
Terlihat di lukisan tersebut ada Angga kecil,Tante Nina dan seorang kakek kakek Belanda yang sudah terlihat lanjut usia.
Pantas saja wajah Angga masih ada keturunan Belanda nya,itu membuat nya tambah tampan.Dengan hidung yang mancung,tubuh tinggi semampai dan lesung pipi yang membuat senyum nya bertambah manis seratus kali lipat!,tapi sayang si dingin Angga itu masih jarang terlihat.
Kuakui wajah Om Ridwan tidak kalah tampan dari wajah Angga,tidak jauh berbeda karena ayah Om Ridwan memang orang asli Belanda sedangkan Ibunya berasal dari Indonesia tepatnya di Jawa.
Tak bisa kualihkan pandangan ku dari lukisan ini seperti ada makna di balik lukisan hitam putih kuno itu,lukisan ini seakan menyihirku untuk tak beranjak pergi walau hanya 1 cm.
Aku menghela nafas panjang berharap kalau keluarga ku juga harmonis seperti keluarganya Angga,tapi sejak ulang tahunku Minggu lalu semua harapan itu berubah Ayah jadi sering pulang larut malam Ibu selalu pergi bermain entah kemana.Aku hanya bisa menelan kenyataan pahit bahwa Ayah dan Ibuku sudah tak sayang kepadaku.
Tubuhku seketika terasa dingin, seperti ada seseorang yang sedari tadi sedang melihatku dari kejauhan,apakah itu Angga?ku langkahkan kaki ku perlahan menuju kamar Angga,rasanya takut bercampur rasa ingin tahu,tapi rasa penasaran ku seakan mengalahkan rasa takutku.
Terlihat pintu kamar Angga sedikit terbuka menyuguhkan pemandangan yang menggetarkan hati.Terlihat Angga sedang bergelut dengan tumpukan buku buku yang bahkan tidak aku pahami,buku tersebut sangat tebal membayangkan isinya saja sudah membuatku mual apalagi membaca isinya di malam hari.
Aku mendekati Angga dan menengok apa yang sedang ia baca,dia kaget bukan main sampai mengucapkan sumpah serapah andalan nya padahal aku sama sekali tidak berniat mengganggu nya.
“Dena?”seru Angga singkat sambil memegangi dadanya.
Aku hanya tersenyum, seperti nya dia masih kaget sampai tidak sanggup mengeluarkan kata kata.
“Kamu lagi baca apa?”tanya ku sambil duduk di pinggir kasur.
Hening sepertinya si dingin Angga ini tidak ingin diganggu di saat waktu sakral nya,aku tersenyum kecut dan melihat isi kamarnya yang sebagian besar dihiasi warna biru laut.
“Kamu sepertinya suka biru laut ya?”seru ku masih kagum dengan kamar Angga.
Angga menoleh sepertinya ia tertarik dengan pembicaraan ini.
“Ya aku sangat suka laut karena aku bertemu Rara di laut”jelasnya dengan raut wajah sulit diartikan.
Aku kembali melihat lihat isi kamarnya,cukup indah namun cukup membosankan karena isinya hanya buku,buku, dan buku itu membuat kepala ku pusing.Ku tatap sebuah vas dengan cat berwarna biru pudar yang diatasnya terdapat setangkai bunga mawar yang terlihat sudah layu.
“Mawar nya sudah layu”gumamku pelan.
Angga tak menggubris ia kembali asik dengan dunia nya,ya dunia kutu buku.Aku kembali melihat hamparan rak buku yang tertata rapi di kiri pojok ruangan,perhatianku terhenti saat melihat satu buah buku bersampul putih polos namun ada noda darah di depannya.
“5 Psikologis Ini the world”aku membaca pelan judul buku itu.
“Letakkan buku itu kembali ke tempatnya!”teriak Angga marah.
Aku sontak kaget dan secara tak sengaja menjatuhkan buku itu ke lantai kamar beralaskan karpet bulu.Buku itu malah terbuka ke halaman 77.
“Deppresion”gumamku pelan.
__ADS_1
“Kamu bisa membacanya”Angga berdiri kaku tepat di depanku.
Aku tak mengerti apa yang diucapkannya karena dia mengucapkan kalimat tersebut dengan bahasa Belanda,apakah aku ini bahasa Inggris saja susah kumengerti apalagi bahasa Negara kincir angin itu.
“Hah apa yang kau bicarakan?”tanyakan sembari meletakan buku itu kembali ke tempatnya.Angga hanya menggeleng tepat saat ingin mengeluarkan kata kata bel berbunyi nyaring menggema ke seluruh ruangan.
Aku berlari antusias menuju pintu,dan dugaanku benar itu Ayah dan Ibu yang siap menjemput ku,walaupun aku tahu mereka habis saja bertengkar tetap saja tidak membuat rasa senang ku luntur aku memeluk kedua nya merasakan dekapan hangat dari kedua orang tuaku.
Mereka hanya tersenyum getir melihat wajahku yang masih lugu seperti anak kecil,seketika mereka berdua melupakan semua masalah yang sedang mereka hadapi dan meraih tanganku untuk digandeng.
“Nina Ridwan kami pulang dulu ya terimakasih sudah menjaga Dena!”teriak Ayah keras sambil tersenyum ke arahku.
Senang rasanya melihat kedua orang tuaku kembali,tapi firasatku tidak pernah salah.Ini baru permulaan, permasalahan yang sebenarnya baru saja dimulai,detik ini di ulang tahun ku yang ke 15 tepat saat aku duduk di bangku SMA aku akan melewatinya.
