Psikologis

Psikologis
My best friend


__ADS_3

Setelah mengunjungi makam Mira aku juga berkunjung ke makam orang tua Mira sebelum pulang.


Hatiku terasa sesak air mata sudah tak sanggup ku bendung,menetes beriringan dengan tetes air hujan yang mulai deras.


Ibu dan Ayah berlari kembali ke arah mobil mereka memberikanku sebuah payung sebelum mereka pergi.


"Dena ayo pulang hujan sudah mulai deras"seru Ibu ku sembari menutupi kepalanya dengan tangan.


Aku menggeleng lalu mengelap air mata ku dengan tangan.


Tak mau ambil resiko Ibu ku memberikan sebuah payung agar aku tak kehujanan.


Aku menerima payung tersebut dengan senyum yang mulai pudar.Setelah memberi payung mereka berdua kembali ke dalam mobil.


"Om Tante semoga tenang ya di sana"ucapku sembari mengelus nisan di samping ku.


Aku tersenyum lalu menabur bunga di kuburan orang tua Mira.


"Jagain Mira ya di sana Om Tante ajakin Mira main juga aku sayang kalian"lanjutku sambil menangis tak henti henti.


Hari ini 7 Juli 2021 aku mengetahui segalanya,senang bercampur sedih menjadi satu di bulan ini,tapi aku tak akan pernah membenci bulan Juli.


Aku kembali berlari kembali ke mobil beriringan dengan hujan yang semakin deras.


"Ayah Ibu ayo pulang"ucapku sembari tersenyum pucat.


Saat Ibu memegang tanganku menyuruh masuk ke mobil,tiba tiba saja tubuhku sangat lemas berat kaki ku sudah tak sanggup menahan tubuhku.


Aku terjatuh tepat di pintu mobil dengan wajah yang semakin memucat.


Ibu berteriak panik meminta Ayah untuk menggendong aku ke dalam mobil.


Mobil milik Ayah melaju kencang di jalanan Ibu kota menuju ke rumah sakit terdekat.


Di sana aku langsung mendapat perawatan medis secepatnya,dokter juga menyarankan aku untuk dirawat inap sejenak hingga kesehatanku memulih.


Aku dirawat di kamar inap,Ayah dan Ibu masih siaga untuk menjaga di lorong rumah sakit.


Saat aku masih tertidur lelap tiba tiba dering telepon mengganggu tidur nyenyakku.


"Siapa yang telpon malam malam begini"gumam ku sembari mengambil hp.


Aku terkejut saat melihat nama Rendra di layar handphone ku.Segera ku angkat dan ku sapa orang yang menelpon ku.


"Hai"


"Dena"suara di seberang terdengar lirih.


"Kenapa Ren?"tanya ku sambil mengucek mata.


"Maaf Na"ucapnya lirih.

__ADS_1


"Maaf untuk apa Ren?"tanyaku kembali.


"Aku harus pergi malam ini"jawab orang di seberang telepon.


Aku bangun dari tempat tidur dan segera melepaskan infus yang menusuk pergelangan tanganku.


"Ya aku akan pergi ke Jepang malam ini"seru Rendra dengan nada sedih.


Aku menjatuhkan telepon ku dan segera berlari menuju ke pintu keluar rumah sakit,Ibu yang sedari tadi tertidur panik saat tahu aku sudah melarikan diri.


"Dena Dena!"panggil Ibuku kencang.


Aku tak menoleh walaupun tubuhku masih terasa lemas tak bertenaga aku masih sanggup berlari keluar rumah sakit.


Aku menunggu dengan wajah cemas,takut kalau Ibu segera sampai di sini atau takut kalau pesawat Rendra akan lepas landas.


Tak berapa lama sebuah taksi berhenti tepat di depan ku aku pun segera memasuki taksi tersebut.


Ibu sampai di waktu yang tepat namun sayang aku sudah berada di dalam mobil.


"Maaf Bu aku akan kembali"gumam ku pelan.


"Pak ke bandara Soekarno Hatta"teriakku beriringan dengan laju mobil yang mulai tinggi.


Kami sudah berada di jalan raya,seperti biasa jalan raya di Ibu Kota macet saat jam pulang kerja.


