
Angga tak menjawab pertanyaan Ratna,ia kemudian berlalu pergi dari dalam gudang.
sinar matahari membuat matanya sedikit silau,dengan kedua tangannya ia segera menutupi mata cokelatnya.
Betapa kagetnya dia saat melihat Dena sedang dibonceng seorang laki laki do dekat parkir sekolah.Dena turun sambil merapikan rambutnya yang acak acakan karena terkena angin motor.
Angga terdiam,wajah laki laki tersebut tidak asing di mata Angga.Ya dia adalah Rendra adik kelas nya dulu yang selalu bermain dan duduk di sebelah Dena.
Dia selalu ada untuk Dena sedangkan dia hanya sekelibat bayangkan bagi Dena dan dia bukan siapa siapa.
Angga bersembunyi di balik tembok dekat tempat parkir,rambutnya acak acakan dan matanya bengkak sehabis menangis.
Ia terus melihat ke arah Rendra dan Dena,tatapan nya kosong seiring pasangan muda mudi itu berjalan.
"Kenapa harus ke sekolah"tanya Dena dengan raut wajah penasaran.
"Ada deh"
Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju ke arah tangga,tanpa mereka sadari Angga sedari tadi mengikuti mereka berdua.
Mereka lalu berjalan menaiki tangga menuju ke lantai paling atas di gedung sekolah.
Dena menghela nafas panjang,dihapus nya keringat yang membasahi dahinya.Tiba tiba saja Rendra menyodorkan tisu dan segera mengelap semua keringat yang ada di dahi dan kepalanya.
"Apa yang Rendra sedang lakukan?"gumam ku dalam hati dengan jantung yang berdegup kencang.
ku tahan semua rasa gugupku,sepertinya wajah ku sudah berwarna merah padam.
suasana di sekitar sana seketika menjadi panas.
Sementara itu di anak tangga bagian bawah terlihat Angga yang mulai mengepalkan tangga,luka yang perih tidak terlalu ia pikirkan.
Akhirnya merek berdua sampai di balkon sekolah,angin sepoi-sepoi menghembus kencang ke arah mereka membuat rambut Dena menjadi berantakan.
"Ngapain kita ke sini?"tanya ku untuk kedua kalinya pada Rendra.
"Memang harus ada alasan ya buat aku ngajak kamu ke sini?"jawab Rendra dengan senyum manisnya.
Aku hanya terdiam dan balas tersenyum,benar memang tidak ada alasan.
"Lagi pula semenjak kita ujian bulan lalu kita belum pernah jalan lagi berdua"seru Angga menatap tajam ke arah Dena.
Aku terdiam,melihat kembali ke arah Rendra teman sebangku nya.
"Dia berbeda"batin ku dalam hati.
__ADS_1
Ku alihkan pandangan ku ke arah gunung yang menjulang tinggi dan kabut kabut yang membuat pemandangan tersebut tampak fana.
Dalam hitungan detik tiba tiba Rendra memeluk Dena dari samping,hingga Dena terlonjak kaget namun tetap diam di tempat.
Angga yang sedang mengintip dari pintu balkon mengepalkan tangan,emosinya meluap lupa,dibulatkan niatnya untuk menghampiri mereka berdua.
Tapi Angga masih bisa berpikir dingin,ia akhirnya mengurungkan niatnya dan hanya menatap nanar kemesraan Rendra dan gadis yang disukainya.
"Sabar Angga sabar"gumam Angga dengan wajah merah padam dan darah dari tangan yang terus menetes.
"Rendra?"ucapku pelan sambil berusaha melepaskan pelukan Rendra dari tubuhku.
"Hanya sekali ini saja"gumam Rendra pelan sambil membenamkan wajahnya di bahu Dena.
"Besok pagi aku akan bersekolah di luar negeri"sahut Rendra tiba tiba.
Dada Dena berdegup kencang,udara di sekitarnya mulai menipis membuat Dena sulit bernapas.
"Ya aku akan melanjutkan sekolah di tempat ayahku berkerja di Korea"lanjut Rendra dengan mata berkaca kaca.
Setetes air mata mulai mengalir di pipi merah ku,kesedihan tak sanggup ku bendung.