Hari kelulusan
Sekitar pukul 5 dini hari,aku bangun dari tempat tidur dan segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu setelah itu aku menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
Setelah sholat subuh aku segera mandi dan bersiap siap untuk berangkat ke gedung Farhana,gedung dengan tembok serba putih yang sudah di setujui setiap murid untuk dijadikan sebagai tempat pagelaran sekaligus Wasana warsa perpisahan kami.
Setelah mandi aku bergegas mengganti baju tidur ku dengan kebaya milik Ibu yang berwarna merah muda dengan pernak pernik Bunga yang mewah.
“Ibu tidak lupa ya”batinku.
Ayah dan Ibu sudah berada di meja makan saat aku terdiam di anak tangga terakhir panggilan Ibu membuyarkan semua lamunanku.
“Dena ayo sarapan Ibu sudah masak nasi goreng kesukaan kamu”seru Ibu sambil menyajikan nasi goreng di atas piring.
Aku menghela nafas panjang,Untung saja Ibu segera menyadarkan ku kalau tidak mungkin aku sudah terjatuh dari tangga sedari tadi.
Ayah masih asik membaca koran tepat di depan ku suasana meja makan rasanya sangat hangat.Maklum saja setahun belakangan ini Ayah dan Ibu lebih sering ada untukku,mereka sudah berubah tidak seperti dulu yang selalu meninggalkan ku hingga malam menjelang.
Ayah juga masih humoris walaupun tidak selucu dulu,mungkin karena faktor usia tapi tak mengapa asal kehangatan ini masih bisa kurasakan.
Setelah selesai sarapan,Ibu membereskan piring piring kami sedangkan Ayah memanaskan mobil berwarna silver metalik kesayangan Ayah,Layu namanya.
Aku berdiri di balik pintu ku pakai sepatu berwarna putih yang baru saja ku beli Minggu lalu.
Aku juga memakai hodie yang dihadiahkan Ayah bulan lalu tepat di hari ulang tahun ku yang ke 15.
“Ibu,Dena ayo berangkat sudah siang ini”teriak Ayah dari luar.
Aku segera menggandeng tangan ibu lalu masuk ke dalam mobil Ayah,aku duduk di kursi penumpang sedangkan Ibu duduk di kursi depan.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang memecah kemacetan di Ibu kota,maklum saja hari ini macet hari kelulusan membuat perjalanan hari ini cukup membosankan.
Sekitar pukul 8 kami bertiga sampai ke tempat tujuan,setelah sampai kami tak langsung masuk ke gedung Farhana tapi kami mampir dulu ke sebuah cafe di pinggir jalan untuk membeli kopi.
Karena aku tidak suka kopi aku lebih memilih hot cokelat aku tubuhku rileks.
“Akhirnya hari yang ditunggu sudah tiba”ucap Ayahku tiba tiba.
Aku tersenyum sambil menyeruput cokelat panas di tanganku.
“Iya anak kita sudah besar ya Yah”jawab ibu dengan raut wajah terharu.
Kami bertiga masuk ke dalam,saat di gedung Farhana aku bertemu dengan ketiga teman ku Vanya,Ratna dan tentunya Rendra teman sebangku ku.
Vanya dan Ratna terlihat cantik dengan setelan kebaya bergaya minimalis sedangkan Rendra sangat tampan dengan jas berwarna hitam yang dia pakai,aku sampai tidak mengenali dia.
“Gila cantik bener nih”goda Rendra sambil cengengesan.
“Tuan muda dari mana nih”jawabku balik menggoda.
Dia melipat tangan nya malu pipinya sampai memerah mendengar godaan ku.
Ratna masih seperti biasanya pendiam dan tak bisa ditebak,padahal kami selalu bermain bersama di jam istirahat dari makan di kantin sampai ke kamar mandi pun bersamaan.
Perbincangan kami berhenti saat pembawa acara muncul dan mengucapkan selamat datang kepada tamu yang hadir,aku duduk di samping Ayah dan Ibu yang sedang asik menikmati makanan selamat datang.
“Acara akan diawali dengan tarian dari kelas 8 yang menceritakan 7 bidadari yang terjebak di dunia manusia,acara dilanjutkan dengan drama Malin Kundang yang dibawakan oleh siswa siswi kelas 7”seru pembawa acara dengan raut wajah bersahabat.
Aku menguap bosan sangat bosan,tapi aku harus menunggu sampai acara selesai.Setelah drama Malin Kundang ditampilkan kini giliran pembagian penghargaan kepada siswa siswi yang berprestasi selama ada di SMP Intan Jaya.
“Baiklah juara umum 3 adalah Indah Prameswari”ucap pembawa acara,suara tepuk tangan menggema di gedung Farhana.
Tapi anehnya raut wajah Indah malah terlihat muram dan sedih.
“Dilanjutkan dengan juara umum 2,Ratna Antika Monata”lanjut sang pembawa acara girang.Tepuk tangan semakin meriah,Ratna kemudian maju dengan kaca mata tebalnya.
“Dan yang paling ditunggu tunggu Juara umum pertama dengan sejarah murid paling berprestasi di SMP Intan Jaya adalah”Seru pembawa acara meninggi.
“Denaaa!...”Tepuk tangan meriah mengiringi Dena yang berjalan menaiki panggung dengan senyum manis nya,ia tidak percaya akan apa yang terjadi dengannya saat ini.
Ini semua berkat orang tuanya yang selalu ada di sisinya,Kepala sekolah SMP Intan Jaya berjalan pelan di depan para juara umum lalu memberikan hadiah berupa sertifikat,uang,dan tentunya piala penghargaan.
“Dan untuk Dena silahkan berikan pesan kepada orang terdekat dan para hadirin”Celetuk pembawa acara sambil mempersilahkan Dena untuk mengambil alih acara.
__ADS_1