Psikologis

Psikologis
Prom Night


__ADS_3

Angga membaca surat yang tadi aku tulis di pusat perbelanjaan,surat yang mampu membuatnya tersenyum tulus.


"Gue gak akan pernah punya pacar"gumam Angga sambil tertawa pelan.


Hari sudah hampir malam,aku menuju ke ruang makan untuk mengisi perutku yang kelaparan.


Padahal tadi siang aku sudah makan ramen porsi jumbo tapi tetap saja aku masih lapar.


Ibu seperti biasa memasak makanan kesukaanku semur daging,aku segera memakan semur yang ada di mangkukku dengan nasi hangat.


Sedangkan Ayah sampai saat ini masih belum pulang karena lembur di kantor.


Setelah kenyang makan malam,aku segera menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Lalu menyikat gigi,cuci muka dan cuci kaki.Tidak lupa memakai piyama berwarna pink kesukaanku.


"Besoj mau ngapain ya?"gumamku sambil menatap langit-langit kamar.


Tiba tiba saja dering telepon mengganggu lamunanku.


Tertulis nama Ratna di sana aku pun segera mengangkatnya.


"Dena besok kamu ada acara gak?"tanya Ratna to the poin.


"Gak ada memang kenapa?"jawabku sambil menggeleng.


"Gimana kalau besok kamu ikut aku ketemu anak anak alumni SMP kita"ajak Ratna kepada Dena.


Aku berpikir keras,ingin sekali aku bertemu dengan Vanya,Ratna dan teman teman yang lain,tapi kalau tidak ada Rendra kurang lengkap rasanya.


"Malamnya juga ada prom queen"celetuk Ratna membuyarkan lamunanku.


"Ok besok aku ikut kamu"jawabku tersenyum antusias.


Aku memang sangat ingin berdandan layaknya seorang putri,mengenakan gaun cantik di malam prom queen.


Siapa tahu aku kan yang jadi ratu malam besok,sangat mustahil.


Aku segera membaringkan tubuhku sesaat setelah menutup telepon Ratna.


Aku tetap tak bisa tidur padahal lampu kamar sudah kumatikan.Pikiranku masih terbayang tentang konsep prom queen besok.


Siapa yang akan jadi queen and king prom night besok.


Aku akhirnya tertidur lelap tepat puk 12 malam.


Keesokan harinya seperti biasa aku lari pagi di sekitar kompleks rumah,aku menyapa setiap orang yang kutemui saat lari pagi.


Dari tua hingga anak-anak pun tak luput dari sapaanku.


"Minum dulu ah"seruku sambil meneguk air mineral.


"Eh Dena?"ucap gadis dengan rambut panjang terikat.


Aku terlonjak kaget untuk minumanku tidak sampai tumpah.


"Vanya kamu lagi ngapain di sini?"sapaku ramah.

__ADS_1


Vanya kemudian duduk di sebelahku lalu menyenderkan punggungnya.


"Enggak aku baru jalan jalan pagi aja keliling kompleks"jawab Vanya sambil tersenyum.


Aku balas tersenyum ramah.


"Cie sama siapa nih,pacar baru ya"godaku saat melihat seorang cowok mendekati Vanya.


"Dih najis ya dia tuh sepupuku"jawab Vanya sembari memukul bahuku.


Aku tertawa geli lalu melihat lelaki yang baru kuketahui namanya Hans.


Cowok tampan dengan kulit hitam manis dan gigi gingsul,sangat menggoda.


Tubuhnya tinggi semampai mungkin lebih tinggi dari pada Rendra.


Segera kubuyarkan imajinasiku, karena orang yang kucintai hanya Rendra.


"Cie yang udah pacaran sama Rendra tapi LDR"goda Vanya balik.


Aku tersenyum getir lalu mengalihkan pembicaraan.


"Jadi kamu udah daftar sekolah di mana?"tanyaku memulai percakapan.


"SMA di Bandung tempat kelahiran bundaku"jawab Vanya antusias.


"Minggu depan aku udah harus balik ke Bandung buat sekolah"lanjutnya menjelaskan.


Aku mengangguk lalu ber-oh panjang.


