
Setelah sampai di rumah Dena,Rendra segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan mulai berbaur dengan kendaraan lainnya.
Dena menghela nafas panjang,dengan senyum yang masih mengembang ia kemudian masuk ke dalam rumah.
Ia lalu memutar kunci cadangan miliknya dan masuk ke dalam rumah.
Gelap tanpa sinar lampu,Dena melangkahkan kaki nya pelan pelan menuju ke sakelar ruang tamu.
"Selamat Dena sekarang kamu sudah menjadi anak SMA dengan nilai tertinggi!"teriak Ibu dan Ayah hampir bersamaan.
Aku terkejut bukan main,jantungku sampai mau copot mendengar teriakan kedua orang tuaku.
Aku tertawa geli sambil berjalan ke arah Ayah dan Ibuku,lalu memeluk dan mencium mereka secara bergantian.
"Apasih malu tahu"ucapku dengan pipi merah.
"Ini harus dirayakan sebenarnya Ayah mau mengajak kalian makan di restoran tapi Ayah kan belum gajian"celetuk Ayah menggoda ku.
Aku mendorong bahu Ayah pelan lalu tertawa kecil ku lepaskan kaos kaki dan tas yang masih melekat di pundak ku.
"Ayah gak nyangka kamu bakal jadi juara umum di tahun ini"seru Ayah sambil kembali memeluk putri tunggalnya.
"Iya Ibu gak nyangka anak kita sudah sebesar ini padahal waktu dulu dia masih minta kita diajari matematika"jawab ibu dengan wajah haru.
Aku kembali tersenyum.
"Makasih Yah Bu kalau bukan berkat kalian Dena mungkin gak bakal ada di titik ini"jawab ku tak kalah antusias.
Ibu lalu menyuruh kami duduk di meja makan,lalu memotong kue cokelat kesukaan ku untuk dimakan kami bertiga.
Ternyata ibu juga sudah memasak semur daging kesukaan ku,bau nya saja sudah terasa enak apalagi rasanya.
Kembali terbesit ingatan saat dulu Ibu memasak makanan kesukaan Mira sepupu jauhku.
Sup jamur makanan yang sudah tak asing ditelinga ku,makanan yang paling ku benci karena aku alergi jamur,kulitku akan terasa sangat gatal jika aku memakan nya.
Tapi mengapa ibu malah memasak itu?.
"Ibu Dena mau tanya"seru ku menimpali semua percakapan seru Ayah dan Ibu.
"Tanya apa sayang?"jawab Ibu dengan senyum lembut nya.
Aku melihat ke arah Ayah dan Ibu secara bergantian,Ibu mengenakan dress putih bercorak bunga sangat cantik.
__ADS_1
Sedangkan rambut Ayah yang mulai memutih tidak menghilangkan ketampanan yang ada di wajah nya.
"Dulu kenapa Ibu memasak sup jamur makanan yang paling tidak kusukai?"pertanyaan ku menggema di seluruh ruang makan.
Hening,Ayah dan Ibu terdiam tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan ku yang membuat ku penasaran setengah mati.
Sudah bertahun tahun lamanya aku menunggu jawaban dari semua pertanyaan ku.
Ayah menghela nafas kasar,lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Mira sepupumu itu sudah tiada"jawab Ayah dengan wajah sendu.
Aku terkejut dan tanpa sengaja aku menjatuhkan gelas berisi jus jeruk yang aku bawa.
"Apa Mira sudah meninggal?"jawabku mengulang perkataan Ayah.
Ayah dan Ibu mengangguk secara bersamaan.
Air mata tak sanggup lagi ku bendung,tawa riang yang ada di ruang keluarga mulai hilang seiring tangis kesedihanku.
Ayah menghampiri ku lalu menenangkan ku dengan cerita masa muda nya.
"Ayah dulu pernah punya sahabat,dia adalah sahabat terbaik Ayah tapi sayang ternyata Tuhan lebih sayang padanya" seru Ayah sambil mengelus kepalaku.
