
Aku diletakkan di ranjang rumah sakit,orang tua ku tidak terlihat sepertinya mereka masih sibuk mencari ku setelah aku kabur tadi.
"Dena apa kau ingat saat kita main ayunan?"tanya Angga pelan.
Aku tak menjawab karena aku masih pura pura pingsan.
"Kita pernah berjanji kalau kita akan menikah dan bersama selamanya"ucap Angga lirih.
Aku tertegun mendengar kata kata Angga yang sangat menyiksa batin.
Entah kenapa aku sedikit menyesal menerima pernyataan cinta dari Rendra,segera kuhempas jauh jauh prasangka buruk itu.
Rendra adalah teman ku yang sekarang sudah resmi menjadi kekasih ku,aku mencintainya lebih dari apapun.
"Aku mencintaimu"gumam Angga pelan namun aku dapat mendengarnya dengan jelas.
Jantung ku berdegup kencang,nafaskan menderu tidak karuan,hatiku terasa sesak.
Angga kemudian berjalan pergi keluar dari kamar,tak berapa lama Ayah dan Ibu datang ke kamar ku saat ada seseorang yang mereka kira sebagai petugas rumah sakit menghubungi mereka,bahwa Dena sudah kembali ke kamarnya.
Dena tahu betul kalau orang itu adalah Angga yang baru saja keluar dari kamarnya.
Aku membuka mataku perlahan saat sesesok wanita berambut sebahu memeluk erat diriku.
Aku balas memeluk nya tak kalah erat.
"Maaf Bu kalian jadi khawatir gara gara aku"gumam ku sambil terus membenamkan wajahku di pelukan Ibu.
Ibu mengangguk.
"Tidak apa sayang"jawab Ibu pelan.
Saat aku tertidur terjadi sebuah insiden yang mungkin tidak akan pernah kulupakan.
Keesokan paginya aku terbangun di ranjang rumah sakit,terlihat Ibu masih setia menunggu ku hingga pagi,sedangkan Ayah mungkin sudah berangkat kerja sejak tadi.
Ibu ikut terbangun lalu mengambil semangkuk bubur panas yang baru saja diantar suster.
"Ayo nak makan dulu"bujuk Ibuku sambil menyodorkan sesendok bubur hangat.
Aku menggeleng dan merasa tidak nafsu makan.
"Aku tidak lapar Bu"jawabku sembari menutup mulut.
Ibu menghela nafas panjang dengan raut wajah sedih,aku merasa bersalah dan mau tidak mau aku harus memakan bubur yang terasa hambar bagiku.
"Nah gitu dong"seru Ibu ku,senyum kembali mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum getir sambil terus mengunyah bubur di mulut,benar dugaan ku rasanya hambar dan pahit.
Aku kembali memikirkan Angga yang tadi malam membawa ku ke sini,tapi bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang berada di bandara,apakah dia sedang menguntit ku?.
Ribuan pertanyaan menghempas kepalaku dengan keras,padahal aku sama sekali tak bisa menjawabnya.
Aku memutuskan untuk menonton tv sejenak untuk melupakan segala pikiran tentang Angga.
Aku menonton tayangan berita,namun betapa terkejutnya aku saat melihat nama rumah sakit yang tertera di layar rumah sakit sama dengan rumah sakit tempat aku dirawat!
Aku kaget bukan main,nafas ku semakin berat dan udara di sekitarku semakin tipis.
Aku kembali memperhatikan layar tv dengan seksama.
Kemarin malam tepat pukul 00.00 terjadi sebuah insiden yang sangat menyeramkan di lantai paling atas rumah sakit.
Seorang gadis berusia 17 tahun meninggal dunia karena bunuh diri.
Diketahui gadis tersebut menderita kanker payudara stadium akhir sedangkan Ayah nya melarikan diri meninggalkan utang yang sangat banyak hingga tak sanggup ia bayar.
Sedangkan Ibunya adalah kupu kupu malam yang saat entah dimana keberadaannya.
Aku tertegun saat melihat waktu ia mengakhiri hidupnya,tepat sepuluh menit sesudah Angga pergi.
