Psikologis

Psikologis
Oh my boy


__ADS_3

Hening,tak ada suara,pikiran ku saat ini benar benar kosong aku tidak tahu harus menyampaikan apa yang ada dipikiran ku malah Angga,Angga,dan Angga.


“Ahh...terima kasih untuk penghargaannya”ucap ku terpotong,aku kebingungan kaki ku rasanya lemas seketika gugup menghampiri diriku.


Saat aku sedang merasakan gugup yang luar biasa aku melihat sesosok pemuda tampan dengan jas berwarna hitam elegan,aku sangat mengenalnya,wajah yang tidak asing,itu Angga kakak kelas sekaligus tetanggaku.


Senyum mengembang di bibirku,gugupku rasanya langsung menghilang dan getaran tubuhku sudah tak terasa.


“Aku sangat merasa bahagia hari ini, semua berkat Ayah dan Ibuku yang selalu ada untukku,dalam suka maupun duka.Walaupun aku pernah berpikir kalau Ayah dan Ibu sudah tak sayang padaku tapi sekarang aku sadar hanya dengan berjalan nya waktu pikiran itu akan hilang”Aku mulai menyampaikan semua yang ada di pikiranku.


Aku terdiam cukup lama,ku telan ludah pahit di mulutku,menarik nafas panjang dan mulai berbicara lagi.


Sedangkan Ayah dan Ibuku mendengar seksama di kursi para hadirin dengan raut wajah terharu,mereka bangga dengan apa yang diraih Dena.Ada rasa bersalah di benak mereka karena dulu pernah membuat Dena seperti tak dicintai.


“Dan juga untuk tetanggaku yang selalu mendukung dan selalu ada untuk ku terima kasih banyak,aku harap sifat sedingin es mu akan hilang seiring berjalannya waktu”lanjutku dengan suara bergetar.


Sorak ria dan tepuk tangan dari para tamu undangan menggema di gedung Farhana,aku tersenyum bahagia sampai tak sadar air mata mulai menetes di pipi kananku.


Saat semua sedang bertepuk tangan,terjadi suatu insiden yang tak akan pernah kulupakan, seorang gadis yang wajahnya tak asing meloncat dari lantai 6 gedung Farhana membuat wajah tamu undangan memucat seketika.


Hanya dalam hitungan detik para tamu hadirin berlarian meninggalkan gedung Farhana karena ketakutan,tak hanya satu orang yang meloncat tapi ada tiga orang sekaligus.Dan salah satunya adalah orang yang sangat kukenal dia peringkat 3 di kejuaraan umum tahun ini.


“Aku menelan ludah pahit, ku beranikan diri menengok para korban yang entah mengapa tiba-tiba meloncat dari ketinggian yang bahkan tidak bisa aku perkirakan.


Darah segar mengalir tak tentu arah membuat perutku mual seketika,kualihkan pandanganku ke atas tempat insiden itu terjadi,wajahku memucat kepala ku pusing saat kulihat seseorang yang amat aku kenal sedang berada di atas menatap mataku dengan seksama.


Itu Angga,seketika berbagai pertanyaan berhembus kencang dari segala arah,siapa Angga?,apa yang dia lakukan di sana?.

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang saat Angga berlari meninggalkan lantai 6,bertepatan dengan itu ambulans dan petugas paramedis datang ke gedung Farhana.Mereka tak sampai kehilangan nyawa Tuhan masih menyayangi mereka hanya sebagian dari mereka yang patah tulang dan mengalami trauma yang luar biasa.


Para petugas menggiring para tamu undangan keluar dari gedung Farhana dengan tertib,raut wajahku masih penuh tanda tanya,tiba tiba saja seseorang datang dan memberikan jaket berwarna hitam putih.


“Rendra kamu belum pulang?”tanyaku sambil menoleh ke arah sang pemberi jaket.


Rendra tersenyum,tak seperti biasanya saat ini dia seperti orang yang berbeda bagiku mungkin lebih dewasa.


“Kau sendiri?”


