku nyaman saja,aku kadang berpikir kenapa aku tidak memiliki sifat seperti ayah?,pasti menyenangkan jika mampu membuat orang lain tertawa dan otomatis aku juga akan memiliki banyak teman.Tapi ayah selalu berkata tidak semua orang menyukai kita walaupun kita sudah berusaha untuk menjadi baik di mata mereka tetap saja pasti ada orang yang membenci kita.
Aku hanya mengangguk pelan,kalian salah besar jika mengira aku adalah tokoh utama dalam cerita ini,aku hanya tokoh pendamping yang selalu ada di samping tokoh utama.
Aku adalah diriku yang lain di saat diriku menjadi tokoh utama,aku lelah ingin rasanya membanting semua benda yang ada di sekitar ku.
Kalian masih bingung bukan?,sebenarnya aku memiliki dua kepribadian,dan kepribadian ku yang lain lah yang akan menjadi tokoh utama dalam cerita ini.
Aku tidak bisa secara jelas mendefinisikan kepribadian lain ku ini,karena saat aku bertukar jiwa pikiran ku seakan menyatu dan aku lupa semuanya.Berbeda dengan diriku yang hanya mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari,sangat menyedihkan bukan?.
Aku sadar ini adalah garis takdir yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Esa.Di dunia yang lucu ini aku menangis keras,sedang diriku yang lain sedang tertawa terbahak bahak.Apakah kalian sudah siap mendengar kisahku yang lucu ini?.
Tepat di awal tahun,aku baru saja merayakan ulang tahun ku yang ke -12 betapa bahagianya aku,saat semua sanak saudara datang berkunjung ke rumah untuk merayakan ulang tahunku.
Terharu rasanya apalagi Ayah memberiku sebuah buku novel keluaran terbaru yang ditulis oleh penulis kesayanganku.
Biasanya aku akan mengumpulkan uang terlebih dahulu selama sebulan untuk membeli 1 buku favoritku.
Betapa senang nya aku,ternyata Ayah langsung membeli kan 5 buku sekaligus untuk hadiah ulang tahunku.
Ingin rasanya memeluk Ayahku erat-erat kebahagiaan ini tidak sanggup ku definisi kan,setelah acara ulang tahunku selesai,beberapa saudaraku berpamitan dengan Ayah dan Ibuku hari sudah mulai gelap dan mereka harus pulang ke rumah sebelum malam tiba.
“Made aku pulang dulu ya sudah gelap soalnya”pamit salah satu saudara ku yang rumah nya di luar kota.
“Iya Tante, Mira pamit dulu ya, kapan-kapan Mira main lagi deh” seru seorang gadis yang sepantaran dengan ku dia adalah sepupuku.
Segera aku menoleh saat mendengar suara Mira,padahal saat itu aku sedang asyik membuka satu persatu kado ulang tahun ku.
__ADS_1
“Loh Mira kok pulang,katanya tadi mau tidur di sini!” teriak ku kesal.
“Eh sori Na aku baru dapat kabar kalau besok mulai sekolah jadi aku harus pulang sekarang, kapan-kapan aku kesini lagi deh”jawab Mira sambil menyatukan kedua tangan nya tanda minta maaf.
Aku mengerutkan kening,dan tanpa membalasnya aku langsung naik ke kamarku.Rasanya sedih bercampur kecewa ingin rasanya ku berteriak.
Aku memang sangat berharap kalau Mira akan menginap malam ini,tapi harapan ku pupus sudah dia malah harus pulang malam ini.
Saat aku membungkus diriku dengan selimut tiba tiba Ayah datang sambil mengetuk pintu kamarku.
“Dena?sudah tidur nak?” seru Ayahku pelan.
Sepertinya ia sadar kalau aku belum tertidur karena ia langsung masuk kamarku sebelum aku mengijinkan nya.
“Dena,Ayah punya cerita lucu loh,Dena mau dengar gak?”gumam ayahku pelan sambil mengelus kepala ku lembut.Aku tetap tak bergeming dengan bantal aku segera menutup telingaku.
Sebenarnya aku sangat ingin mendengar cerita Ayah,tapi kali ini aku sedang marah dan aku tidak boleh berhenti marah hanya karena cerita kuno Ayah.
“Waktu Ayah muda Ayah selalu mengajak teman Ayah untuk menginap” cerita Ayah pun dimulai tapi aku tetap tidak menggubris nya.
“Dena tau apa yang lucu dari cerita ini?”tanya Ayah sambil tertawa.
Tawa nya renyah dan aku mulai membuka selimut yang menutupi kepala ku.Penasaran bercampur heran melihat ekspresi wajah Ayah yang tidak seperti biasanya.
Aku ikut tertawa,memang seberapa seram film itu sampai teman Ayah mengompol begitu selesai menonton nya.
“Apakah teman Ayah adalah om Ridwan?”tanya ku penasaran.
Aku mengajukan pertanyaan itu karena aku tau bahwa Ayah cukup dekat dengan om Ridwan mereka adalah teman sejati dari bangku SMP.
“Sssttt...jangan bilang sama Om Ridwan nanti dia marah sama Ayah karena sudah menceritakan pengalaman memalukan ini kepada Dena” bisik Ayah pelan tepat di telingaku.
