Psikologis

Psikologis
Physical


__ADS_3

Darah segar mulai mengalir di tangan sebelah kanan nya beberapa keping kaca menusuk di tangannya.Sesakit apapun luka di tangan nya tak seberapa dengan luka batin dan hatinya.


Saat Angga sudah mulai kehilangan kendali terdengar bunyi kriettt dari pintu gudang,dengan cepat Angga melangkahkan kakinya dan bersembunyi di balik kotak kardus yang menjulang tinggi.Terlihat seorang perempuan dengan rambut terurai panjang dan kaca mata tebal masuk membawa beberapa buku yang sepertinya sudah tidak digunakan.


Angga menahan nafasnya,berusaha untuk diketahui gadis tersebut.


Hening,gadis tersebut tidak kunjung keluar dari gudang ia malah terdiam mematung,ia lalu berjalan pelan menuju cermin yang sudah tak berbentuk,ia mengambil pecahan cermin tersebut dan terlihat mengamatinya.


Darah tercecer penuh warna merah,bukannya takut gadis tersebut malah semakin penasaran dengan apa yang baru saja terjadi di tempat tersebut.


“Sudah jangan bersembunyi lagi”seru gadis yang tak lain adalah Ratna.


Angga membekap mulutnya,menahan nafas sekali lagi tapi sepertinya percuma,Ratna berjalan menuju tempat persembunyian Angga.Dan dengan cepat menemukan Angga yang sedang menutup mulutnya.


“Cil..lu..ba”teriak Ratna sambil membuka wajahnya.


Angga kaget bukan main padahal dia sudah bersembunyi bak ninja yang sedang menjalankan tugasnya mengawasi seseorang.


“Tapi bagaimana bisa?”gumam Angga dalam hati.


“Bagaimana bisa?”ucap Ratna mengulangi pertanyaan Anga.


“Kau sama sepertiku jadi jangan bersikap bodoh!,bersikaplah seperti kita yang menguasai dunia ini.Kita adalah manusia istimewa yang bahkan hanya ada 1 di dunia!”jelas Ratna panjang lebar.


Angga hanya dapat terdiam ia tak sanggup mengeluarkan kata kata,entah siapa cewek gila yang ada di depan nya tapi yang pasti ia tidak paham apa yang sedang dibicarakan gadis ini.


Tertulis nama Ratna Antika Monata di tag seragamnya,Angga terkejut bukankah dia sahabat Dena?tapi kenapa ia ada di sini?.


Hanya berjuta bertanyaan yang lalu lalang di pikiran Angga dan dengan tepat Ratna pun dapat menebak pikirannya.


"Sudahlah kau tak perlu banyak tanya,aku di sini karena mendengar batin mu yang terluka"seru Ratna sembari membereskan buku buku bekas yang tergeletak berantakan di gudang.


Angga hanya menggeleng tak percaya sekaligus takjub ini seperti mimpi,mimpi yang sangat nyata.


"Apa maksudnya tentang manusia istimewa?"tanya Angga lirih.


Ratna menoleh,tertawa kecil lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Angga berdiri namun ditepis Angga secepatnya karena Angga masih sanggup berdiri sendiri.


"Aku tidak menyangka ada keturunan sebodoh dirimu!"bentak Ratna sambil menatap tajam Angga.

__ADS_1


Angga tersentak kaget dan bingung apakah dia sedang membentakku bodoh?


"Aku tidak bodoh"jawab Angga singkat.


Ratna tertawa kecil sambil melepas kacamata tebalnya,tapi siapa sangka wajah yang ada di depan Angga ini berbeda dari Ratna yang biasa ia lihat.


paras cantik bak putri putri keraton,kulit putih seputih salju membuat parasnya jadi tambah cantik.


Ratna menarik ikat rambut yang menggantung di rambut nya,kini rambutnya terurai panjang hitam sepinggang.


Angga hanya terdiam dengan mulut menganga, konsentrasi nya hancur seketika dan akal sehat nya hilang entah kemana.


Bukan kecantikan Ratna yang membuat akal sehat Angga buyar,tapi mata merahnya yang warnanya seperti darah segar yang sedang mengalir di tangan nya.


Angga kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu gudang tapi sebelum Angga membuka handle pintu ia mematung mendengar kata kata Ratna.


