
"Baru pulang?"seru Ayah sambil menurunkan koran yang baru dibacanya.
Aku tertawa kecil lalu menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Ibu juga bersikap sama seperti Ayah,ia juga menanyai banyak hal tentang semua pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Terus Angga mana?"tanya Ibu menginterogasiku.
"Udah pulang"jawabku singkat sambil berlalu naik ke kamar.
Aku merebahkan punggungku ke atas kasur dengan sprei yang baru diganti tadi pagi.
Sprei bercorak bintang dan berwarna biru muda itu sangat harum hingga membuatku terlelap dalam dekapannya.
Jam di kamarku terus berdetik seiring berjalannya waktu.
Aku sudah tertidur saat itu,namun aku tidak sadar kalau ada seseorang yang selalu mengawasiku di kamar.
Salah satu benda di kamarku seperti selalu mengawasiku setiap saat.
Tapi aku berusaha untuk tidak peduli,tapi kenyataan ini selalu membuatku terganggu.
Risih dan tidak nyaman,bukan melulu tentang cerita horor.
Tapi bisa di bilang kisahku ini lebih menyeramkan daripada cerita horor yang selalu kalian tonton di layar tv.
Karena kisahku ini berhubungan dengan mental dan alam bawah seseorang.
Sedikit saja ada kesalahan saat berhadapan dengan masalah alam sadar,nyawa kalian bisa jadi taruhannya.
Aku terbangun sekitar pukul 3 dini hari,aku berniat untuk tidur lagi tapi sudah tidak bisa karena sudah cukup pagi dan sebentar lagi azan Subuh akan berkumandang nanggung kalau aku tidur lagi.
Aku membuka mataku lebar lebar,lalu berjalan ke arah meja belajar.
Membuka lemari dan mengambil beberapa buku untuk dibaca untuk menghilangkan bosanku.
Beberapa novel sudah kubaca aku mulai mengantuk karena semua novel yang kubaca sudah berkali kali aku baca.
Sejenak aku membuka hp,lalu menjelajahi dunia maya,lumayan seru namun lama kelamaan mataku jadi lumayan perih.
Aku kemudian membuka aplikasi musik dan mendengarkan beberapa musik yang aku setel di henset biru favoritku.
Aku terlarut dalam lagu,kusempatkan membuka lemari yang sudah jarang aku buka.
Betapa terkejutnya aku saat melihat semua buku tua bersampul cokelat tua teronggok bisu di dalam lemari.
Kuambil buku tua itu lalu kutiup sampulnya agar semua debu yang menempel hilang semua.
__ADS_1
Aku sampai terbatuk-batuk setelah semua debu itu terbang tak tentu arah.
"Buku apa ya?, perasaan aku gak punya buku kaya gini"gumamku sambil membolak-balikan buku yang ada di tanganku.
Kemudian membaca beberapa halaman depan buku itu dengan seksama,sebuah kata terpampang jelas di buku itu.
"Psikolog"gumamku pelan.
Kulanjutkan aktivitasku dengan membaca lebih lanjut tentang buku itu.
Buku yang membuatku hampir pernasaran setengah mati,bagaimana tidak ternyata buku yang saat ini aku baca adalah buku yang membahas tentang mental dan alam bawah sadar manusia.
Buku yang aku pinjam beberapa tahun yang lalu di perpustakaan kota ternyata belum aku kembalikan sampai sekarang.
Aku jadi sedikit merasa bersalah.
"Seorang psikolog harus dapat membuat nyaman pasiennya dan psikolog kebanyakan dapat merasakan penderitaan pasiennya"gumamku terus membaca.
Jantungku bedetak kencang saat membaca sebuah kalimat di buku itu.
Di buku itu dijelaskan bahwa seseorang bisa membuat mental jatuh dan akhirnya bunuh diri.
Bukankah itu sangat mengerikan?.
Aku membaca lebih lanjut buku itu,sebuah kalimat dengan bercak darah berwarna merah terpampang di sana.
Tapi sayangnya lembar buku itu sobek dan tidak bisa dibaca.