Hari ini adalah hari bahagia dan hari terburuk yang pernah aku punya.
Bahagia karena aku sudah resmi berhubungan dengan Rendra dan hari terburuk karena aku sudah mengetahui kenyataan bahwa Mira sudah tiada bertahun tahun yang lalu.
Ikatan batin ku sangat kuat dengan Mira karena kami selalu bersama saat masih kecil.
"Kenapa Ayah baru beri tahu sekarang!"teriakku memecah kesunyian di ruang makan.
Ayah dan Ibu menunduk merasa bersalah,bukan tanpa alasan mereka tidak memberitahu ku tapi karena mereka saat itu juga merasa kehilangan mereka lebih memilih merahasiakan hal ini dari ku.
Tangisan ku semakin terdengar keras,aku lalu berlari menaiki tangga menuju kamarku.
Dengan dobrakan yang keras aku menutup pintu kamarku.
Ayah dan Ibu hanya terdiam tanpa suara,mereka seakan tahu bahwa aku butuh waktu sendiri.
Kenyataan ini rasanya sangat berat,seperti sebuah beton yang menghancurkan sebuah kaca tipis dan bening dengan sekelibat mata.
Sakit dan hancur rasanya Mira pergi tanpa pamit.
__ADS_1
Tidak hanya Mira ternyata Ibu dan Ayah Mira juga ikut berpulang ke pangkuan yang maha kuasa,mereka mengalami kecelakaan beruntun saat akan pulang ke rumah mereka.
Besok adalah hari Minggu ku bulatkan niatku untuk pergi ke makam Mira dan kedua orang tuanya yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai ke sana.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur sambil memeluk foto Mira waktu masih kecil.
Sayup-sayup terdengar bunyi azan Subuh berkumandang,ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk berwudhu setelah itu aku pun menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Hatiku nampak gelisah,kupanjatkan doa ke pada Nya dengan segenap hati.
Setelah sholat aku mandi dengan guyuran air hangat lalu berganti pakaian dengan dress yang telah disiapkan ibuku di atas kasur.
Warnanya serba hitam dari dress,jilbab hingga sepatu.
Aku masuk ke dalam mobil Ayahku dengan kaca mata hitam,menutupi semua mata bengkak sekaligus kesedihanku.
Hening,mobil sudah melaju ke jalanan ramai sunyi tak ada percakapan.Setelah aku berkata pada Ayah dan Ibu mereka berdua memutuskan untuk ikut pergi ke makan Mira dan kedua orang tuanya.
Ibu memberikanku sepotong roti cokelat namun aku menolaknya, nafsu makan ku seakan menghilang sejak tadi malam setelah mengetahui kenyataan itu.
"Setidak nya kamu harus makan nak"ucap ibu lirih.
Aku menggeleng segera kudorong roti itu kembali ke pangkuan Ibu.
Ibu hanya menghela nafas berat,lalu terdiam dalam lamunan.
Ku teguk air mineral dari dalam botol,rasanya mulut dan tenggorokan ku terasa kering karena belum minum.
Untuk menghindari kesunyian Ayah menyetel lagu jaman old dengan alunan yang cukup sedih.
Sudah satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di makan Mira dan kedua orang tuanya.Aku terdiam sejenak air mata menetes di pipi ku.
Sebelum masuk ke pemakaman umum aku membeli sekeranjang bunga dan sebuket bunga kesukaan Mira.
Mawar
Aku berjongkok sembari memberikan dedaunan dan ranting kering yang terjatuh di atas makam Mira.
Setelah itu kusiram makamnya dengan air mineral dan kutaburkan setengah dari bunga yang ada di keranjang ku.
Kami bertiga berdoa bersama agar Mira diterima di sisinya dan agar Mira tenang di alam sana.
"Mira semoga kamu tenang ya, sebenarnya aku sangat rindu dengan mu"seru ku sambil mengelus batu nisan Mira.
__ADS_1