
Sore ini kota Mardin dibasahi oleh hujan yang turun sangat deras. Kubuka novel yang baru saja aku ambil dari salah satu rak buku yang tertata rapi di perpustakaan miniku. Aku ditemani kopi susu panas dan brownies cokelat kesukaanku, aku duduk diatas sofa yang terletak dipinggir jendela, sempat melihat jalanan yang basah dan hujan masih turun begitu deras namun tetap saja terasa menyenangkan, aku sangat menyukai hujan.
Selimut berwarna fuschia menutupi kakiku, baru saja aku membaca satu halaman, Argeş datang mendekatiku dan duduk disampingku. Aku mengangkat kepalaku dari arah buku menuju wajah Argeş yang terlihat resah. Ada apa ini, batinku.
"Yasmine, aku ingin bicara sesuatu" ucapnya membuka pembicaraan.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan mendekatkan diriku pada Argeş, aku mengelus rambutnya lembut, dia tidak menghindar, dia hanya diam sesaat.
"Yasmine, maafkan aku. Aku menceraikanmu" jelas Argeş.
Aku terbelalak mendengar ucapan Argeş, dia mengatakan tanpa keraguan. Aku tidak sanggup berkata-kata.
__ADS_1
"Kita harus bercerai, Yasmine" ulang Argeş
"Kenapa?" suaraku bergetar, mataku mulai terasa panas karena airmata sudah siap untuk mengalir.
"Aku tidak bisa membahagiakanmu, Yasmine. Aku mandul. Sedangkan kau ingin sekali punya anak" jelasnya.
Tubuhku bergetar menahan tangis. Aku masih berusaha mencerna ucapan Argeş. Kabar yang ia bawa seperti petir di siang bolong.
"Aku yang tidak bisa menerima kenyataan ini semua. Aku pun sama menunggu kehadiran buah hati kita, tapi aku yang tidak memberimu anak. Jika kau yang mandul, aku bisa menerimanya. Tapi ini aku, Yasmine!" bentak Argeş.
Aku tersentak mendengar bentakan suamiku, selama mengenal dan menikah dengannya, belum pernah sekalipun dia membentakku, kini saat dia menceraikan aku, dia membentakku.
__ADS_1
"Salah aku apa?" tanyaku.
"Kamu tidak salah apa-apa. Aku sudah lama memikirkan keputusan ini sejak awal kita mengetahui hasil lab, bagiku memang bercerai adalah jalan terbaik. Aku sudah mengurus semua perceraiannya" jelas Argeş lalu pergi meninggalkan Yasmine yang tertunduk lemas.
Aku menangis sejadi-jadinya, tidak pernah kubayangkan sebelumnya pernikahanku kandas ditengah jalan. Pernikahan yang terasa sangat menyenangkan, bahagia, kini pupus sudah, semuanya terasa hancur dan benar-benar kacau. Kenapa suamiku memilih keputusan ini, yaa Allah, tangisku.
Argeş yang mendengar tangisan istrinya, ia pun ikut menangis. Baginya ini adalah keputusan tersulit dalam hidupnya. Sebenarnya Argeş tidak ingin bercerai dengan orang yang sangat dia cintai. Yasmine adalah segalanya dalam hidup Argeş. Tetapi kenyataan ini terlalu sulit jika ia jalani terus bersama Yasmine, dia berusaha menerimanya hanya saja hatinya selalu menolak, dia merasa sangat bersalah dengan Yasmine. Satu-satunya jalan terbaik adalah bercerai, Yasmine berhak hidup bahagia, pikir Argeş.
Senja hari ini terlihat kelabu, hujan yang masih saja turun sangat deras menutup keindahan senja seakan mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, kesedihan yang menyelimuti hati Yasmine dan Argeş, sepasang suami istri yang baru saja memutuskan untuk bercerai. Tak terdengar suara apapun kecuali tetesan air hujan dan isak tangis kedua insan yang terpisah dalam ruang masing-masing.
Kopi yang kubuat sudah dingin, brownies yang menemaninya terlihat sedih. Semuanya terasa menyedihkan. Aku menyandarkan kepalaku dikaca jendela, memandang jalanan, sepi, seperti hatiku saat ini. Inginku kembalikan seluruh kebahagiaanku yang kini sudah sirna. Aku kembali menangis, berharap ini semua mimpi atau berharap aku bisa menerima kenyataan setelah airmata ini berhenti mengalir.
__ADS_1