“Aku sedang menunggu Ibu dan Ayah”jawabku sambilencondongkan tubuh untuk mengikat tali sepatu.


Tiba tiba saja Rendra mengajar tangannya dan mulai mengelus rambutku pelan.Aku terkejut bukan kepalang ingin rasanya menghindar tapi rasa nyaman sudah menjalari tubuhku.


“Kamu pasti takut ya”celetuk Rendra dengan senyum yang tak dapat ku artikan,dia memang bukan orang yang sama,dia berbeda dari Rendra yang ku kenal.


“Dia sudah bukan Rendra yang aku kenal”gumam ku pelan nyaris tidak ada suara, pikiran kacau dan air mata tak sanggup ku bendung.


Setelah beberapa menit aku menangis di pelukannya di mulai memegangi pundakku,menghapus segala kesedihan dan air mataku senyum manis mengembang di wajahku.


Rendra lalu mengandeng tanganku,kami berjalan pelan menuju parkiran gedung Farhana hingga sampai ke sebuah motor Ninja yang baru ku sadari kalau motor tersebut milik Rendra.


“Sejak kapan kamu bisa naik motor?”tanyaku sembari melihat body motor yang terlihat masih baru.


“Bulan lalu”jawab nya singkat


Rendra lalu menyuruhku untuk naik ke motornya tapi aku menolak dengan tegas.

__ADS_1


“Terus orang tua aku gimana?”seru ku dengan raut wajah cemberut.


Anehnya Rendra malah tertawa geli dan mengelus rambutku untuk kesekian kalinya.


“Apaan sih kok kamu seneng banget ngelus rambut aku”teriak ku seperti hampir diculik pedofil.Rendra kembali tertawa geli dan mengacak rambutku hingga berantakan m


“Gemes soalnya”jawabnya sambil tertawa kecil.Pipiku bersemu merah,siapa orang ini?dia bukan Rendra sangat mustahil kalau dia adalah Rendra.


Rendra lalu mengeluarkan hpnya dan memutar voice note,terdengar suara Ibu yang menyuruhku pulang bersama Rendra karena Ayah dan Ibu ada tugas mendadak dari kantor dan dengan terpaksa mereka harus meninggalkan ku sendirian di gedung Farhana.


Aku menghela nafas kasar,rasanya kesal tapi mau bagaimana lagi mau tak mau aku harus mengikuti permintaan Rendra kalau tidak aku harus berjalan kaki menuju halte bus terdekat dan jarak halte bus dari gedung Farhana sangat jauh!.


“Aku tinggal nih”ucap Rendra menggodaku.


“Baiklah aku akan naik ke motor mu tapi jangan ngebut bawa motornya”jawabku sekenanya.


Rendra tersenyum lalu mulai menghidupkan mesin motor,setelah itu kami berdua sudah bebas meluncur di jalanan ibu kota tentunya dengan menghindari razia polisi.


Rendra


Di tempat lain terlihat Angga yang berteriak tidak karuan,entah karena apa dia terlihat sangat kacau dan depresi,ruangan bertuliskan gudang sekolah tersebut dijadikan Angga sebagai tempat pelampiasan karena banyak barang mudah pecah yang bisa ia lempar sepuasnya.


Tepat di hadapan Angga terlihat sebuah cermin berukuran besar,cermin tersebut terbungkus oleh kain putih yang sudah sangat lusuh,terlihat kotor dan penuh sarang laba laba.Ia kemudian menarik kain tersebut dan terpampang tubuh dan wajahnya di pantulan cermin tersebut.


“Kenapa harus hari ini!”teriak Angga kesal.Matanya berkaca kaca tak sanggup menahan kesedihan ia sangat kecewa karena harus menjadi pengecut di depan banyak orang di depan orang yang diam diam di sukainya.


“Dena kamu tidak membenciku kan?”seru Angga berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin,karena terlalu kesal ia kemudian meninju cermin tersebut hingga hancur berkeping

__ADS_1


__ADS_2