Pudarnya Pesona Pria Turki

Pudarnya Pesona Pria Turki
Merindumu


__ADS_3

Beberapa hari setelah Argeş memberitahuku bahwa dia sudah mengurus perceraian kami, aku tinggal bersama Sara.


Sara yang mendengar kabar ini, dia terlihat sangat terkejut dan kecewa, dia menangis bersamaku. Dia tidak dapat menutupi kesedihannya. Apalagi dia tahu bahwa permasalahannya karena Argeş tidak dapat memberiku seorang anak. Tapi aku tahu Sara berusaha selalu menguatkanku, baginya aku sudah seperti kakak sekaligus sahabat dalam hidupnya.


Sara membawakan makanan khas Turki, kofte dan dolma. Aku tersenyum saat melihat Sara menuju ke arahku. Aku mengambil satu potong makanan yang tadi Sara bawa. Tetapi semua terasa tidak enak dimulutku, bukan karena rasa makanannya yang tidak enak, melainkan perasaanku saat ini yang membuat nafsu makanku menurun drastis, tapi aku tetap menghabiskan dolma yang kuambil tadi, menghargai Sara yang sudah mengurusku selama aku menumpang dirumahnya.


Saat kejadian di sore itu, aku memohon pada Argeş untuk membatalkan perceraian dan mencari jalan keluar terbaik untuk memperbaiki rumah tangga kami. Sayangnya Argeş menolak, keputusannya untuk bercerai sudah bulat. Bahkan Argeş sendiri yang memintaku untuk tinggal bersama Sara sampai surat resmi perceraiannya diterima oleh kami.


Aku belum sempat bertemu Argeş lagi setelah sore kelabu itu terjadi. Dia pun tidak memberiku kabar. Jarak rumah Argeş dan Sara tidak begitu jauh, tapi dia tidak datang satu kalipun hanya untuk menjengukku.

__ADS_1


"Sara, apakah aku salah jika diawal aku butuh waktu sendiri?" tanyaku pada Sara yang duduk berhadapan denganku, kami duduk diatas karpet tebal yang terasa sangat nyaman berwarna cokelat muda.


"Tidak. Itu hal wajar. Tetapi aku tidak mengerti mengapa Argeş memilih untu bercerai. Kau saja sudah menerimanya" jawab Sara sambil memakan kue kering kesukaannya.


"Dia bilang dia yang tidak terima karena tidak dapat memberiku anak, tidak dapat membahagiakanku. Padahal kalau dia tahu, aku sudah sangat bahagia hidup bersamanya, aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamanya meskipun tanpa kehadiran buah hati kami. Sara, apakah kau tahu? Aku sangat sangat sangat mencintai Argeş" mataku berkaca-kaca saat menekankan kalimat mencintai Argeş.


Sara buru-buru memelukku. Menguatkanku kembali.


Aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Teringat dengan ucapan Argeş bahwa dia benar-benar sudah bulat tekadnya untuk mengambil keputusan ini. Entah jika Sara yang bicara apakah akan mengubah keadaan atau tidak. Tapi aku tidak ingin ada orang lain yang mencampuri urusan pernikahanku.

__ADS_1


Aku duduk sendiri ditepi tempat tidurku, Sara sudah masuk ke dalam kamarnya. Kubuka ponselku dan melihat beberapa foto aku dan Argeş saat kami masih baik-baik saja. Foto-foto ini menggambarkan jelas bahwa kami dulu sangatlah bahagia. Masih jelas diingatanku kenangan-kenangan yang terjadi saat foto-foto ini diambil.


Aku membuka aplikasi untuk mengirim pesan singkat kepada Argeş.


To: Argeş


Suamiku, apa kabarmu disana? Apakah kau baik-baik saja? Aku sangat merindukanmu. Apakah kau tidak merindukanku, canım?


Lalu aku menekan kata send pada layar ponselku. Beberapa detik pesanpun terkirim.

__ADS_1


Lima menit sampai satu setengah jam aku menunggu balasan dari Argeş tapi tak kunjung datang, padahal pesanku sudah dibaca olehnya. Aku menekan tombol kunci ponselku dan kuletakkan di atas meja yang ada disamping tempat tidur.


Mungkin hari ini tidak dibalas lagi, besok-besok akan dibalas, gumamku.


__ADS_2