Psikologis

Psikologis
Black


__ADS_3

Terlihat Ibu juga sedang menyiapkan sarapan di dapur,betapa terkejutnya aku saat melihat mangkuk berisi sup jamur kesukaan Mira berada di sana,ibu tau kan kalau aku tidak suka sup jamur?


Apa ibu lupa kalau aku alergi kaldu jamur,rasanya tidak mungkin ibu bisa lupa,ibu kan yang sudah mengurusku selama 12 tahun ini jadi sangat mustahil!.


“Dena ayo turun kita makan bersama”seru ibuku saat melihat aku dan Ayah sedang menuruni tangga.


Aku tak bergeming,kutatap semangkuk sup jamur yang masih hangat di depanku.Sup ini bukan membuat nafsu makan ku meningkat tapi malah membuatku mual.


“Kenapa ibu membuat makanan ini?”teriak ku kesal pada ibu.


“Dan kenapa harus sup jamur makanan kesukaan Mira yang harus ibu buat?kan masih ada banyak makanan yang Dena suka Bu!”lanjutku marah marah tak jelas pada Ibuku.


“Kamu tidak perlu memakannya Dena kamu hanya perlu melihatnya sambil berdoa semoga Mira baik baik saja”jawab ibu ku sambil menatap nanar sup jamur nya yang mulai mendingin.


Apa yang dimaksud ibu?bukankan Mira selalu baik baik saja?tapi kenapa ibu berkata demikian?.


Semua pertanyaan berkumpul di kepalaku,muak rasanya aku pun berlari meninggalkan Ayah dan Ibu yang hanya duduk termenung seperti tak punya harapan hidup.


Seminggu setelah kejadian itu aku mulai bersekolah seperti biasanya.Sekarang aku sudah naik ke bangku kelas 1 SMP senang rasanya.Tapi aku harus bersiap menghadapi segala tantangan di kelas yang baru nanti.


Namanya Rendra teman sebangku ku dari SD,anak supel dia juga salah satu teman dekat ku yang selalu bermain denganku di saat jam istirahat tiba.


Semua orang membencinya tapi tidak denganku dia malah terlihat lucu seperti Ayahku.


“Dena my love seneng deh bisa ketemu sama kamu lagi”seru Rendra teman sebangku ku untuk kesekian kalinya jantung ku hampir copot mendengar celotehan nya.


“Apaan sih Ren,jauh jauh sana hari ini aku mau cari temen cewek aja”teriak ku tak kalah mengagetkan Rendra.


Bagaimana bisa dari sekian banyak SMP di Jakarta kenapa harus dia yang jadi teman sekelas sekaligus teman sebangku ku.


“Loh loh kok kamu jahat sih Na jadi selama ini kedekatan kita itu apa?”jawabnya sedikit lebay.


Aku tak bergeming kembali ku arahkan perhatian ku pada hadiah ulang tahun pemberian Ayah Minggu lalu.Tiba tiba saja Rendra menyodorkan sekotak cokelat di mejaku.


“Selamat ulang tahun”ucap Rendra dengan senyum paling manisnya.Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.


“Ternyata dia masih ingat ya?”,batinku.


Sementara itu di tempat lain terlihat seorang anak SMP berjaket bisbol sedang membawa setangkai bunga mawar yang baru dipetik nya,tangannya sampai berdarah terkena duri dari bunga tersebut.Diurungkan niatnya untuk memberikan bunga tersebut pada gadis pujaan nya.


Anak tersebut bernama Angga kakak kelas dari Dena,sekarang Ia duduk di bangku kelas 8 SMP,ia tersenyum tanpa makna dan berlalu meninggalkan kelas 7B kelas yang ditempati Dena dan Rendra.


Jam pelajaran pertama adalah matematika pelajaran yang paling dibenci setiap murid di sekolah, apalagi gurunya Pak Wisnu yang terkenal sangat galak di sekolah mereka.


“Hari pertama langsung matematika aja”gumam ku pelan.


“Iya aku juga kesal”jawab Rendra tak kalah sengit.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia mendengar suara sekecil itu,Rendra itu memang sangat berbeda aneh mungkin lebih tepatnya.


Pak Wisnu meminta setiap murid untuk membentuk kelompok,kami diminta untuk mengerjakan sebuah proyek yang diberi nama “Orang Pintar Mengajari Teman”begitulah nama proyek kali ini.


Aku sempat tertawa mendengarnya mungkin yang dimaksud Pak Wisnu adalah “Orang Pintar Mengajari Orang Bodoh”tapi karena Pak Wisnu tidak mau menyakiti hati kita jadi proyek itu diberi nama demikian.


Aku menjadi ketua kelompok kali ini karena nilai matematika ku waktu kelas SD cukup memuaskan,sedangkan Rendra menjadi anggota kelompokku karena ia tidak cukup pintar dengan pelajaran ilmu pasti ini.


“Sekian pelajaran hari ini, terimakasih dan selamat siang”ucap Pak Wisnu sambil berlalu pergi meninggalkan


kelas.


“Siang pak”jawab kami semua serempak.Aku menatap anggota kelompok ku secara bergantian,kenapa tidak ada yang pintar ya batinku.


“Apa yang sedang kamu pikirkan,kita gak akan jadi bebas kok”ucap Ratna salah satu teman ku tiba tiba.


Binggo tebakannya benar bagaimana mungkin dia bisa membaca pikiranku,seperti peramal saja,rumor itu sepertinya benar kalau Ratna itu bisa membaca pikiran.Tapi aku tidak boleh mengambil kesimpulan tanpa alasan yang jelas.


“Ya maafkan aku sudah berpikir demikian”jawabku sambil tersenyum kecut.


“Jadi semua yang dikatakan Ratna itu benar?”ucap Rendra menimpali.


