
Angga tanpa sadar tersenyum ia teringat akan seseorang yang juga sangat menyukai warna biru.
Aku kembali mencari barang yang kuperlukan,pandanganku beralih pada sebuah tas hitam yang cocok untuk Angga.
Apalagi tas tersebut sedang diskon.
"Angga kamu beli itu aja"seruku sambil menunjuk tas bertuliskan diskon 20%.
Angga menggeleng.
"Kalau misal uangnya kurang aku tambahin"lanjutku tanpa mendengar penjelasan Angga.
Angga tersenyum lalu menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
"Diam dulu sebentar dong"ucap Angga berbisik kepadaku.
Sontak saja bisikan tersebut membuat pipiku bersemu merah.
"Gue udah punya banyak tas di rumah"lanjut Angga sambil merapikan hodienya.
"Terus ngapain kamu ngajak aku belanja?"tanyaku dengan kening berkerut.
Angga tertawa pelan.
"Iseng aja,pengen ngajak kamu jalan"jawab Angga sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Tinggi amat nih cowok"gumamku dalam hati.
Iri rasanya melihat tinggi badan cowok di depannya,maklum karena dari lahir ia tidak diberi oleh yang maha kuasa tubuh yang tinggi.
"Beli baju yuk"ajakku sambil menarik tangan Angga.
Angga hanya pasrah menerima ajakan dia sepertinya tidak berani menolaknya.
"Sumpah baju couple itu lucu banget"ucapku pelan.
Angga tersenyum lalu mendekatiku.
"Andai aku bisa couple sama Rendra pasti romantis"batinku dalam hati.
"Yaudah couple sama gue aja"seru Angga sambil menaruh kepalanya ke bahuku.
Tubuhku dengan reflek menjauh karena terkejut.
Angga tertawa pelan lalu mendekatiku satu langkah namun aku malah menjauhinya.
"Bercanda,ukuran baju gue sama Rendra itu hampir sama jadi lo beli aja buat dia nanti lo kirim ke Korea"seru Angga sambil mengambil baju itu.
Aku mengangguk heran, sepertinya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Setelah membeli sepasang baju couple kami berjalan ke arah restoran Jepang untuk makan siang,perutku sudah sangat lapar.
"Lo mau pesen apa?"tanya Angga sambil melihat buku menu.
"Ramen porsi jumbo sama es jeruk aja"jawabku singkat.
Angga mengangguk lalu memesan makanan pada pelayan di dekat kami.
"Mas beli ramen porsi jumbo 2 sama es jeruk 2"pesan Angga pada pelayan.
Pelayan mengangguk lalu pergi menyiapkan makanan.
"Kok sama?"tanyaku.
"Biar gak ribet"jawab Angga sambil menatapku.
Tak lama kemudian makanan dan minuman pesanan kami sudah datang,aku dengan antusias segera menikmatinya.
__ADS_1
"Telurnya setengah mateng lagi"gumamku pelan.
Angga yang awalnya akan menyuapkan ramen di dalam mulutnya terhenti.
"Kenapa Na?"tanya Angga heran.
"Gapapa"jawabku singkat.
Angga melihat ke arahku sejenak lalu menyendok telur matang yang ada di mangkuknya,ia kemudian mengambil telur setengah matang milikku.
"Kenapa diambil?"tanyaku terkejut.
"Lo kan gak suka telur setengah matang"seru Angga sambil tersenyum tipis.
Pipiku bersemu merah.
"Sepertinya dia masih ingat"batinku dalam hati.
Kami menikmati pesanan kami dengan lahap tidak terasa waktu sudah terbuang banyak.
"Mau pulang?"tanya Angga setelah membayar makanan kami.
Aku menoleh kemudian menggeleng.
"Aku mau ke toko buku dulu,kalau kamu mau pulang duluan aja"seru ku sambil berlalu.
Tiba tiba Angga memegang tanganku.
"Lo ke sini sama gue berarti lo juga pulang sama"ucap Angga serius.
Aku menelan ludah kasar kemudian mengangguk.
Kami naik eskalator menuju ke lantai paling atas tempat toko buku berada.