Teman yang selalu menemaniku dan selalu ada untukku kini akan pergi ke negeri yang jauh.
"Jangan bercanda Ren"
"Tapi kenapa?"tanyaku terpotong karena Rendra segera menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
Cowok berkulit putih itu sebenarnya masih mempunyai darah Korea,Ayahnya orang Indonesia asli dari tanah Minang sedangkan Ibunya orang Korea dan kedua orang tua Rendra sekarang tinggal di Seoul Korea.
"Ibu ku sekarang sakit dan aku harus ada untuknya"tukas Rendra membuat hati Dena semakin sakit.
"Hanya 3 tahun Na jadi kumohon tunggu lah aku"lanjut Angga sambil memegang tangan Dena.
Dena menggeleng tak sanggup rasanya jika harus berpisah dengan teman baiknya ini,apa yang harus ia lakukan sekarang?.
Hening,angin berhembus pelan di sekitar tempat mereka berbicara dan dengan lembut Rendra memegang pipi Dena dengan kedua tangannya.
"Sekarang dengarkan aku"bisik Rendra pelan tepat di wajah Dena.
"Apa kau mau menunggu ku?"tanya Rendra lembut dengan mata berkaca kaca.
Aku mengangguk.
"Apa kau mau jadi pacarku?"lanjut Rendra serius.
__ADS_1
Aku terkejut jantung ku yang awalnya tenang kembali berdetak kencang,gugup kembali menghampiri ku dan pipi ku semakin merah merona.
Bukan karena hawa yang dingin tapi karena laki laki yang sekarang sedang mengutarakan isi hatinya kepada Dena.
"Apa kau serius?"bisikku hingga nyaris tak terdengar.
Rendra mengangguk antusias.
Aku kembali mengangguk kan kepala ku pelan sambil tersenyum manis.
Rendra berteriak kegirangan,isi hatinya sudah keluar dan rasa khawatirnya berubah menjadi senyum kebahagiaan.
Apalagi gadis yang disukainya menerima pernyataan nya.
"Apakah Dewi Fortuna sedang ada disini"batin Rendra dengan senyum yang manis.
Angga tersenyum sinis,entah sudah berapa banyak tetes darah yang jatuh ke lantai.Tapi yang pasti hati nya kini tercabik cabik dan sudah hancur tak berbentuk.
walaupun Angga tak mendengar pembicaraan mereka secara langsung,yang pasti ia tahu bahwa Dena sudah menjadi milik orang.
Laki laki yang tulus mencintainya,dan selalu ada untuknya.
Angga melangkahkan kaki nya menuruni tangga,derap langkah nya hampir tak terdengar meninggalkan semua kesedihan yang ada di lubuk hati Angga.
Saat Dena dan Rendra akan turun,betapa terkejutnya Dena saat melihat tetesan darah berceceran di lantai tangga,ia berusaha untuk tidak peduli.
"Paling juga cat"celetuk Rendra tiba tiba.
Aku mengangguk cepat dan segera mengikuti langkah Rendra menuruni tangga.
Mereka berjalan beriringan sambil terus bergandengan tangan,dan senyum terus mengembang di bibir pasangan sejoli ini.
Setelah sampai di parkiran sekolah mereka berniat untuk pulang ke rumah masing masing.
"Aku pulang dulu ya takut Ibu nyariin"tukas ku sembari melepaskan tanganku.
"Aku anterin kamu lupa sekarang kita udah pacaran?"jawab Rendra dengan senyum manis.
Pipi Dena sontak memerah,entah kenapa saat mendengar kata pacaran dia seakan salah tingkah dan malu sendiri.
Rendra dengan sigap memakaikan helm ke kepala Dena dengan lembut,ia lalu mengelus pipi Dena.
"Sudah siap?"tanya Rendra.
Aku mengangguk pelan,motor akhirnya melaju kencang di jalanan ibu kota,aku sangat menikmati nya dan hari ini adalah hari yang paling bahagia di hidupku.
__ADS_1
Karena hari ini adalah hari dimana kami resmi berpacaran.
Aku menikmati langit senja sambil bersenandung pelan tak terasa akhirnya kami sampai ke rumah.