“Sudahlah nanti kita akan mengerjakan tugas ini di rumah siapa?”tanya Vanya salah satu anggota kelompok kami.


“Bagaimana kalau di rumah ku saja?”jawab Rendra sambil mengangkat tangan nya.


Setelah aku dan Rendra sampai di kantin kami segera memesan makanan yang kami sukai,Rendra memesan bakso sedangkan aku memesan semangkuk soto hangat berserta es teh yang terlihat segar.


Saat kami memakan makanan kami,telihat sekelompok kakak kelas menuju ke salah satu meja di dekat kami,wajahnya tak asing ya dia adalah ketua anggota futsal sekolah SMP Intan Jaya.


Angga tetangga ku sekaligus anak teman Ayahku siapa lagi kalau bukan Om Ridwan.Aku kembali teringat cerita Ayah kalau Om Ridwan pernah mengompol hanya karena menonton film horor.Tawa ku tiba tiba meledak tak terbendung.


“Dena kamu kenapa ketawa?”tiba tiba Rendra menyikutku keras sepertinya dia sedikit ketakutan.


“Jangan bilang kamu suka sama kakak kelas itu?”seru Rendra membuatku hampir tersedak kuah soto yang pedas.


Mana mungkin aku suka dengan tetangga ku sendiri,dia memang tampan tapi dia tidak seperti Rendra yang asik kalau diajak berbicara,dia malah sebaliknya tatapan dan cara bicaranya sedingin es.


Aku saja sangat pendiam,bagai kulkas ketemu kulkas dingin nya jadi double.Mereka akan membeku sebelum bertemu!.


Tatapan kami bertemu,dia sepertinya sangat menginginkan sotoku batinku tak kalah aneh.


“Dena sudah yuk balik ke kelas”seru Rendra sembari menarik tanganku.Aku tak menolak karena memang jam istirahat sudah mau habis.


Kami berjalan melewati sekelompok kakak kelas itu,dugaanku benar bel berbunyi dan setelah bel berbunyi terdengar pengumuman dari ruang penyiaran.


“Diumumkan kepada seluruh siswa SMP Intan Jaya untuk segera berkemas karena hari ini jam pulan dipercepat karena guru guru sedang ada urusan terimakasih”

__ADS_1


Sontak semua murid berteriak kegirangan mereka berlarian masuk ke dalam kelas lalu keluar sekolah sambil membawa tas mereka masing masing.


“Dena aku mau pulang dulu ya nanti aku ke rumahmu”seru Rendra sembari melambaikan tangannya.


Aku ikut keluar sekolah dan berjalan menaiki angkot kuning karena hari ini ibu tidak menjemputmu karena ada urusan.


Saat aku naik ke dalam angkot betapa terkejutnya aku saat melihat Angga juga berada di dalam angkot tersebut.Sepertinya ia juga sama terkejutnya dengan aku.Sunyi hanya kamu berdua yang berada di dalam angkot tersebut.


Ingin rasanya memulai percakapan tapi aku begitu takut untuk memulainya.


“Mau pulang”tanya Angga tiba tiba dia terlihat kikuk setelah bertanya hal tersebut padaku.


“Gak, mau berenang ya mau pulang lah”batin ku dalam hati.Ingin rasanya aku melontarkan kalimat itu tapi ku urungkan.


“Iya kak”jawabku pelan.


Beberapa menit setelah perjalanan yang membosankan kami berdua turun dari atas angkot,kami harus masih berjalan memasuki perumahan karena letaknya yang masih jauh di pojok perumahan.


Rumah kami bersebelahan,setelah sampai aku berpamitan pada nya dan masuk ke dalam rumah.


“Aku pulang”teriak ku saat memasuki rumah.Sunyi,tak ada balasan.


Aku baru ingat kalau ibu sedang ada urusan di luar rumah,sedangkan Ayah lembur dan akan pulang nanti malam.Segera aja aku masuk kamar dan mengganti seragam ku yang basah dengan keringat ini dengan baju santai rumah.


Tiba tiba bel berbunyi,aku segera turun ke bawah dan membuka pintu,terlihat Ratna yang sedang berdiri di depan pintu,dengan membawa tumpukan buku tebal ditambah kacamata itu membuat nya seperti kutu buku.


“Ayo masuk”ajak ku pada Ratna.


Sunyi,ingin rasanya aku memulai pembicaraan tapi apa daya aku saja takut untuk memulai berbicara sepatah dua patah kata.Andai aku seperti Ayah pasti sekarang tidak akan secanggung ini.


“Aku ambil minum dulu”seru ku sambil berjalan ke arah dapur.


Aku kembali ke ruang tamu sambil membawa minuman dan beberapa makanan ringan,tiba tiba saja Ratna berada di sampingku sambil membisikan sesuatu.


“Pikiranmu ada dua”seru Ratna yang sontak membuat jantung ku copot.


“Ratna kamu kok bisa ada di situ?”ucapku gemas dan heran kenapa dia bisa muncul di sampingku secara tiba-tiba.Untung saja nampan yang aku bawa tidak terhempas dan terbang melayang.


“Kamu sangat unik,tidak pernah aku melihat seseorang seaneh kamu”ucap nya membuat ku merinding.


“Kamu kali yang aneh”batinku dalam hati.


“Aku tidak aneh”jawab Ratna tak kalah cepat.


Bagaimana bisa dia membaca pikiranku ini sudah kedua kalinya dia membaca pikiran ku,ini sudah sangat aneh jangan jangan rumor itu benar?.


Tak berapa lama setelah kejadian itu Vanya dan Rendra datang dan memecah kesunyian di rumah ku.Aku merasa lega setelah mereka datang.

__ADS_1


__ADS_2