"Kau baru membunuh"seru Ratna tepat sasaran.


Binggo hal yang ditakutkan Angga terjadi.Jantung nya berdegup kencang, nafasnya menderu tak karuan,oksigen di dalam gudang tersebut seakan menyempit dan tak menyisakan Angga untuk bernafas.


Angga menelan ludah pahit,lalu berjalan kembali menghampiri Ratna.


Ratna tertawa diambilnya buku-buku bekas yang ada di sekitar gudang dan dirobeknya beberapa buku tersebut.


Setelah dirobek Ratna pun melemparnya ke langit-langit dan akhirnya terbang berhamburan kemana mana.


Ratna tertawa keras lalu berjalan mengelilingi Angga.


"Kau tahu apa bedanya kertas kertas robek ini dengan kita?"tanya Ratna dengan mata merahnya.


Angga menggeleng bukan karena tak mau menjawab tapi mulutnya seakan terasa kelu untuk berbicara.


"Dari jutaan manusia di dunia ini kita berbeda dari yang lain,kita lebih istimewa dari mereka"jelas Ratna sambil berjongkok mengambil potongan kertas yang ada di lantai.


Ratna kemudian berdiri dan ditiupnya kertas tersebut ke arah Angga,hingga Angga mengerjap ngerjapkan mata karena potongan kertas itu.


"Kita itu seperti potongan kertas yang terbang itu,melayang bebas dengan jalan masing masing"lanjut Ratna dengan tatapan serius.


Angga terdiam sesaat tak mampu mencerna kata kata Ratna.

__ADS_1


"Dan mereka yang ada di bawah kita adalah orang orang yang ingin jadi seperti kita tapi tidak bisa,bertahun tahun yang lalu mereka berusaha menghilangkan, menyingkirkan bahkan membunuh keturunan kita"seru Ratna dengan suara meninggi.


Lampu di dalam gudang mati hidup,seakan mengikuti emosi Ratna yang kadang menggebu gebu,marah ataupun sedih.


Tapi cerita ini sepertinya cukup sedih.Angga menyobek kain di bajunya,dan dililitkan kain tersebut ke tangannya yang terus mengeluarkan darah tanpa henti.


"Apa kau tahu kenapa mereka seperti itu?"tanya Ratna dengan mata berkaca kaca.


Angga menggeleng pelan.


"Karena mereka iri dengan kita,tapi jangan sampai mereka mengetahui kemampuan kita!"teriak Ratna dengan emosi menggebu gebu.


Angga tersentak kaget,Ratna memang sedari tadi menjelaskan banyak hal yang diluar nalar,tapi ia tidak dapat memahami satu pun perkataan Ratna.


Dia hanya manusia pada umumnya,tapi dia tidak boleh terlalu bahagia,sedih ataupun takut.Karena yang pasti dia tidak boleh memiliki emosi yang melewati batas.


Karena jika pantangan tersebut dilanggar akan ada korban jiwa yang berjatuhan.


Seperti halnya tadi pagi saat acara perpisahan adik kelasnya dulu,beberapa siswa hampir meninggal karena ulahnya!.


Ya dia terlalu bahagia karena Dena mendapatkan juara umum di sekolahnya.


Rasa bahagianya tak sanggup ia bendung,tetes air mata kebahagiaan keluar dengan hati yang lemah.


Andai dia tidak terlalu bahagia mungkin insiden tersebut tidak akan terjadi.


Ada beberapa syarat yang harus terjadi jika ingin menggunakan kemampuan manipulatif Angga.


Ya si korban harus panik,dan berpikiran kosong.


Seperti nya beberapa korban lainnya juga sedang merasa sangat sedih sampai pikiran mereka kosong.


Hening sejenak hingga bel di sekolahan tiba tiba istirahat berbunyi.Memang karena siswa kelas 7 dan 8 masih pembelajaran seperti biasanya di sekolah.


Angga masih merasa kecewa ia takut kalau Dena akan membencinya,ia adalah sumber dari segala masalah yang terjadi tadi pagi.


"Semoga Dena tadi tidak melihatku"gumam Angga dalam hati.


"Apa kau menyukai Dena?"tanya Ratna tiba tiba.

__ADS_1


Angga tersentak kaget,semua lamunannya buyar seketika,dugaan nya benar gadis ini dapat membaca pikirannya.


__ADS_2