
Kuberanikan diri mengunjungi rumah yang dulu pernah kutinggali selama lima tahun terakhir bersama suamiku Argeş, ya..hari ini aku datang berkunjung untuk menemui Argeş dan kini dia sudah menjadi mantan suamiku. Sudah sekian lama tak berjumpa dengannya membuatku sangat rindu, tak bisa kupungkiri rasa rindu ini sangatlah kuat, meskipun aku tahu kini aku bukanlah istrinya lagi.
Kulangkahkan kakiku dengan yakin saat memasuki pelataran rumah itu, melewati taman yang sangat kurindukan, kursi-kursi taman berwarna rosegold yang sangat aku sukai, biasanya setiap pagi aku dan Argeş menghabiskan waktu di kursi itu, aah.. banyak sekali kenangan dirumah ini, gumamku. Kulihat bunga-bunga nya masih belum terlihat, walaupun tamannyan sedikit terlihat berantakan dari biasanya, seperti tidak diurus oleh tuannya.
Rumah ini terlihat sangat sepi, sesampainya di depan pintu rumah, aku membalikkan badanku untuk melihat Sara yang masih menungguku. Sara masih mengawasiku dari dalam mobil, aku dapst melihat wajahnya terlihat sangat cemas. Aku tersenyum padanya dan memberikan isyarat bahwa aku baik-baik saja dan dia bisa pergi, awalnya dia menolak, dia ingin tetap menungguku, tetapi kupaksa agar dia meninggalkanku. Akhirnya Sara pun menurut pergi dan mengatakan bahwa aku harus langsung menguhubunginya jika terjadi sesuatu.
Setelah memastikan Sara sudah pergi, aku kembali menghadap pintu rumah yang sudah tak asing lagi untukku, dulu aku sering sekali melewati pintu ini, tapi kini sedikit terasa asing karena sekarang aku berdiri di depannya menjadi seorang tamu.
Sempat ragu untuk mengetuk pintu ini, aku mencoba melihat ke arah garasi biasa Argeş memarkir mobil. Mobilnya terparkir rapi di sana, menandakan bahwa pemiliknya sedang ada di dalam rumah.
Butuh beberapa saat untuk menguatkan kembali niatku bertemu dengan mantan suamiku ini.
Tok tok tok... dengan penuh keberanian aku akhirnya mengetuk pintu. Ketukan pertama tidak ada jawaban, lalu aku mengetuknya kembali, sesaat masih tidak ada jawaban, belum sempat untuk mengetuk ketiga kalinya, tiba-tiba suara pria dari dalam menyahut, suara yang sangat kurindukan, suara yang dulu selalu kudengar setiap harinya, tapi entah mengapa kini rasanya sangat kurindukan suara pria itu.
__ADS_1
Tak lama suara kunci pintu itu terdengar dan pintupun terbuka. Jantungku berdebar lebih cepat saat aku bisa bertemu dengannya lagi, iya..seseorang yang dulu pernah menjadi suamiku, yaitu Argeş. Kami hanya diam. Mata cokelatnya menatapku, seperti ada kerinduan dari sorot matanya. Aku tersenyum. Mataku masih menatap mata indahnya. Betapa aku sangat merindukan sosok yang ada dihadapanku saat ini. Ingin kupeluk rasanya tapi aku urungkan niatku.
"Hai, apa kabar? Apa aku diberi izin untuk masuk?" sapaku menyadarkan lamunan Argeş.
"Oh tentu saja, maaf, silahkan masuk" jawabnya gugup, lalu dia mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya.
Aku duduk diatas kursi tamu yang berwarna biru tua. Benar-benar menjadi seorang tamu sekarang, batinku. Selama tinggal bersama Argeş, aku jarang sekali duduk di kursi tamu, aku akan duduk di sini jika hanya ada tamu yang datang, dan kini akulah tamu di rumah ini.
"Argeş, minggu depan aku akan kembali ke Indonesia. Kita sudah resmi bercerai" kataku hati-hati.
"Ah iya, apa kau akan pergi sendiri?" tanyanya.
"Tentu saja. Barang-barang sudah kukirimkan terlebih dulu" kataku, entah rasanya sangat canggung pertama kali bicara lagi dengannya.
__ADS_1
"Yasmine, maafkan aku" katanya tiba-tiba
"Untuk perceraian ini?" tanyaku sedikit sinis.
"Iya, aku tidak menginginkan ini, tetapi ini keputusan yang sangat sulit untukku, dan akan semakin sulit jika kita terus bersama-sama" jelasnya, Argeş menundukkan kepalanya.
"Aku menerimamu apa adanya Argeş dan kau menceraikan aku. Aku masih belum mengerti apa yang ada dipikiranmu. Tetapi, aku berusaha menerima dan mengerti keputusan yang kau ambil" ucapku, mataku kini mulai terasa panas, airmataku sudah menggenang.
"Aku masih sangat mencintaimu, Yasmine" ucap Argeş.
"Aku pamit pulang. Terima kasih telah menjagaku selama ini. Terima kasih pernah menjadi suami yang terbaik selama pernikahan kita. Maaf untuk semua salahku" aku bergegas meninggalkan rumah. Sudah tak tahan airmata mengalir dipipiku.
Argeş menatapku dari kejauhan, wajahnya terlihat diselimuti kesedihan. Aku yakin ini pun berat untuknya, berat untuk kami berdua yang saling mencintai. Tapi memang benar kata Argeş, ini mungkin akan lebih sulit untuknya jika terus bersama.
__ADS_1