Psikologis

Psikologis
Change


__ADS_3

"Apa kau serius nak?"tanya Ayahku dengan nada bingung.


Aku mengangguk mantap.


"Ibu tidak ijinkan"jawab Ibu ku dengan intonasi tinggi.


Aku sontak kaget mendengar jawaban Ibu.


"Tapi kenapa Bu?bukankah Ibu ingin Dena bersekolah di SMA favorit?"tanyaku dengan wajah penuh tanda tanya.


Ibu membalikan badan.


"Tapi tidak dengan SMA Alexander"jawab Ibu sambil mengaduk semur daging kesukaan ku.


"Itu sekolahan yang kejam kami tidak akan mengijinkan mu bersekolah di sana!"jawab Ibu ku tanpa ada celah.


Aku menelan ludah pahit.


"Tapi Bu kumohon"bujuk ku pada Ibu.


"Sekali tidak tetap tidak Dena!"ucap Ibu ku lirih.


"Bertahun tahun Dena selalu mendengarkan perkataan Ibu tanpa membantah sedikitpun"ucapku terpotong.


Aku menelan ludah.


"Jadi kumohon Bu dengar permintaan ku sekali saja jangan egois"bentakku dengan nada tinggi.


Mereka berdua terkejut anak yang sudah mereka besarkan sekarang menjadi pembangkang seperti ini.


Ratna yang berada di ruang tamu tertawa kecil.


"Semua ini bukan tanpa alasan,semua demi kebaikanmu"ucap Ibu merendahkan suaranya.


"Yang menurut Ibu baik bukan tentu baik untukku"jawabku lantang.


Ibu mendekatiku.


"Nak dengarkan Ibu"


"Ibu memang egois"teriak ku keras sambil berlari ke arah kamar.


Ibu terkejut melihat Dena kecilnya sudah bisa memakinya, saking terkejutnya ia sampai terhuyung ke kursi makan.


Aku membuka lemari milikku lalu mencari semua dokumen yang dibutuhkan untuk mendaftar ke SMA.


Dengan emosi yang meledak-ledak aku memberantaki kamarku yang biasanya rapi.


Setelah semua terkumpul ku masukkan dokumen itu ke dalam map dan turun ke ruang tamu.


Tanpa ijin terlebih dahulu aku langsung pergi keluar sambil menggandeng tangan Ratna.


Kami berjalan pelan menuju ke pinggir jalan untuk menaiki angkot.


"Dena kenapa kamu marah marah sama Ibumu?”tanya Ratna dengan raut wajah bingung.


Aku terdiam sesaat aku sadar kalau aku sudah kelewatan batas,emosi ku tersulut amarah sudah tak dapat ku bendung dan semuanya kulampiasan ke Ibu.


Aku menunduk merasa bersalah tak terasa tetes air mata membasahi pipiku.


"Tidak apa apa manusia pasti pernah melakukan kesalahan"ucap Ratna lirih.


Aku membalas perkataan Ratna dengan senyum,senyum yang begitu amat menyiksa.


Tiba tiba saja sebuah motor Ninja berwarna hitam berhenti tepat di depan kami,aku dan Ratna sampai kebingungan kenapa motor ini berhenti begitu saja.

__ADS_1


Pengemudi motor tersebut terlihat asing bagi kami,tapi sepertinya dia masih SMA karena dia memakai seragam putih abu-abu.


pengemudi tersebut kemudian melepas helmnya kaca lalu merapikan rambutnya yang berantakan.


"Angga?"ucapku terkejut.


Ratna juga sama terkejutnya denganku.


"Kalian mau kemana"tanya Angga dengan sorot mata tajam.


Aku terdiam tak menjawab.


"Kami mau ke SMA Alexander"jawab Ratna sambil tersenyum.


"Oh sekolahan gue dong berarti"seru Angga antusias.


Kami berdua mengangguk.


"Gimana kalau Dena bareng gue aja terus Ratna bareng sama temen gue di lagi di belakang"ucapnya lirih sambil menatap ke arahku.


"Gak kita mau naik angkot aja"jawabku dengan senyum manis namun dipaksakan.


"Tapi Na aku lupa bawa uang"celetuk Ratna tiba tiba membuat ku terkejut.


Aku kemudian merogoh kantung celana dan juga jaketku namun tak kutemukan uang sepersen pun.


"Kalian mau nanti setelah naik angkot digebukin masal?"tawa Angga meledak.


Tak ada pilihan mau tidak mau kami harus menerima ajakan Angga.


Angga tersenyum penuh kemenangan,lalu menyalakan mesin motornya.


"Ayo naik"seru Angga pelan.


