
Aku berlari kecil menuju pintu masuk utama stasiun kota Bandung setelah memarkir mobil yang terletak cukup jauh dari pintu utama, kepalaku sibuk menengok ke kanan dan kiri mencari sosok perempuan Turki berambut cokelat yang sedang menungguku, Sara.
Lima menit kemudian akhirnya aku melihat Sara sedang duduk di ruang tunggu, dia terlihat semakin cantik dengan rambut pendek sebahu, sepertinya dia baru saja memotong rambut, karena terakhir video call dengan Sara, rambutnya masih terlihat panjang. Aku langsung menghampiri Sara yang terlihat sedang asik memainkan ponselnya.
"Aku sangat merindukanmu" aku langsung memeluk Sara.
Pelukanku sontak membuat Sara terkejut, dia hampir mendorongku setelah sekian detik menyadari bahwa yang memeluknya adalah aku, Sara buru-buru mengeratkan pelukannya.
"Yasmineeee, aku pun merindukanmu" teriakan Sara hampir mengganggu orang-orang di sekelilingnya.
Kami berpelukan untuk beberapa saat melepas rindu, hingga terdengar suara laki-laki yang membuatku tersadar bahwa Sara tidak sendiri.
"Kau tidak merindukanku juga?" suara laki-laki yang sangat kukenal terdengar jelas dari belakang Sara.
Aku mendongak dan melepas pelukan Sara untuk melihat dan memastikan bahwa suara yang kudengar itu adalah benar-benar suara mantan suamiku, Argeş.
Ternyata benar seratus persen, aku masih sangat mengenali suara mantan suamiku, Argeş berdiri tepat di belakang Sara. Saat awal bertemu Sara aku sama sekali tidak menyadari kehadiran Argeş yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Hai, kau.." sapaku canggung.
"... apa kabar?" lanjutku.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, Yasmine" ucap Argeş tidak menghiraukan sapaan basa basiku.
Jantungku berdetak kencang. Aku dapat melihat kerinduan dari sorot mata Argeş. Aku salah tingkah saat mata cokelatnya menatapku. Tatapannya masih sama seperti dulu, teduh, yang bisa membuatku merasa nyaman saat memandangnya.
"Selamat datang kembali di Indonesia" kataku semakin canggung, karena aku sengaja menghindari kata rindu yang dilontarkan oleh mantan suamiku.
"Ehem ehem..bolehkah kami menginap di rumahmu?" tanya Sara memecahkan kecanggungan yang terjadi saat ini.
Mobilku melaju cepat dijalanan, mulut ini terasa terkunci, tidak mengeluarkan kata sedikitpun, hanya beberapa kali menjawab pertanyaan Sara saja, entah mengapa rasa gugupku enggan untuk pergi. Aku tidak suka dengan suasana canggung dan membuatku merasa gelisah. Pertemuanku dengan Argeş yang sangat mengejutkan ini benar-benar membuatku tidak bisa berkutik. Bayangkan saja sudah berapa lama tidak bertemu dengan seseorang yang dulu sangat aku cintai dan kini kembali bertemu, tentunya dengan status yang berbeda dan mungkin perasaan yang berbeda pula.
"Bagaimana kalau kita makan di restoran terlebih dahulu? Pasti kalian sudah lapar bukan?" kataku berusaha memecah keheningan.
Ayolaah kita sudah berapa lama tidak bertemu, kasihan Sara sudah jauh-jauh ingin bertemu denganku, kenapa aku begini, gerutuku dalam hati.
__ADS_1
"Waaah ide bagus, kau memang sangat pengertian" sambut Sara dengan memelukku yang duduk berada di sebelahku.
Aku masih diam dan memaksa agar senyumku tak hilang menunggu jawaban dari seseorang yang duduk tepat dibelakangku. Kulirik Argeş di kaca spion, dia hanya menatap jalanan, melamun?
"Bagaimana denganmu, Argeş?" tanyaku ragu.
Dia bergeming.
"Argeş?" panggilku untuk menyadarkannya.
"Ya?" jawabnya sedikit tergagap.
Aku sangat yakin dia tadi melamun. Apa yang dia pikirkan sampai melamun seperti itu?
"Aku tadi bertanya apakah kau lapar? Kita akan mampir ke restoran dulu" aku mengulang perkataanku.
"Ya, tentu saja. Kebetulan aku juga lapar" ucapnya santai.
__ADS_1
"Baiklah"
Suasana kembali canggung. Ya Tuhan apa-apaan ini, mengapa suasana seperti ini sangat mengusik hatiku, kataku dalam hati.