Psikologis

Psikologis
Swimming pool


__ADS_3

Angga berjalan ke arahku lalu menggandeng tanganku erat,terlihat banyak sekali anak sekolahanku tampak iri karena melihat kemesraan kami.


Aku segera menepis tangan Angga,dan sedikit menjauh darinya,Angga sepertinya sadar bahwa sikapnya sudah sangat berlebihan.


Raut wajahnya berubah 180° menjadi murung dan dingin.


Aku menelan ludah kasar lalu berlalu ke tempat minuman bersama Vanya dan Ratna.


Aku mengambil minuman berwarna merah darah,sepertinya itu sirup dan aku sangat berharap kalau itu bukan alkohol.


Karena memang peraturan di sekolahan kami dilarang keras mengadakan pesta alkohol untuk anak di bawah umur.


Aku mengambil beberapa kudapan dan membawanya ke kursi pojok dekat kolam renang.


Angga sepertinya tidak terlalu akrab dengan teman teman sekelasnya.


Karena dia sedari tadi hanya sendirian di meja yang menyediakan minuman,aku sebenarnya ingin menghampiri.


Tapi karena Vanya dan Ratna masih di sini kuurungkan niatku untuk menghampirinya.


Acara dimulai dengan pemakaian topeng di wajah semua orang.


Party pun dimulai,semua orang orang terhibur dan senang menikmati semua acara yang ada.


Alunan musik dari yang mengalun lembut hingga membuat orang menutup telinga dimainkan hingga larut malam.


Hingga insiden itu terjadi,seorang gadis yang sangat kukenal dan wajahnya tidak asing mendorong Ratna hingga jatuh ke kolam renang.


Aku terkejut dan segera berlari menghampiri kerumunan orang yang mengelilingi kolam renang.


Gadis itu adalah Indah,juara umum 3 di sekolahku,tanpa rasa bersalah ia lalu keluar dari gerbang sekolah.


Gaun putihnya kotor terkena tumpahan minuman berwarna merah,saat bertengkar dengan Ratna temanku.


Aku tidak bisa berbuat apa apa karena aku memang tidak bisa berenang.


"Itu Ratna kenapa ada di sana?"teriak Vanya panik.


Aku menggeleng dengan raut wajah gelisah.


Ratna terlihat sangat kesulitan untuk berenang,untuk bernafas saja sudah tidak sanggup.


Nafasku ikut tercekat,aku menoleh ke kiri dan kekanan namun aneh semua orang tidak ada yang mau membantu.


"Kenapa tidak ada yang mau membantu?"batinku.


"Ratna tenang aku bakal cari bantuan"teriakku panik sambil berlalu mencari Angga.


Mungkin ia dapat membantuku,aku berlari ke segala arah untuk menemukannya,namun hasilnya nihil.


Hingga aku melihat Angga sedang bersender di tangga sekolah dengan membawa minuman.


"Angga tolongin,Ratna tenggelam!"teriakku panik sambil menarik tangan Angga kencang.

__ADS_1


Angga hanya terdiam tak bergeming,dia seperti terkena sihir yang membuat dirinya tidak mampu melakukan apa apa.


"Lo tenang dia gak bakal kenapa kenapa"jawab Angga sambil menyeruput sirupnya.


Aku berhenti kaget lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.


"Maksud kamu apa?,Ratna itu tenggelam dan sekarat,kamu nyuruh aku buat tenang aja?"bentakku dengan amarah memuncak.


Angga mendekatiku lalu membisikan sesuatu ke telingaku.


"Sebentar lagi akan ada yang menolongnya"bisiknya lembut.


Aku terdiam menatap wajah Angga heran dan bingung.


Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk berdebat dengan Angga,aku harus segera menolong Ratna.


Saat aku tiba di pinggir kolam renang aku melihat pemandangan yang sangat di luar nalar.


Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Ratna sedang digendong oleh seorang pria berambut putih dan berbaju serba hitam.


Matanya ungu sedangkan sekujur tubuhnya dingin seperti mayat yang baru dibekukan.


sekujur tubuhku merinding.


Menatap semua kejadian ini dengan penuh tanda tanya,aku sangat mengenal laki laki itu.


