
Sore itu, aku menyandarkan kepalaku di dada Argeş yang bidang. Aku membolak balikkan novel yang berada diatas perutku dengan gelisah. Berbeda dengan Argeş, dia sibuk membaca novel, wajah tampannya begitu tenang. Aku tidak ingat kapan Argeş mulai menyukai novel, seingatku baru menikah saja dia sangat tidak suka membaca. Aku pun makin gelisah melihat Argeş yang tenang, pikiranku terus berputar dan berpikir keras tentang obrolanku dengan Sara beberapa waktu yang lalu. Akhirnya aku memutuskan untuk mulai membuka pembicaraan.
"Canım, apakah kau tidak ingin memiliki anak?" tanyaku ragu.
"Hmm.." Argeş hanya bergumam tanpa berubah sedikitpun wajah tenangnya. Seolah-olah itu bukan pertanyaan yang sulit.
"Aku serius. Sepertinya kita sudah saatnya untuk cek ke dokter, canım." kataku lemah.
Argeş menutup novel yang dibacanya, dan mulai menatapku dengan tatapan yang teduh. Dia tersenyum, kedua tangannya meraih kedua pipiku.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya nya tenang.
"Aku ingin punya anak, Argeş." tak terasa aku pun mukai terisak.
__ADS_1
"Jika itu memang terbaik untuk kita, aku tidak keberatan untuk segera cek ke dokter. Hanya saja, aku tidak ingin kau kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Aşkım, jika Allah sudah berkehendak kita memiliki seorang anak, maka kita pun akan segera memiliki anak. Jangan pernah khawatir. Aku tidak apa-apa." katanya dengan tenang, lalu menarikku kedalam pelukannya, pelukan yang sangat aku sukai, hangat dan saat aku mendengar detak jantungnya, aku merasa tenang.
"Seni çok seviyorum, canım." tangiskupun mulai pecah berada dalam pelukan hangatnya.
"Ben de, Yasmine. Aku mencintaimu apa adanya, aku tidak menuntut kau harus memberiku anak atau apapun. Membahagiakanmu adalah hal terindah untukku. Aku ingin kau selalu merasa bahagia bersamaku." jelas Argeş sambil mengelus pelan rambutku.
Tak lama tangan hangat Argeş pun ikut mengusap air mataku dengan lembut.
"Apakah sekarang kita harus mencoba bagaimana cara membuat seorang anak yang tampan?"godanya sambil mencubit pelan hidungku sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Berhenti menggodaku, canım." kataku manja.
__ADS_1
Lalu tawanya pun pecah dan lanjut memelukku, tak lama bibirnya dan bibir ku menjadi satu.
Argeş memang suami terbaik untukku, aku merasa sangat beruntung memilikinya. Dia selalu berusha memberikan yang terbaik untukku, dia sangat mengerti diriku, apalagi dengan sifatku yang sangat egois dan keras kepala tetapi Argeş mampu untuk mengimbangiku.
Dulu kami berkenalan melalui media sosial dan memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, kami berpacaran selama lima tahun dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Pernikahan kami sudah berjalan lima tahun, tak terasa sudah sepuluh tahun aku bersama Argeş.
Awalnya kuragu untuk menerima Argeş masuk ke dalam hati dan hidupku, jujur saja aku hanya takut patah hati lagi seperti dulu. Saat di bangku SMA sampai dengan kuliah, aku menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat berarti untukku dan pada akhirnya aku patah hati karena kebodohanku sendiri. Meninggalkan seseorang yang aku cintai hanya karena alasan yang begitu kekanak-kanakan.
Tidak pernah menyangka bahwa aku sulit untuk jatuh cinta lagi, aku benar-benar jatuh cinta hanya dengannya dan itu jauh sebelum aku bertemu Argeş, hal itupun membuatku semakin sulit untuk membuka hati.
Beberapa tahun setelah patah hati dan hidup dengan kesendirianku, Argeş datang dalam hidupku dan selalu meyakinkanku bahwa dia akan membuatku selalu bahagia. Benar adanya, dia tidak bohong, dia menepati ucapannya.
Selama mengenal dan menjalani hubungan dengan Argeş, apalagi setelah pernikahan kami, dia selalu membuatku bahagia, dia benar-benar menepati janjinya. Bagaimana aku bisa berhenti mencintainya?
__ADS_1