Di sana cukup sepi karena peminat buku kurang lebih sedikit,tapi menurutku buku buku di sini cukup lengkap dan terjangkau harganya untuk anak sekolah.
Apalagi suasana yang sepi sangat cocok untuk memilih buku yang akan dibeli.
Saat aku akan beranjak pergi dari rak satu ke rak lain di juga mengikuti.
Dan saat aku membuka buku di juga ikutan membuka buku,ini membuatku rada risih.
"Lo cari buku apa Na?"tanya Angga sambil membawa buku yang sangat tebal.
"Novel penulis kesayanganku"jawabku sambil tersenyum.
Angga mengangguk lalu kembali mengekoriku.
Saat aku sedang asyik memilih buku,pandanganku teralihkan oleh seorang pria yang juga sedang memilih buku.
Wajah dan rambutnya tidak asing dan aku sangat mengenalnya.
Itu anak SMA Alexander yang mengundangku untuk jadi anggota OSIS SMA Alexander.
Dia juga orang yang tadi pagi sedang memberi makan Kucing dan Anjing liar.
Hatiku terenyuh saat melihat setetes air mata menetes di pipinya.
Sepertinya dia sangat terhanyut dengan cerita yang ada di novel tersebut.
Atau mungkin dia memang sedang memikirkan hidupnya yang penuh dengan penderitaan.
Aku menghampirinya lalu menyapanya.
"Hai"sapaku.
Cowok berambut putih itu hanya menatapku dengan sorot mata kosong.
__ADS_1
Aku jadi malu karena dia tidak membalas sapaanku.
"Ray ngapain lo di sini?"suara Angga terdengar di belakangku.
Kami berdua kompak menoleh.
"Lagi cari buku"jawab pria yang kuketahui bernama Ray.
"Sendirian?,anak-anak lain mana?"tanya Angga lagi.
"Lagi sibuk di ruang OSIS"jawabnya dengan ekspresi datar.
"Angga kamu kenal cowok ini?"tanyaku penuh tanda tanya.
Angga menoleh ke arahku lalu mengangguk.
"Temen sekolah"jawab Angga singkat.
"Gue duluan ya Ray"ucap Angga sambil menarik tanganku.
Aku terkejut melihat Angga menarik tangaku padahal aku belum selesai memilih buku.
"T..tapi"jawabku terpotong.
"Kita pulang sekarang ya udah sore soalnya"seru Angga sambil tersenyum ke arahku.
Aku tak bisa menolak,padahal aku berniat untuk membeli buku lebih dari satu,tapi yang ada di tanganku hanya satu buah buku.
Aku terdiam dengan wajah masam,Angga yang melihatku tersenyum penuh arti.
"Nanti gue beli semua buku di sini"bisik Angga tepat di telingaku.
Aku terlonjak kaget.
"Apa dia gila?"batinku.
"Satu buku ini aja cukup kok"jawabku sambil tersenyum kecut.
Tiba tiba muncul Ray dengan wajah datarnya yang membuatku kaget untuk kedua kalinya.
"Gue juga mau pulang"ucap Ray sambil berlalu pergi.
"Hati hati awas tembok putih"jawab Angga.
Aku menyenggol tangannya pelan.
Setelah membeli semua keperluan sekolah,kami berjalan ke arah parkiran motor seperti biasa Angga memakaikan helmnya padaku.
"Udah siap?"
Aku mengangguk mantap.
Motor melaju kencang menyatu dengan keramaian kota.
Aku hanya meringis mengingat kejadian tadi,tak berapa lama kami akhirnya sampai di depan rumah.
"Gue pulang dulu"pamit Angga.
"Tunggu"ucapku sambil menyodorkan sebuah tas kertas.
"Ini apa?"tanya Angga heran.
"Nanti kamu juga tahu,itu sebagai tanda terimakasih karena kamu sudah mau nemenin aku"seruku sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Angga tersenyum dan melajukan motornya masuk ke garasi rumah.
Angga hanya melepas sepatu lalu menghidupkan lampu di kamarnya,ia kemudian membuka hadiah dariku.
__ADS_1
Baju couple yang tadi dipilih Dena sangat cocok untuk pasangan.
Angga heran kenapa Dena memberikan baju tersebut padanya.