Pudarnya Pesona Pria Turki

Pudarnya Pesona Pria Turki
Bertemu Kembali


__ADS_3

Senja kali ini sudah berganti menjadi senja yang kulihat di kota kembang, bukan lagi di Mardin. Senja dilangit yang sama tetapi ditempat yang berbeda. Rasanya pun berbeda, tak lagi sama.


Hari sudah berganti menjadi bulan, bulan sudah berganti tahun, waktu berlalu begitu cepatnya. Sudah satu tahun berlalu setelah perceraianku dengan Argeş, aku kembali pulang ke Indonesia, kembali bertemu kedua orangtuaku dan satu adikku yang kini baru masuk kuliah. Aku memutuskan membeli rumah di kota Bandung, sedangkan orangtua dan keluargaku tinggal di Malang.


Saat aku menghubungi keluargaku pertama kali tentang perceraian itu, mereka tentu saja sangat terkejut namun tetaplah keluarga menjadi tempat dimana aku kembali pulang, sejauh apapun aku melangkah, seberat apapun ujianku, orangtua dan keluargalah yang akan selalu menerimaku kembali.


Aku bekerja di salah satu penerbitan buku di kotaku dan tentu saja aku menikmati pekerjaanku, setidaknya membantuku untuk bangkit kembali setelah aku merasa hancur dengan keputusan mantan suamiku untuk berpisah.


Aku dan Argeş tidak lagi menjalin komunikasi setelah berpisah. Aku hanya mendapat kabar tentangnya hanya dari Sara, sepupunya, kami masih menjalin komunikasi dengan sangat baik. Bahkan dia merencanakan untuk datang ke Indonesia berkunjung ke rumahku dalam waktu dekat ini.


Setelah pulang kerja, aku memutuskan untuk pergi ke salah satu toko buku yang terletak tidak jauh dari tempatku bekerja. Aku mencari beberapa novel terbaru untuk menambah koleksi buku di perpustakaan miniku.


Tiba-tiba seseorang menyapaku. Suaranya tidak asing.


"Yasmine?" sapa seorang pria ragu-ragu.


"Rudy? Hai..ya ampun, apa kabar?" sapaku balik.


Benar, takdir mempertemukan aku kembali dengan Rudy, mantan kekasihku. Beberapa tahun yang lalu kami bertemu di kota Mardin dan kini kami bertemu di kota Bandung. Seolah-olah takdir memang ingin mempertemukan kami kembali meski terpisah oleh jarak dan waktu.


"Kamu sedang apa di Bandung?" tanyanya tanpa basa basi, tapi aku melihat wajahnya begitu sumringah.


"Aku tinggal di sini sekarang" jawabku seadanya.

__ADS_1


"Loh kok bisa? Kamu tinggal dimana?" tanyanya antusias.


"Aku tinggal di Greenland, Lembang."


"Serius?" tanyanya terkejut.


"Hmm benar kok..aku tinggal disana sudah hampir setahun" jawabku meyakinkan.


"Aku juga tinggal di situ, Yasmine. Kenapa kita tidak pernah bertemu ya?"


"Oh ya? Bisa kebetulan seperti ini. Kamu tinggal di blok berapa?" tanyaku.


"Aku tinggal di B15. Kamu?"


"Aku di A10, dekat dong. Hahaha dunia ini memang sempit ya" jawabku terkekeh.


"Ooh ituu..hmm.." aku menelan ludah, seakan mulutku terkunci tidak bisa menjawab pertanyaan semudah itu.


Sepertinya Rudy dapat mengerti dari ekspresiku yang tiba-tiba diam tidak menjawab pertanyaannya.


"Maaf" hanya kata itu yang terucap dari bibir Rudy.


"Tak apa, kami sudah berpisah, Rud" jawabku berhasil untuk tenang.

__ADS_1


"Aah..maaf untuk itu, Yasmine"


"Sudah setahun yang lalu"


"Makanya kamu tinggal di Bandung sekarang?" tanyanya ragu.


"Iya" jawabku singkat.


"Oh iya, tunggu sebentar" Rudy sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya, lalu dia memberiku selembar kartu nama miliknya.


"Kita tetangga sekarang, jika kamu butuh bantuan, bisa hubungi aku langsung"


"Wow nanti aku merepotkan General Manager tidak nih?" godaku.


"Khusus untuk seorang wanita bernama Yasmine Shameera tidak terganggu sama sekali" goda Rudy balik dengan diiringi tawa renyahnya.


"Terima kasih, Rudy" aku tersenyum.


"Iya..mau pulang sama-sama?" tawarnya.


"Engga usah, merepotkan. Lagipula aku bawa kendaraan sendiri dan aku belum dapat novel yang aku cari"


"Ya sudah, aku pulang duluan ya" pamit Rudy.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku. Saat Rudy sudah meninggalkanku, aku kembali mencari novel yang kuinginkan. Sedang asik menikmati novel-novel yang terpajang rapi di rak buku, tiba-tiba ponselku berdering.


"Sara?"


__ADS_2