“Tapi beliin Dena cokelat ya Yah”teriak ku senang.Ayah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku ku,lalu mencubit pipi gembilku pelan.
“Iya tapi janji jangan bilang sama Om Ridwan”ucap Ayah sambil mengangkat jari kelingking nya.
Aku membalas kelingking Ayah sambil tersenyum ria,tak berapa lama suara ibu terdengar sedang memanggil kami.
Aku dan Ayah segera turun ke bawah untuk mengantarkan Mira dan keluarga nya pulang,mereka naik mobil pribadi berwarna hitam, mewah kelihatannya.
“Dena,aku pulang dulu ya”seru Mira sambil melambaikan tangannya.
Aku tetap tak bergeming,ku alihkan pandangan ku pada buku-buku yang baru saja diberikan Ayah sebagai hadiah.
__ADS_1
Ibu menatapku tajam lalu segera tersenyum pada Mira.
“Iya Mira hati-hati ya di jalan salam juga buat papa kamu”balas ibu mengganti kan diriku yang sedari tadi hanya terdiam.
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang sepi,sebenarnya aku sedih tidak bisa mengatakan dalam perpisahan padanya karena aku masih cukup kesal dengan kejadian tadi.
Jam menunjukan pukul 9 malam,aku segera membaringkan tubuh di atas kasur yang empuk,ditemani boneka berbentuk beruang yang kuberi nama Tobi karena bentuknya yang gembul.Sekitar pukul 11 malam aku terbangun karena mendengar suara berisik dari bawah.
Segera ku langkahkan kaki ku menuruni tangga,sambil membawa boneka beruang kesayanganku.Aku sepertinya belum sadar karena aku sempat melihat ibu menangis kencang entah karena apa.
Tiba tiba Ayah sudah memeluk ku dan menggendong tubuh ku yang lemas karena masih mengantuk.Ia lalu segera membawa ku ke kamar,semuanya gelap sepertinya aku sudah tertidur lelap.
Ayam berkokok menandakan hari sudah pagi.Tidak seperti biasanya rumah sangat sepi tidak ada candaan Ayah yang menghidupkan rumah kami,semuanya tampak sunyi.
Ketakutan mulai muncul di kepalaku,aku mengira bahwa Ayah dan Ibu meninggalkan ku entah kemana.Aku menangis kencang dan tiba tiba saja terdengar suara dari dalam loteng yang terletak di lantai paling atas.
Aku ketakutan tapi ku beranikan diriku untuk menaiki tangga,bunyi kriettt terdengar keras karena tangga yang ku naik sudah lumayan tua, apalagi aku sudah jarang menaiki tangga ini karena memang Ayah melarang aku naik ke atas loteng,ia beralasan takut kalau aku terjatuh.
Ku buka pintu masuk ke dalam loteng,dan mataku terbelalak melihat pemandangan aneh di depan mataku.Sebuah cermin dengan diameter yang cukup besar menghadap tepat ke arah ku.
Cukup tua hingga aku memberanikan diri untuk mendekati kaca itu.Pantulan diriku terlihat jelas di dalam cermin,sedikit buram memang tapi kedua mataku masih terlihat jelas di dalam sana.
Pantulan itu terus mengikuti semua gerakan ku,ya namanya juga pantulan cermin kalau tidak sudah beda ceritanya.
Itulah yang aku alami,tepat di depan mataku pantulan itu mulai menunjukan bentuk yang aneh.
Iya mulai mengucapkan sebuah kata tapi tidak terdengar suara nya yang aku tau dia berkata “Kau Adalah Aku”tanpa suara.
Hingga sebuah tangan menarik ku dari dalam loteng,aku berusaha melepaskan diri sebelum aku tersadar bahwa orang yang sudah menarik tangan ku adalah Ayahku sendiri!.
“Ayah kenapa Ayah ada di sini?”tanya ku heran sekaligus terkejut.
Ayah seperti baru menangis tapi entah lah,tanpa basa basi ia langsung memeluk tubuh mungilku.
“Ayah kan sudah bilang jangan masuk ke loteng kalau kamu jatuh bagaimana?”seru Ayah tepat di telingaku,aku hanya menunduk tanda bersalah.
Ayah saat itu mengenakan pakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki semua serba hitam!.Tak lupa kaca mata hitam melengkapi semuanya.
Setahuku Ayah sangat tidak menyukai warna hitam bagaimana bisa Ayah menggunakan warna hitam di seluruh tubuhnya?.
Apa jangan jangan ada sanak saudara yang baru saja meninggal?apakah itu nenek?tapi kan nenek sudah meninggal setahun yang lalu jadi tidak mungkin,beribu pertanyaan seakan berlalu lalang di dalam kepalaku itu membuatku sangat pusing.
Bagi Ayah warna hitam adalah warna yang menunjukan kesedihan.Tidak ada kebahagiaan di sana,kalian tau kan kalau Ayahku humoris?.
__ADS_1
“Ayah dari mana kenapa pakaian Ayah hitam semua?” tanya ku penasaran.Ayah tak menjawab ia hanya menggendong ku menuruni tangga dengan raut wajah sedih.