Apakah ini sebuah kebetulan belaka?
Aku naik ke dalam mobil Ayah.
"Sudah sehatan nak?"tanya Ayahku sambil memegang kemudi di tangannya.
Aku mengangguk sedangkan Ibu terus menggandeng tanganku sesaat setelah keluar dari rumah sakit.
Sesampainya di rumah aku langsung membaringkan tubuhku di atas kasur empukku.
Aku langsung membelalakkan mata saat teringat bahwa aku belum mendaftar di SMA manapun.
"Ayah Ibu Dena mau daftar sekolah"seru ku sembari menuruni tangga.
Ayah dan Ibu menoleh hampir bersamaan,memecah kesunyian di ruang makan.
"Memang kamu mau daftar sekolah di mana nak?"tanya Ayahku sembari mengaduk kopi hitamnya.
Aku menggeleng tidak tahu aku sebenarnya juga ingin meminta pendapat kedua orang tuaku.
"Nilai Dena kan bagus jadi Dena harus sekolah di sekolahan favorit dong"balas Ibuku sembari membawakan kue buatannya.
"Sekolahan favorit?"gumamku pelan.
__ADS_1
Tiba tiba terdengar ketukan pintu dari luar rumah,aku segera berjalan menuruni tangga dan membuka pintu.
"Ratna?"gumam ku saking terkejutnya.
"Hai"ucapnya lirih.
Aku mempersilahkan Ratna masuk,setelah ia duduk di ruang tamu aku segera mengambil minuman dan beberapa cemilan dari dalam kulkas.
"Ada apa Ratna sampai kamu harus datang kemari?"tanyaku sambil meminum jus jeruk.
Ratna menoleh,lalu tersenyum manis.
"Aku ingin mengajakmu mendaftar sekolah bersama sama"ucap Ratna lirih.
"Sekarang?"tanyaku terkejut.
Ratna mengangguk sambil memperlihatkan dokumen yang diperlukan termasuk serfitikat prestasi yang ia dapatkan selama di SMP.
"Kita pasti akan dapat beasiswa di SMA nanti dengan nilai ujian kita"jelasnya sambil tersenyum.
"Aku harus ikut dengan nya atau tidak?"gumam ku dalam hati.
"Kau harus ikut ini peluang besar sebelum pendaftaran ditutup"ucap Ratna sambil tersenyum.
Ini sudah sekian kalinya ia membaca pikiran Dena tapi bagaimana bisa.
"Kau pasti berpikir kenapa aku bisa membaca pikiran mu kan?,kau akan menemukan jawaban nya jika kau bersekolah di SMA Alexander.
Aku tersenyum getir,aku tahu betul SMA Alexander itu seperti apa.Sekolah yang bergaya arsitektur Eropa dan memiliki nilai yang bagus di mata orang orang.
Sekolah favorit yang ada di kota Jakarta,hanya murid murid dengan nilai tertinggi dan jabatan besar yang bisa sekolah di sana.
Tapi sayangnya jika kita bersekolah di sana,kita harus mengikuti peraturan sekolah yang sangat ketat.
Kasta sangat diperhitungkan di sana.
Jika kalian tak pintar tak mengapa tapi kalian harus berasal dari keluarga kaya dan jika kalian tidak kaya setidaknya kalian harus pintar melebihi guru yang ada di sana.
Jika aturan tersebut di langgar dijamin hidup kalian tidak akan tenang.
Aku menelan ludah pahit,rasanya takut tapi aku sangat ingin masuk ke sekolah favorit ini agar aku tahu rahasia besar di balik semua pertanyaan ku.
"Baiklah tapi aku harus minta ijin ke orang tua ku dulu"jawabku sambil berdiri meninggalkan ruang tamu.
Ratna mengangguk sambil tersenyum tanpa makna.
"Ayah Ibu aku sudah memutuskan akan bersekolah di SMA Alexander"ucap ku dengan nada bicara serius.
__ADS_1
Ayah dan Ibu nampak kaget namun mereka tetap tenang.