"Ray"gumamku sangat pelan.


Dia lalu menoleh dengan tatapan tajamnya seperti ingin memangsaku.


Bibirnya merah terkena warna dari minuman yang baru ia minum.


Ratna sudah selamat dari ambang kematian,ia hanya terbatuk-batuk setelah diselamatkan dari dalam kolam renang.


"Ratna kamu gapapa?"teriakku sambil berlari ke arah Ratna.


Ratna mengangguk dengan wajah yang teramat pucat,sedangkan rambut dan gaunnya basah kuyup.


Aku kemudian memberinya sebotol air mineral untuk di minum,sesaat setelah dia minum,Ray lalu menghampirinya.


"Lo lolos,tapi urusan kita belum selesai"bisiknya tepat di telinga Ratna.


Walaupun sangat pelan dan hampir tidak terdengar,suara itu malah mendengung di telingaku.


Sekitar pukul 10 malam semua orang yang mengikuti acara prom night pulang ke rumah masing-masing.


Aku cukup kecewa dengan akhir acara prom night di sekolahku,karena sebuah insiden acara penobatan queen and king malam ini jadi dibatalkan.


Aku menuntun Ratna perlahan keluar dari sekolah dibantu Vanya yang dengan sigap memegangi tangan sebelah kiri Ratna.


"Kamu yakin gak mau ke rumah sakit?"tanyaku dengan raut wajah khawatir.


Ratna menggeleng dengan senyum tipis di bibir pucatnya.

__ADS_1


"Yaudah aku anterin pulang ya?"bujukku.


"Aku sebentar lagi dijemput sama papa aku"jawab Ratna sedikit bersusah payah.


Aku mengangguk,tak berapa lama mobil Ayah Ratna tiba di depan sekolah.


"Ayo nak bareng kita sekalian"ajak Ayah Ratna.


Aku menggeleng sopan.


"Gapapa om rumah saya dekat kok"tolakku dengan sopan.


Mobil milik Ayah Ratna melaju membaur dengan jalanan Ibukota sedangkan aku hanya terdiam sambil menatap kosong.


Aku menghela nafas panjang lalu membalikan badan,betapa terkejutnya aku saat melihat Angga sedang berdiri tepat di depanku.


Aku hampir menabrak dadanya yang bidang,membuat rambutku sedikit berantakan.


"Lo pulang bareng gue"seru Angga sambil berlalu ke arah parkiran sekolah.


Aku mengejarnya lalu menggeleng.


"Gak usah aku bisa naik taksi"tolakku halus.


Raut wajah Angga berubah drastis,yang awalnya dingin menjadi sangat dingin.


Dia seperti kulkas berjalan yang dinginnya bukan main.


Aku terdiam lalu menelan ludah panjang.


"Lo berangkat bareng gue,berarti lo harus pulang sama gue"ucap Angga sambil menatap kedua mata Dena.


Aku hanya terdiam dan tak sanggup mengeluarkan kata kata lagi,aku sampai harus menahan nafas karena memang wajah Angga sangat dekat dengan wajahku,sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya yang semakin cepat.


Angga berjalan dengan sangat cepat,aku sampai tak bisa menyejajarkan langkahku.


Punggung Angga semakin menjauh itu mengingatkanku dengan Rendra,aku sangat rindu dengan candaan cowok itu.


Saat ini aku sudah berada di dalam mobil mewah milih Angga,mungkin lebih tepatnya milik Om Ridwan.


Udara semakin dingin,sedangkan rintik hujan mulai membasahi jalanan Ibu kota.


Kaca mobil Angga berembun membuatku tidak dapat melihat keadaan di luar sana.


"Udah sampai,jangan lupa cuci kaki,gosok gigi sama baca doa"celetuk Angga saat aku akan turun dari mobil.


"Apaan sih emang aku anak kecil?"batinku.


Kepulanganku langsung disambut Ibu dan Ayah yang siap mengomeliku kalau aku pulang lebih dari waktu yang sudah ditentukan.


Mereka sampai menyiapkan sapu lidi dan sebuah koran untuk memukulku.

__ADS_1


Ini cukup menakutkan.


__ADS_2