Psikologis

Psikologis
My family


__ADS_3

Suasana canggung akan hilang karena ada Rendra si tukang cerewet.


“Kami datang”teriak Vanya dan Rendra bersamaan.


Aku tersenyum senang dan segera menghampiri mereka,begitu juga Ratna yang segera mengekor di belakang ku.


“Ini Na mangga dari tetangga kamu,katanya buat kamu”seru Vanya sembari menyodorkan seplastik mangga matang.


“Dari siapa?”tanya ku heran.


“Itu lho kakak kelas kita yang kamu suka


”sambar Rendra sinis dengan menekankan kata suka.


Aku hanya mengangguk pelan,lalu membawa mangga itu ke dapur.Tak perlu waktu lama kami segera mengerjakan tugas kami yang susah itu.


Bukan Rendra namanya kalau tidak membuat suasana yang awalnya tegang menjadi cair.Dia segera menceritakan lelucon nya yang lucu.Tidak begitu lucu sih bagi kami tapi tidak mengapa suasana di sini jadi tidak terlalu tegang.


“Kalian tau rumor yang lagi hot di sekolah kita gak sih?” Ucap Rendra mengawali cerita.


Kami semua menggeleng dan mendengarkan cerita Rendra dengan seksama.


“katanya di sekolah kita ada beberapa murid istimewa”lanjut Rendra dengan raut wajah serius.


Mungkin yang dimaksud Rendra adalah murid murid berprestasi yang menjuarai suatu perlombaan seperti Angga yang selalu menjuarai turnamen futsal antar sekolah.Tapi ternyata dugaan ku salah.


“Apakah kalian tahu tentang Psikologis In The Year”?tanya Rendra antusias sambil meminum segelas es jeruk nya hingga habis, tenggorokan nya sangat kering karena sedari tadi dia bercerita tanpa henti,dilanjutkan aktivitas nya dengan memakan kue beruang yang aku sediakan.


“Ya Aku tahu itu”jawab Ratna dengan ekspresi datar.


Aku penasaran apa arti dari semua ini, Psikologi berarti ada kaitannya dengan jiwa manusia kan?,ataupun batin seseorang entahlah setahuku depresi adalah gangguan psikologis yang menyebabkan kualitas hidup seseorang menjadi menurun.Karena aku pernah diceritakan oleh Ibunya Mira yang notabenenya seorang psikolog ternama di Jakarta.


Seingatku aku juga pernah dibawa ke psikolog,karena gangguan jiwa yang kualami,tapi itu hanya sekali.Mungkin Ibuku yang terlalu khawatir dengan apapun yang kulakukan.


“Psikologis itu berkaitan dengan kesehatan mental dan kejiwaan seseorang,psikologis memang tidak dapat dilihat secara langsung,orang yang kita lihat seperti baik baik saja ternyata sebaliknya,mereka tersiksa dengan batin mereka,entah karena trauma, depresi,dan gangguan psikologis lainnya.Hanya satu yang dapat menyembuhkan mereka”Jelas Ratna panjang lebar.


Aku mendengarkan penjelasan Ratna hingga mulutku menganga, sebenarnya aku tidak begitu paham apa yang dibicarakan Ratna karena dia berbicara begitu cepat dan tanpa celah sedikit pun mungkin dia sangat cocok jadi anggota DPR yang selalu berdebat tanpa henti.


“Aku tidak ingin menjadi DPR”seru Ratna tiba tiba.


Aku tersedak saat sedang meminum segelas es jeruk,dunia seakan berhenti bergerak.Aku terkejut hanya aku dan Ratna yang dapat bergerak seperti biasanya.Sedangkan Rendra dan Vanya hanya membeku diam seperti bongkahan es batu,apa yang sebenarnya sedang terjadi?.

__ADS_1


Kutatap lekat gadis berkacamata yang saat ini duduk di depanku,tatapan nya sangat tajam hingga aku nyaris tertusuk tatapan nya itu,bagai mata pisau yang selalu diasah setiap hari!.