"Dan Ratna lo tunggu temen gue sebentar ya bentar lagi juga datang"lanjut Angga sambil melajukan motornya ke jalanan ramai.


"Seneng lo bisa naik motor sama Dena?"gumam Ratna sinis.


Ratna tahu betul bahwa sebenarnya tidak ada orang yang akan mengantarkannya ke SMA Alexander semua yang dikatakan Angga tadi bohong.


"Dia tidak punya teman"gumam Ratna sekali lagi.


Ratna lalu naik ke dalam angkot berwarna kuning di sana ia bertemu dengan orang yang sangat dikenalnya.


Namanya Indah Prameswari ia pernah menjadi juara umum di sekolah yang sama dengan Dena dan Ratna namun naas karena harapan yang ditanggung nya terlalu besar ia malah terkena kekuatan manipulatif Angga.


Indah menatap Ratna sinis,ia juga sepertinya mengenal Ratna sebagai juara 2 di sekolahnya.


"Kenapa harus ada nih cewek sih"batin Indah.


"Namanya juga angkutan umum yang wajar dong kalau gue ada di sini"gumam Ratna dalam hati.


Suasana hening menyelimuti mereka,tanpa perbincangan yang berarti.


Akhirnya Angga dan Dena sampai di SMA Alexander sekolah para petinggi negeri.


Dari anak pengusaha,artis,hingga anak politikus juga bersekolah di sini.


Ucapan kagum tak henti hentinya di katakan Dena,dia sangat terpukau dengan keindahan gedung sekolah nya nanti.


Mulutnya sampai menganga melihat kemegahan gedung SMA Alexander.


"Gak usah lebay deh ayo masuk"seru Angga sembari melepas jaket hitamnya.


Mereka tak henti hentinya menjadi buah bibir anak murid di sana.

__ADS_1


Kata demi kata seakan terdengar di setiap siswa siswi yang melihat mereka berdua.


"Itu kan Angga si pangeran ngapain dia jalan sama cewek kampung?"ucap salah satu siswi sinis.


Aku menundukkan kepala terlalu takut untuk menatap orang di sekitarku.


"Woy kalau punya mulut dijaga ya"bentak Angga tiba tiba.


Aku menoleh ke arahnya.


Para gadis tukang rumpi itu pergi berlalu begitu saja tanpa meminta maaf.


"Cewek-cewek di sini emang gitu,jadi jangan di masukin hati"seru Angga lirih.


Aku mengangguk.


Akhirnya kami saat di ruang pendaftaran terlihat banyak sekali para lulusan SMP dari berbagai sekolah datang kemari.


"Yaudah kalau gitu gue tinggal dulu ya"ucap Angga lirih.


"Makasih ya"jawabku sambil melambaikan tangan.


Angga mengangguk kemudian berlalu pergi.


Setelah mengambil nomer urutan namaku akhirnya dipanggil ke dalam ruang pendaftaran.


"Dena Cantika Anggraeni"panggil salah seorang petugas.


Aku segera masuk ke ruang pendaftaran untuk dimintai keterangan.


"Asal sekolah?"


"SMP Intan Jaya"


"tempat tanggal lahir"


"19 Desember 2006"ucapku lirih.


petugas itu lalu mengangguk dan menulis nya di kertas kosong.


"Apa perkerjaan Ayah dan Ibu kamu"tanya petugas itu lagi.


"Ayah direktur di perusahaan A sedangkan Ibu saya menjadi sekertaris nya"jawab ku mantap.


Sekejap namun pasti setelah melihat laporan nilai ujian ku,aku langsung diterima di SMA Alexander.


Senyum mengembang di bibir ku,saat aku menerima kartu pelajar dan seragam SMA Alexander.


Kata petugas tersebut aku mendapat beasiswa selama nilai di sekolah ini terus meningkat.


Termasuk seragam sekolah dan buku buku semua tidak dipungut biaya.


Aku bersyukur biaya pendaftaran dan uang gedung sudah termasuk ke dalam beasiswa.


"Dena?udah selesai?"tanya Angga sambil berdiri dari bangku taman.


"Udah aku dapat beasiswa"jawabku antusias.


"Selamat ya"ucap Angga lirih.


Kami berdua lalu menikmati sore bersama di taman SMA Alexander.


"Angga aku mau tanya"


"Tanya apa?"jawab Angga.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakuin waktu di wasarna Warsa kemarin di gedung Farhana,aku lihat kamu ada di lantai tempat para korban jatuh"ucapku dengan mulut bergetar.


Angga terdiam,lalu kembali menatap wajah Dena.


__ADS_2