
Sore itu Sara menelponku, dia memberiku kabar bahwa kini Argeş tinggal di ibu kota Turki yaitu Ankara. Dia dipindah kerja di sana, katanya sudah ada sekitar empat bulan Argeş berada di Ankara.
Selama tinggal di Turki, aku pernah sekali menginjakkan kaki di Ankara, aku dan Argeş, yang waktu itu dia masih menjadi suamiku, berjalan-jalan menyusuri kota tersebut. Kami mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Museum of Anatolian Civilization, Atakule, Masjid Kocatepe, dan beberapa tempat lainnya.
Sesungguhnya aku sangat menikmati selama tinggal di Turki. Aku tidak pernah merasa sedih ataupun tertekan, mungkin salah satu alasan terkuat aku betah tinggal di Turki adalah karena Argeş sangat menyayangiku dan dia selalu berusaha membuatku bahagia, sehingga aku dapat menikmati hidup walaupun harus jauh dari kedua orangtua dan keluargaku di Indonesia.
Semua itu kini tinggal kenangan, masuk dalam memori di kepalaku, menjadi bagian berkas-berkas dalam kehidupan. Memori yang sangat indah sekaligus menyakitkan untukku, sehingga aku memilih untuk menutup rapat semua memori itu dalam otakku saja. Tidak ingin kukenang.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan badan dan menyiapkan makan malam. Sedang asik memasak, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Siapa malam-malam begini? tanyaku dalam hati.
Kubuka pintu kayu berwarna abu-abu gelap, terlihat seorang pria yang kukenal berdiri membelakangi pintu. Rudy. Bahkan dari punggungnya saja aku sudah hafal.
"Hai" sapaku.
Rudy langsung membalikkan badannya setelah mendengar sapaanku.
"Hai, aku hanya mampir saja. tidak keberatan?" katanya dengan gugup.
"Hmm masih setengah tujuh sih, kebetulan aku juga lagi masak, sudah makan malam?" tanyaku.
"Sudah..." kruuuukk belum sempat menyelesaikan kalimatnya, perut Rudy berbunyi.
Aku terkekeh. Melihat tingkah Rudy lucu juga.
"Ayo, masuklah!" ajakku.
Sengaja kubuka pintu depan, agar tidak mengundang fitnah. Bagaimanpun aku dan Rudy bukanlah sepasang suami istri. Jika berduaan di dalam dengan pintu tertutup bisa menimbulkan hal yang tidak baik, baik itu fitnah atau lainnya.
"Masakanmu enak sekali" pujinya, Rudy dengan lahap memakan makan malam yang kusediakan.
__ADS_1
"Terima kasih" jawabku sambil tersenyum.
"Oh ya kamu suka baca kan?"
"Suka banget tapi baca novel haha" ucapku sambil mengunyah sisa makanan di dalam mulutku.
"Gimana kalau kita bikin perpustakaan gratis gitu untuk anak-anak jalanan? Ya sederhana saja sih" kata Rudy sambil masih terus menikmati sup ayam dan tempe gorengnya.
"Wah boleh juga tuh, yuuk"
"Iya siapa tau bermanfaat untuk anak-anak yang kurang beruntung, aku ada rencana bikin perpustakaan sudah lama. Cuma belum ada teman yang mau. Nanti aku cari tempatnya, aku minta bantuan kamu untuk cari buku-buku yang pas untuk anak-anak saja. Kira-kira mereka bisa membaca dan belajar dengan senang" timpalnya.
"Okay aku semangat banget ini" jawabku penuh semangat.
"Hahaha syukurlah kalau kamu semangat."
"Yasmin, kamu baik-baik saja?" tanya Rudy tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Perceraian itu pasti sulit untuk kamu"
"Oh itu" aku meminum air putih yang kutuang di gelas kaca bening.
"Aku baik-baik saja. Masa sulitku sudah lewat, Rud. Lagipula itu sudah satu tahun yang lalu"
"Kamu masih berkomunikasi baik dengan mantan suamimu?"
Aku menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Lebih baik seperti ini" ucapku.
"Maaf jika pembicaraan ini jadi membuatmu tidak nyaman"
"Tak apa, Rud. Aku baik-baik saja. Sempat mengalami masa-masa sulit di awal perceraian. Dia yang menceraikan aku"
"Alasannya karena apa?"
"Dia mandul"
Rudy terdiam, dia menghentikan sesaat aktifitas makannya. Raut wajahnya nendadak seperti berpikir sesuatu.
"Kamu tidak menerimanya?" tanyanya ragu.
"Bukan, aku sangat menerimanya. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan. Baginya bersama-sama denganku akan terasa sangat sulit. Jadi dia memutuskan untuk bercerai" jelasku.
"Kamu hebat, mau menerima suamimu apa adanya. Itulah kenapa aku masih belum bisa berpindah ke lain hati, karena aku tahu kamu adalah wanita hebat.." Rudy langsung menghentikan ucapannya.
Aku terdiam bingung mendengar kalimat yang diucapkan Rudy barusan.
"Maaf, Yasmine. Aku tidak bermaksud apa-apa. Benar-benar lancang mulut ini" Wajah rudy terlihat gelisah.
"Engga apa-apa kok, Rud" jawabku.
"Aku pamit dulu ya, sudah malam, makanannya enak dan terima kasih mengajakku makan malam, lain kali aku yang undang kamu makan malam ya"
"Iya, Rudy. Terima kasih ya" ucapku dengan senyuman manis mengembang di pipiku.
Rudy terdiam sesaat melihat senyumanku, matanya tak berkedip. Tak lama dia kembali sadar dan berpamitan meninggalkan rumahku dengan berjalan kaki.
__ADS_1