Pudarnya Pesona Pria Turki

Pudarnya Pesona Pria Turki
Mencoba Kembali


__ADS_3

Percakapan di kafe sore tadi dengan Rudy masih terlintas jelas dipikiranku. Sorot matanya yang dipenuhi dengan kesedihan, wajah nya yang terlihat sangat kecewa dan terpukul saat dia mengetahui bahwa aku sudah menikah, masih terbayang sangat jelas diingatanku.


Tapi apa daya, aku sudah memiliki suami, walaupun saat ini rumah tanggaku sedang berada di ujung tanduk, tidak serta merta aku akan menerima Rudy kembali masuk dalam kehidupanku, aku harus tetap menjaga kehormatanku sebagai istri. Sejauh ini pun, aku selalu berusaha untuk memperbaiki semua kekacauan yang terjadi antara aku dan suamiku.


Ku lihat Argeş yang sedang berada di ruang tv, aku melangkahkan kakiku berniat mendekatinya. Argeş duduk di atas sofa berwarna cokelat dan sibuk membaca buku yang sepertinya baru saja dia beli. Aku melingkarkan tanganku di bahu Argeş, memeluknya dari belakang.


"Hai, canım." kataku sembari memberikan ciuman di kepalanya.


Dia hanya diam saja, tak menjawab sapaanku dan masih sibuk membaca. Jujur aku merasa kecewa, Argeş sengaja mengabaikanku.


Tapi kusampingkan rasa kecewaku dan duduk disebelahnya, aku mengelus-elus rambut ikalnya.


"Sayang, aku sudah siapkan makanan kesukaan kamu. Mau makan sekarang?" tanyaku penuh harap bahwa Argeş akan senang jika kubuatkan makanan favoritnya.

__ADS_1


"Nanti saja, aku akan tidur sekarang" jawabnya dingin, lalu dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ku sendiri.


Aku mengembuskan nafasku kesal. Sudah beberapa bulan ini aku berusaha untuk mengembalikkan keadaan seperti semula. Tapi selalu saja gagal.


Aku mengikutinya masuk ke dalam kamar, berniat untuk menanyakan apa yang harus aku lakukan agar bisa memperbaiki hubungan rumah tangga yang retaknya sudah parah ini. Ibarat gelas, retakan-retakan kacanya sudah sangat banyak dan rentan pecah, jika salah sentuh sedikit saja maka gelas itu akan pecah berantakan.


"Sayang, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa kembali seperti dulu?" tanyaku.


"Apa yang kau bicarakan?" jawabnya ketus.


"Kita memang baik-baik saja bukan?" jawabnya tanpa melihat ke arah ku, pandangannya fokus ke layar tv yang ada dihadapannya.


Aku terdiam mendengar jawaban suamiku ini. Lalu aku duduk disamping Argeş dan memeluknya. Tidak ada respon yang dia berikan, dia hanya diam menonton tv. Walaupun aku yakin hati dan pikirannya sedang berkecamuk saat ini.

__ADS_1


Rasa sedih menjalar diseluruh tubuh dan membuatku terasa sangat lemah. Suamiku yang dulu sangat perhatian kepadaku, memanjakan aku, tatapannya yang selalu membuatku tenang, selalu memeluk dan menciumku, kini seperti orang asing yang sedang tinggal satu atap bersamaku.


Saat mengetahui bahwa Argeş tidak bisa memberiku anak, hubungan kami menjadi berantakan. Sejujurnya, aku sempat tidak memiliki semangat hidup selama satu bulan lamanya setelah kejadian itu, sangat sulit untukku menerima kenyataan pahit ini, aku mengajukan cuti kerja kepada Sara, karena bagaimanpun juga aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiranku. Walaupun begitu aku tetap berusaha menjalankan kewajibanku sebagai istri, seperti menyiapkan makanan, bersih-bersih rumah, menyiram tanaman, menyiapkan baju kerja dan lainnya, hanya saja aku tidak ceria seperti biasanya. Hanya butuh waktu beberapa saat saja sampai semuanya kembali normal seperti biasa. Setelah lewat satu bulan, aku sudah mulai bisa menerima kenyataan yang ada.


Tetapi berbeda dengan suamiku, semenjak kejadian itu, Argeş tidak pernah menyentuhku lagi. Terakhir kali dia memelukku saja saat aku menangis memegang hasil tes yang kami dapat. Aku masih ingat pelukan terakhirnya dan disaat aku menangis di hari-hari berikutnya, Argeş terlihat seperti mengabaikan aku, pura-pura tidak tahu. Jika aku yang memeluknya, dia buru-buru menghindariku.


Selain itu, ia selalu pergi kerja dan pulang sampai larut malam, sesampainya dirumah dia langsung membersihkan diri dan tidur, tidurnya pun selalu membelakangiku atau dia lebih pilih untuk tidur dikamar tamu atau sofa ruang tv.


Aku beberapa kali bertanya mengenai sikapnya yang berubah total, tapi dia enggan menjawab pertanyaanku. Dia hanya diam tiap kali aku menanyakannya.


Merasa lelah dengan apa yang terjadi dirumah, akhirnya aku pun mencari kesibukan lain diluar rumah, hampir setiap hari setelah jam pulang kerja, aku pergi ke kafe untuk menulis cerita pendek atau mengambil jam kerja untuk mengajar les, aku akan datang kerumah-rumah mereka jika ada yang membutuhkannya dan aku baru akan pulang ke rumah jika jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan atau sembilan malam, sebenarnya semua ini kulakukan hanya untuk menghindari hal-hal yang membuatku sedih, karena saat aku berada dirumah, aku merasa sangat tertekan dan membuat kepalaku menjadi sakit.


Hal seperti ini pun terjadi berlarut-larut, tak terasa sudah enam bulan hubungan rumah tangga kami berjalan tidak sangat baik.

__ADS_1


Setelah kusadari, sudah cukup lamanya kami bersikap egois dan menghindari apa yang seharusnya dihadapi.


__ADS_2