
Suasana kembali hening hanya terdengar suara orang orang yang ingin mendaftar.
"Itu hanya kebetulan"jawab Angga dengan wajah datar.
Aku menelan ludah kasar,mulutku terasa kelu untuk berbicara.
"Ohh maaf aku sudah menuduhmu macam macam"seru ku sambil menundukkan kepala.
Angga mengangguk lalu memakai jaket yang tadi dilepasnya.
"Gue antar lo pulang"celetuk Angga tiba tiba.
Saat aku akan mengikuti langkah Angga tiba tiba ponsel ku berdering dan nomer tidak dikenal terpampang di sana.
"Halo"suara disana terdengar berat.
"Dena ini aku Rendra,ini nomer aku selama berada di Korea"lanjut Rendra dengan antusias.
Jantung ku berdebar mendengar suara Rendra,rasa rindu langsung memuncak di dalam hatiku.
"Kamu lagi di mana?"seru Rendra pelan.
"Aku lagi di SMA Alexander"jawabku sambil tersenyum tipis.
Angga yang melihatku dari tempat parkir hanya tersenyum getir,dia pasti bisa menebak kalau itu adalah Rendra.
"Hah sekolah favorit dengan kasta kejam itu?"teriak Rendra terkejut.
Aku tertawa geli lalu mengangguk.
"Iya mulai Minggu depan aku akan bersekolah di sana"jawabku kembali tersenyum.
"Kamu serius Na?"tanya Rendra terdengar serius.
"Terus sekarang kamu sama siapa?"tanya Rendra penuh selidik.
"Sama Angga"jawabku singkat.
Suara di sana hening sejenak lalu terdengar kembali.
"Aku gak suka kalau kamu jalan sama Angga!"teriak Rendra dalam telepon.
Aku merapikan rambutku yang berantakan lalu tersenyum.
"Kamu cemburu?"tanyaku sambil tertawa geli.
"Aku gak cemburu!,aku cuma gak suka aja kamu jalan sama dia!"ucap Angga lirih.
"Yaudah ya Angga udah nungguin aku"godaku sambil tertawa lalu kututup teleponnya.
Belum sempat Rendra berbicara sambungan telepon itu malah terputus,kesal dan gelisah menghampiri Rendra ia takut kalau Dena akan direbut oleh si ganteng Angga.
"Dek kamu lagi ngapain"tanya seorang gadis dengan rambut panjang sepinggang.
Rendra menoleh lalu tersenyum.
"Enggak kak cuma baru telepon orang"jawab Rendra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah jangan lupa sholat ya"pesan sang kakak sambil berlalu masuk kamar pasien.
Rendra terdiam di kursi tunggu rumah sakit,tak terasa setetes air mata menetes di pipinya.
"Gue gak boleh nangis"gumam Rendra sambil mengelap air matanya.
"Cuma 3 tahun kan it's okay"gumam nya sambil berlalu pergi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 hampir mahrib dan Dena harus segera pulang kalau tidak Ayah dan Ibunya bisa khawatir.
"Dena udah siap?"tanya Angga sembari memakai helmnya.
"Udah"jawabku sambil mendekati Angga .
Motor berwarna hitam legam itu langsung meluncur bebas di jalanan Ibu kota dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Jantung Dena hampir copot rasanya kalau naik motor bersama Angga.
Ingin rasanya ia turun saat itu juga.
"Ga naik motor nya pelan pelan nanti kalau kita ketilang polisi gimana?"teriakku memecah keramaian jalan raya.
Angga tertawa lalu menoleh.
"Yaudah tinggal pegangan yang kenceng"jawab Angga sambil menarik salah satu tangan Dena laku melingkarkan tangan Dena ke perutnya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Dena Ibu dan Ayah Dena sudah menunggu di depan rumah karena khawatir.
"Sore Om Tante"ucap Angga sambil mencium tangan kedua orang tua Dena.
"Kalian ini dari mana saja?"jawab Ayah Dena tegas.
"Kamu ini ya Dena Ibu kan sudah ngelarang kamu sekolah di sana!"teriak Ibu marah.