Vanya yang risih kemudian mendorong tubuh Hans hingga mundur beberapa langkah.


"Apaan sih lo ganggu aja"bentak Vanya sambil mengibaskan ngibaskan ekornya.


Aku tersenyum geli melihat keakuran dua saudara ini.


"Lo jangan mau sama dia,dia itu buaya darat"bisik Vanya tepat di telingaku.


Aku hanya tertawa.


"Ganteng ganteng gini lo bilang buaya darat mata lo katarak kali"jawab Hans sinis.


Melihat pertengkaran ini aku jadi sedikit merasa risih.


"Yaudah Van aku duluan ya"seruku sambil melambaikan tangan.


"Mau kemana Na?"


"Mau pulang Ibu udah nungguin"


Aku kembali ke halaman rumah, mengangkat jemuran yang sudah kering lalu masuk ke dalam rumah.


"Itu yang kamu cuci tadi malam udah kering?"tanya Ibu.


Aku mengangguk sambil berlalu ke kamar.


Aku yang tidak punya kerjaan hanya bermain hp sampai sore hari,jika aku lapar aku akan ke dapur untuk mengambil cemilan.

__ADS_1


Waktu sudah terbuang banyak,aku memutuskan untuk memilih dress terlebih dahulu untuk kupakai nanti malam.


Dress warna hitam bertabur bintang sangat cocok di tubuhku.


Aku tersenyum riang lalu bergegas mandi,setelah mandi aku memakai gaun tersebut dan berkaca.


"Sempurna"gumamku pelan.


Kulanjutkan aktivitasku dengan berdandan di depan cermin.


Satu persatu make up ku sapukan ke wajahku,dari mulai bedak, blash on, lipstik kupakai semua.


Hingga tak terasa aku sudah berdandan selama 1 jam.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam,satu jam lagi aku siap untuk pergi ke prom night.


"Ratna aku udah siap"ucapku di telepon.


"Ok bentar lagi bakal ada yang jemput kamu"jawab Ratna.


"Siapa?"tanyaku penasaran.


"Udah dulu ya,aku mau berangkat"ucap Ratna lirih sambil menutup telepon.


Aku menarik nafas panjang lalu ijin ke Ibu untuk keluar malam ini,aku hanya diperbolehkan keluar sampai jam 11 malam dan aku menyetujuinya.


Maklum anak gadis tidak boleh keluar malam malam.


Aku menunggu orang yang akan menjemputku cukup lama hingga sebuah mobil sedan berwarna hitam elegan berhenti tepat di rumahku.


Orang tersebut keluar dari mobil dan berjalan ke arahku.


"Sudah lama menunggu nona?"ucap laki laki itu.


Dia adalah Angga,dengan jas hitam dan kaca mata hitam sangat elegan dan terlihat berbeda dari Angga yang kukenal.


"Angga?,ngapain di sini?"tanyaku penasaran.


Angga tersenyum lalu mempersilahkan ku naik ke dalam mobil,aku menuruti permintaannya dan masuk ke dalam mobil mewahnya.


"Aku juga ikut prom nightnya"ujar Angga fokus menyetir.


Aku mengangguk lalu terdiam di dalam mobil,setelah perjalanan yang cukup panjang kami akhirnya sampai di gedung sekolahan SMP Intan Jaya yang disulap menjadi pangung prom night.


Aku terpukau kagum,senyum mengembang di bibirku,karena ini pertama kalinya aku ikut acara prom night.


"Gue pasangan lo buat hari ini,dan lo harus gandeng tangan gue"ucap Angga dengan tatapan tajam.


Aku menelan ludah lalu mengangguk,ku gandeng tangannya seakan kami ini seorang pasangan yang serasi.


Aku melepas tangan Angga,saat bertemu dengan Ratna dan Vanya mereka terlihat cantik dengan dress mereka masing-masing.


"Cie yang bareng pasangan"goda Vanya sambil tertawa geli.


Aku menepuk pundaknya dan tersipu malu.


Terlihat Hans yang juga ikut menemani sepupunya,lebih tepatnya ia dipaksa untuk ikut dan menjadi pasangan Vanya karena ia jomblo.

__ADS_1


__ADS_2