Pudarnya Pesona Pria Turki

Pudarnya Pesona Pria Turki
Tak Pernah Terduga Sebelumnya


__ADS_3

Aku duduk dibangku taman yang ada didepan rumahku, menikmati pagi dengan segelas susu coklat hangat ditanganku, roti lapis yang kubuat masih belum tersentuh dimeja taman yang ada disamping kursiku, mataku tertuju pada bunga-bunga di taman, tetapi pandanganku kosong. Entah mengapa Rudy mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Semenjak dia mengirim pesan padaku malam itu, membuatku merasa resah. Sudah satu minggu pesan itu dikirmkan oleh Rudy. Tetapi pesannya belum kubalas juga sampai pada saat ini. Jika aku membalas pesannya, sama saja seperti aku mengkhianati suamiku, pikirku. Tetapi tak bisa kupingkiri ada rasa ingin membalas pesan itu walau hanya bertegur sapa.


Aku meminum susu coklatku sedikit demi sedikit. Argeş datang memelukku dari belakang. Aku menggenggam tangannya yang sedang memelukku.


"Kulihat kau sedang asik melamun, apa kau sedang merindukanku?" goda Argeş lalu dia duduk dikursi sebelahku.


Kursi taman ini sangatlah cantik, ukiran bunga nya berwarna merah muda begitu serasi dengan warna kursinya berwarna rosegold. Argeş sendiri yang memilih kursi taman ini untukku, dia tahu bahwa aku sangat menyukai warna rosegold. Dia ingin bisa duduk berdua bersamaku menikmati hidup dengan menatap bunga-bunga indah yang bermekaran, bisa melihat anak-anak kami bermain ditaman, menikmati hidup berdua sampai tua nanti. Rumah yang sederhana tetapi penuh dengan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan. Selama pernikahanku, Argeş sukses membuatnya menjadi nyata.


"Canım, apa kau sudah siap untuk cek ke dokter kandungan?" tanya Argeş tiba-tiba, sukses mengagetkanku dari lamunan tentang Rudy.


"Ya?" tanyaku bingung

__ADS_1


"Beberapa waktu lalu kau ingin mengecek ke dokter kandungan, bukan? Bukankah kau ingin punya anak?" jawab Argeş lembut dengan senyumannya yang manis.


"Ah..iyaa, aku lupa. Hmm..entah, apakah aku sudah siap atau belum. Bagaimana menurutmu sayang? Apakah kita harus ke dokter?" jawabku tenang.


"Jika ke dokter menjadi salah satu solusi terbaik, aku akan mengikutimu, sayang." kata Argeş tidak kalah tenangnya.


"Baiklah, kapan kita akan ke dokter?" tanyaku


"Apapun yang terbaik untukmu, istriku tersayang" jawab Argeş sambil meraih pundakku dan mencium keningku lembut.


Esoknya, seperti yang sudah diagendakan, hari ini aku dan Argeş menjalani tes untuk mengetahui apakah kita bisa punya anak atau tidak, bisa dibilang dengan kata lain mencari tahu siapa yang mandul atau penyebab kami belum punya anak setelah 5 tahun pernikahan.

__ADS_1


Aku dan Argeş bergegas pergi setelah mengikuti serangkaian tes karena kami harus lanjut bekerja. Kami baru akan mengambil hasil tesnya beberapa hari kemudian.


                          


***


Aku bergeming saat menerima hasil tes nya. Rasa kecewa, sedih, marah seolah semuanya bercampur menjadi satu. Hasilnya melaporkan bahwa selama ini kami belum saja punya anak karena Argeş mandul. Dia tidak bisa memberiku seorang anak.


Argeş yang duduk diseberangku menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Kekecewaan, kekhawatiran, kesedihan, terlihat jelas diwajahnya. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Bahkan untuk menyentuh Yasmine istrinya pun diurungkan niatnya.


Akupun hanya menangis, rasa kecewa yang sangat dalam, itu perasaan yang lebih menonjol dari dalam hatiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Melihat aku yang begitu terpuruk, akhirnya Argeş memberanikan diri untuk memelukku sembari berkata "Maafkan aku sayang, maaf telah membuatmu kecewa, maaf telah membuatmu menangis, maafkan aku". Aku hanya diam terus menangis, tidak menjawab sedikitpun. Aku benar-benar merasa hancur dan sedih. Seolah-olah duniaku berubah menjadi kehidupan yang suram dan semuanya runtuh. Betapa aku ingin sekali memiliki anak dari suamiku. Aku terlalu berharap bahwa hasilnya baik. Ini salahku kenapa aku bisa sampai merasa kecewa seperti ini karena aku terlalu berharap. Nyatanya semua tidak terjadi sesuai dengan ekspektasiku.

__ADS_1


"Yaa Allah..."lirihku, hanya nama Allah yang bisa kusebut. Kenyataan ini begitu terasa menyakitkan. Kuremas kertas hasil lab nya. Rasanya aku masih tidak percaya. Aku menangis sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh kesedihanku.


__ADS_2