“Tenangkan dirimu Na”gumamku pelan.


Kutelan mentah mentah gumpalan ketakutanku,tubuhku merinding seakan kami berada di dunia yang berbeda,hanya ada kami berdua.


“Ratna apa yang sebenarnya sedang terjadi?”seru ku pelan sambil bergidik ketakutan.


Ratna hanya diam tak bergeming,tubuhku reflek menggoyang goyangkan tubuh Ratna,padahal sebenarnya aku sangat takut pada Ratna,takut kalau dia akan melukaiku.


Brukkk suara terjatuh terdengar keras di telingaku,kami kembali ke dunia asal kami.Tapi betapa terkejutnya aku saat melihat Ratna terkulai lemas tepat di depanku.


“Ratna kamu kenapa”teriak Rendra dan Vanya kompak.


Aku masih diam tak bergeming,rasanya masih tak percaya kejadian di luar nalar bisa terjadi padaku yang hanya seorang siswi SMP biasa.Padahal kehidupan ku dari awal menyenangkan dan damai tapi bagaimana bisa?,kepala ku dipenuhi semua pertanyaan tak masuk akal yang bahkan aku sendiri tak bisa menjawabnya.


“Dena kok kamu malah bengong”teriak Rendra kencang yang sontak membuyarkan semua lamunanku.


Ratna masih pingsan dan belum sadar mungkin karena benturan yang cukup keras membuatnya tak sadarkan diri.Aku masih merasa bersalah mungkin ini semua tidak akan terjadi kalau ia tidak mengatakan hal yang aneh dan segera membantu Ratna saat terjatuh tadi,kepalanya pasti tidak akan terbentur.


Ketukan pintu terdengar keras,ketika kami hanya duduk termenung di ruang tamu,aku melangkahkan kakiku menuju pintu,betapa terkejutnya aku saat melihat Angga sedang berdiri tepat di depanku,senang bercampur haru akhirnya ada orang yang datang memberi pertolongan.


Aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal,lalu hanya tersenyum getir melihat si dingin Angga ini mulai sok asik kepadaku.


“Ini martabak pemberian Ibu aku”lanjutnya sambil memberikan sebungkus martabak kesukaanku.tak banyak kata di percakapan kami,hanya keformalitasan yang mendominasi pembicaraan kami.


Setelah mengucap salam Angga segera membalikan badan nya,tapi segera kucegah tindakannya dengan cara memegang erat lengan tangannya.


Angga terkejut langsung membalikan badannya seperti semula,wajahnya dipenuhi tanda tanya dan raut wajah yang tak dapat ku definisikan.


“Apa aku bisa minta bantuan mu?”tanyaku dengan suara pelan.


Astaga ini pertama kalinya aku berbicara lebih dari 2 kata dengan si kulkas Angga,kaget rasanya tapi harus kupaksakan agar Ratna bisa segera ditangani.


“Apa yang bisa aku bantu”jawab Angga dengan raut wajah datar.


Aku lalu menarik tangan nya masuk ke dalam rumah,dan kuperlihatkan keadaan Ratna yang sampai saat ini masih belum sadar padahal Ratna sudah tak sadarkan diri selama 2 jam.Waktu yang cukup lama memang hingga sore menjelang dan Ibu belum juga datang.


“Oh...aku akan panggilkan Ayahku,dia akan mengantarkan temanmu ke rumah sakit semoga ini bisa membantu”seru Angga sambil berlari ke luar rumah,ia lalu memanggil Ayahnya Om Ridwan yang sedang asik menikmati matahari tenggelam sambil menyeruput kopi hitamnya.


Dengan raut wajah serius Om Ridwan lalu mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi rumah lalu memarkirkan mobil tersebut tepat di halaman rumahku

__ADS_1


“Mana temanmu yang tadi katanya pingsan”ucap Om Ridwan cukup panik.