Aku kepalkan tanganku cemas,sambil melihat ke jendela mobil yang berembun.


Sementara itu Ibu Dena masih berdiri di depan rumah sakit dengan wajah yang cemas ia menelpon suaminya.


"Yah Dena kabur dari rumah sakit"teriak Ibu sambil menahan Isak tangis.


"Iya Ayah ke segera ke rumah sakit"ucap Ayah sambil menutup telepon,ia lalu bergegas masuk ke mobil.


Setelah perjalanan yang panjang akhirnya taksi sampai ke bandara Soekarno Hatta tepat waktu sebelum pesawat lepas landas.


Aku memasuki area bandara,mencari keberadaan Rendra namun tetap tak ketemu.Aku berlarian ke sana kemari di tengah keramaian.


"Bagaimana aku akan menemukannya di tengah keramaian?"gumam ku dalam hati.


Nafas ku tersenggal saat melihat seorang laki laki berjaket tebal mendekat ke arah ku.


Itu Rendra kekasihnya.


"Rendra"bisikku sangat pelan hampir tidak terdengar.


Tak kuasa aku menahan tangis,kuhempaskan tubuhku ke pelukan Rendra.


"Kenapa harus sekarang"seru ku sambil terus menangis.


"Jangan marah ya"jawab Rendra sambil mengelus kepalaku.

__ADS_1


Aku mengelap ingus ku lalu memeluknya kembali.


"Kamu kok pakai baju pasien rumah sakit?"tanya Rendra menginterogasi.


Wajahku seketika memucat namun tetap tak menatap wajahnya.


"Kamu masuk rumah sakit ya?"tanya nya sekali lagi dengan wajah memelas.


"Kok gak bilang sama aku?,aku kan pacarmu"lanjut Rendra dengan pertanyaan bertubi tubi.


Aku hanya tersenyum malu melihat rasa khawatir Rendra yang berlebihan.


"Aku gak mau buat kamu khawatir"jawab ku pelan.


Rendra lalu melepas jaket bulu yang tebal lalu memakaikan nya ke tubuhku.


"Kita masih bisa LDR"ucap Rendra tiba tiba.


Aku tak menjawab ku pegang erat erat jaket bulu milik Rendra.


Aku mengangguk pelan lalu memeluk nya kembali.


Tiba tiba terdengar suara yang menandakan pesawat akan lepas landas sebentar lagi.


Aku melepas pelukannya dan melambaikan tangan saat dia akan pergi meninggalkan diriku.


Sedikit demi sedikit air mataku mulai menetes lagi,dadaku terasa sesak hingga aku tak sanggup bernafas.


Aku terdiam menatap punggung Rendra setelah ia tidak terlihat lagi penglihatan ku tampak buram dan tubuhku lemas sekali.


Bunyi keras terdengar di bandara tubuhku terjatuh tapi untung saja ada seorang laki laki bermata biru dan berwajah tampan menahan tubuhku.


Itu Angga kakak kelas ku dulu,dia lalu menggendong ku masuk ke dalam sebuah mobil.


"Padahal kamu lagi sakit"seru Angga sembari menyetir mobil.


Mataku mengerjap ngerjap,jantung ku hampir copot saat melihat Angga sedang berada di depannya.


"Aduh kok aku bisa di mobil nya Angga sih"gumam ku dalam hati.


Aku pura pura pingsan agar tak ketawan Angga kalau aku sebenarnya sudah sadar.


Angga mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat tadi aku dirawat,setelah beberapa menit kami berdua akhirnya sampai.


Angga membuka pintu mobi belakang lalu mengendongku dengan hati hati.


Raut wajahnya masih dingin seperti biasa.


"Kau masih berat ya seperti dulu"gumam Angga pelan tapi aku masih bisa mendengar.


Apakah dia masih ingat?,masa kecilku memang cukup indah saat kami masih tak memiliki beban hidup apapun.

__ADS_1


Kami juga bisa tertawa riang,dan aku masih ingat kalau Angga adalah sahabat masa kecil ku yang selalu ada dan selalu menjaga ku dimana pun aku berada.


__ADS_2