Aku hanya menunduk tak sanggup menjawab.
"Saya juga sekolah di sana kok Tante"celetuk Angga tiba tiba.
Ibu yang awalnya marah besar padaku tiba tiba menjadi baik sepertinya perkataan Angga ada pengaruhnya.
"Ohh gitu kalau ada Angga Dena pasti aman kan,secara Angga kan pinter dan jago beladiri"seru Ibunya antusias.
"Pengen deh punya mantu kaya kamu"lanjut Ibu menggoda kami berdua.
Aku langsung menyenggol tangannya dengan pipi bersemu merah.
"Apaan sih Bu"teriakku malu.
Angga hanya tertawa geli lalu pamit pulang ke rumah.
Aku segera berlari masuk ke dalam kamar ku lempar sepatu dan dokumen yang kubawa.
Aku tertidur terlentang di kasur kamar,sambil memikirkan tentang Angga yang sebenarnya sangat ia curigai sebagai penyebab kecelakaan itu.
Aku menghela nafas panjang lalu memejamkan mata berusaha untuk tidur,tapi tidak bisa.
Tiba tiba saja ada seseorang yang mengetuk jendela kamarku.
__ADS_1
Tubuhku merinding tak karuan,akhirnya ku beranikan diri untuk membuka jendela kamar.
Aku berdiri di balkon kamar menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak ada siapa-siapa.
Melihat ke arah taman dan jalanan namun tetap tidak ada siapa siapa.
Saat aku kembali berjalan masuk ke dalam kamar,tiba tiba sesosok pria bertubuh tinggi dan berambut putih berdiri tepat di depanku.
Aku terkejut sampai mundur beberapa langkah.
"Siapa kau?"tanyaku dengan mulut bergetar.
Pria itu berwajah dingin dengan mata berwarna ungu cerah sangat langka.Sepertinya pria ini memiliki kelainan albino.
Kelainan yang terjadi karena kekuranan pigmen dan membuat seluruh tubuhnya menjadi putih.
"Aku anggota OSIS SMA Alexander senang bertemu dengan mu"ucap pria itu dengan wajah datar.
"Lalu ada urusan apa kau datang ke rumahku?"tanyaku dengan tangan yang bergetar.
Rasanya aku ingin berteriak agar semua orang rumah tahu tapi mulutku seakan terbungkam.
"Aku mengundangmu Minggu depan untuk datang ke ruang OSIS SMA Alexander"seru pria itu tanpa memperkenalkan dirinya.
"Maksutnya?"tanyaku penuh tanda tanya.
Pria itu tak menjawab,aku menatap matanya tajam namun yang terlihat hanya kesedihan yang mendalam.
"Kalau begitu aku pamit dulu"seru pria itu sambil memberikanku sebuah kertas bertalikan pita emas.
Angin berhembus kencang mengiringi kepergian lelaki misterius itu.
Rasa penasaran ku semakin memuncak.
"Siapa pria itu?"tanya ku dalam hati.
Aku lalu masuk ke dalam kamar dan menyelimuti tubuhku dengan selimut.
Aku kemudian menyalakan senter hp dan membaca surat itu dalam gelap.
Untuk:Dena
Kami selaku OSIS SMA Alexander mengundang anda untuk bergabung ke dalam organisasi kami.
Kami sangat membutuhkan keistimewaan anda.
Tepat di MOS SMA Alexander anda harus datang ke ruangan OSIS SMA Alexander.
Salam dari ketua OSIS SMA Alexander
Aku tertegun setelah membaca surat ini,isinya sangat singkat namun jelas mereka memintaku untuk datang ke ruang OSIS Minggu depan bertepatan dengan MOS.
Tubuhku masih bergetar hebat,rasanya ini semua hanya ilusi semata karena aku terlalu lelah.
Tapi mengapa harus aku?,aku tidak pernah ikut berorganisasi sejak SMP ini cukup mengherankan.
"Tapi kan aku tidak minta ikut OSIS"gumam ku sambil menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 11 malam,harusnya aku sudah tertidur malam itu.