Aku segera menunjuk Ratna yang sedang terkulai lemas tak sadarkan diri,langsung saja Om Ridwan dengan badan kekar menggendong Ratna untuk dibawa ke rumah sakit.Bagaimana bisa laki laki yang sekarang ada di depanku adalah laki laki yang diceritakan Ayah pernah mengompol hanya karena sebuah film horor ini sangat tidak masuk akal.


Ku hempasan semua pikiran anehku,dalam suasana genting ini aku harus tetap bersikap tenang bukan malah memikirkan hal aneh yang membuatku jadi tambah aneh.Keselamatan Ratna lah yang paling utama.


Mobil berwarna silver metalik sudah melaju bebas di jalanan kota kini saatnya aku menghubungi keluarga Ratna tapi sayang aku tidak punya nomernya.


“Ya sudah Na aku pulang dulu takut dicariin mana soalnya”celetuk Vanya tiba tiba yang sontak membuat jantung ku hampir copot.


“Aku juga Na,kamu tahu sendiri kan bapakku kaya apa?”lanjut Rendra yang juga mau pulang.


Aku menghela nafas panjang,harus di rumah sendirian setelah kejadian yang aneh ini sangat tidak menyenangkan tapi apa daya aku juga tak boleh bersikap egois dan akhirnya kuijinkan dua orang teman sekelasku ini untuk beranjak kaki dari rumahku.


Sunyi dan senyap jam menunjukan pukul setengah enam sore,rumahku rasanya seperti rumah hantu di film film horor,hanya ditemani dentingan jam tua yang terletak di pojok ruangan.Karena tak kuat dengan suasana sunyi ini aku melangkahkan kaki ku keluar dari rumah dan segera menuju ke rumah Angga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku.


Kutekan bel rumah berwarna hitam dengan pikiran yang sedikit kacau,tak terlalu lama suara teriakan terdengar kencang dari dalam rumah.Itu suara Tante Nina Ibu dari Angga kakak kelasku itu.


“Eh Dena sendirian lagi di rumah ya?”tanya nya sambil berselimutkan celemek di tubuhnya,aku hanya mengangguk pelan.


“Hanya karena peristiwa itu mereka jadi sering membiarkan Dena sendirian”gumam Tante Nina sangat pelan,tapi aku dapat mendengarnya dengan sangat jelas tapi peristiwa apa?.


Tante Nina segera mengajakku masuk dan mempersilahkan ku Duduk di ruang tamu,suasana di rumah ini cukup hangat apalagi dengan adanya Angga dan Tante Nina berbeda dengan di rumah ku yang selalu sepi seperti tidak ada kehidupan.


Tante Nina segera menghidangkan segelas cokelat panas dan sedikit camilan yang kusukai,Tante Nina memang tahu betul apa yang kusukai dan tidak kusukai.


Saat aku sedang menyeruput cokelat panas yang ada di tanganku,aku hampir tersedak saat mendengar teriakan dari kamar mandi.Itu suara Angga tidak salah lagi!.


Angga keluar dengan hanya beralaskan handuk basah,pipiku sontak memerah melihat pemandangan di depanku,pertama kali nya aku melihat ini di usiaku yang masih 12 tahun tapi bagaimana bisa,aku belum mau menikah.


“Dena?”seru Angga dengan pipi memerah.


Bagaimana bisa seorang anak kelas 1 SMP bisa memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus,proporsi tubuhnya sangat bagus,segera saja kututup kedua mataku dengan telapak tangan.


“Tenang saja aku masih pakai handuk kok”seru Angga sedikit panik ia tidak ingin terlihat seperti seorang pedofil anak.


Tante Nina yang melihat kami sontak tertawa geli,melihat tingkah kami yang sangat lucu.


“Padahal dulu kalian sering bermain bersama hingga mandi bersama”celetuk Tante Nina sambil menahan tawa,sontak saja itu membuat pipi ku merah merona.Sudahlah tak perlu kita bahas!.


Ruangan bergaya arsitektur Belanda itu masih kental dengan ciri khas nya,aku terpaku dengan salah satu lukisan anggota keluarga Om Ridwan.

__ADS_1


__ADS_2