Bisa nama orang,makanan,atau rumah adat,entahlah.
Bruakkk....suara benda terjatuh terdengar kencang di lantai atas rumahku.Suaranya sampai terdengar hingga dalam kamarku.
Maklum karena plafon rumahku sangat tipis dan menyatu dengan lantai loteng rumah.
Aku menelan ludah gusar,kuberanikan diri untuk naik lagi ke anak tangga terakhir yang berakhir di loteng rumah.
Loteng rumahku memang jarang dimasuki orang, dibersihkan saja hanya beberapa tahun sekali jadi aku sudah tidak pernah melihat apa saja isinya.
Terakhir aku masuk ke loteng mungkin saat aku berulang tahun yang ke-14 entahlah aku tidak ingat.
Aku membuka pintu loteng yang sudah sangat kecil sampai tidak bisa dimasuki orang lebih dari satu.
Bayangkan anak SD saja mungkin tidak bisa masuk ke dalam sana.
Saking kecilnya kepalaku sampai terbentur di langit-langit plafon sakit rasanya tapi tidak seberapa dengan rasa penasaranku yang berlebihan.
Aku tidak sampai masuk ke dalam loteng,tapi aku dapat dengan jelas bahwa di dalam sana terdapat cermin dengan ukuran yang cukup besar.
__ADS_1
Aku ingat pernah melihatnya tapi aku sudah lupa.
Tidak ada hal aneh yang ada di loteng,kuurungkan niatku untuk menelusuri loteng lebih dalam.
Aku membalikan badan dan berniat untuk menuruni tangga sesaat sebelum terdengar suara anak kecil memanggilku.
"Dena"suara itu terus berdengung di telingaku.
Aku terkejut saat melihat gadis kecil dengan gaun berwarna putih polos sedang berdiri di dalam cermin.
Dengan tatapannya yang polos ia melihatku dengan penuh misteri.
Aku tidak takut karena aku sadar bahwa anak yang sedang berdiri di hadapanku adalah diriku di masa lalu.
Tanpa banyak bertanya anak tersebut lalu berlari kencang ke arahku.
Aku tidak sempat menghindar bahkan berlari menjauh darinya,yang terjadi malah anak tersebut masuk ke dalam tubuhku dan hilang seketika.
Aku meraba tubuhku,aneh rasanya karena sekujur tubuhku rasanya merinding.
Karena ketakutan aku segera menuruni tangga dengan tergesa-gesa,nafasku menderu tidak karuan.
Hingga Ayah memergokiku sedang berada di anak tangga.
"Kamu lagi ngapain di loteng?"tanya Ayah dengan secangkir kopi di tangannya.
"Kebetulan lewat"Jawaku dengan nafas masih tidak beraturan.
Aku langsung berjalan menuju dapur lalu mengambil air putih,kuteguk air itu dengan cepat hingga habis tak bersisa.
"Apa aku kerasukan?"gumamku dengan air di wajahku.
Keringatku bercucuran di sekujur badan,hingga piyama tidur ku basah kuyup.
Aku duduk di sofa dekat ruang keluarga di sana terdapat sebuah televisi yang sudah sangat jarang ditonton.
Aku menyetelnya lalu menonton berita yang disiarkan langsung dari tempat terjadinya peristiwa.
Berita tersebut memperlihatkan sebuah mobil mewah dibakar di tengah keramaian kota.
Aku sangat mengenali mobil itu,saking terkejutnya aku sampai berdiri dari sofa.
"Semoga itu bukan mobilnya Angga"gumamku sambil mondar mandir tidak karuan.
Karena gelisah aku menuju ke kamar lalu mengambil hpku dan segera kuketik nomer telepon Angga di hpku.
Memanggil lalu berdering namun tidak ada yang menjawabnya.
__ADS_1
Aku sampai menggigit bibir karena takut kalau mobil yang ada di dalam berita adalah mobil milik Angga.
Aku tidak peduli dengan mobil itu,tapi aku takut kalau Angga masih ada di sana dan tidak selamat karena di bakar hidup hidup.