
Akhirnya setelah kurang lebih tiga puluh menit dijalanan sampai juga dirumahku, aku masih banyak diam. Entah mengapa, Sara pun tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya. Apakah dia juga merasa canggung dengan keadaanku yang tiba-tiba bertemu Argeş?
Setelah beberapa saat, aku segera menyiapkan kamar tidur untuk Argeş yang terletak di samping kamar utama, aku hanya menyiapkan satu kamar karena rencananya Sara akan tidur denganku dan memang hanya ada satu kamar tamu yang tersisa di rumahku.
Rumah ini sangat sederhana, memiliki dua kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang keluarga yang dominan dengan warna putih dan emas. Sebenarnya rumah ini terdapat tiga kamar tidur, hanya saja salah satu ruangannya aku gunakan untuk ruang membaca yang mana menjadi salah satu ruangan favoritku karena menjadi tempat hobi membacaku. Bagiku rumah ini sudah sangat cukup untuk kondisiku saat ini yaitu tinggal sendiri.
Sara menghampiriku yang masih sibuk menyiapkan bantal dan selimut untuk mantan suamiku. Dia tersenyum kepadaku dan aku membalas senyumannya.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi" Sara duduk di tepi ranjang tepat di sebelahku.
Aku menghentikan aktifitasku dan menatap wajah Sara yang cantik, hidungnya seperti terpahat dengan sempurna, mata cokelatnya yang selalu mengingatkanku pada mata indah milik Argeş.
"Aku pun sama, Sara. Terimakasih sudah jauh-jauh dari Turki mengunjungiku ke Indonesia" jawabku.
"Maaf aku tidak memberimu kabar sebelumnya bahwa Argeş akan ikut denganku. Aku khawatir kau akan menolakku jika mengetahuinya" ucap Sara menyesal.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Sara" kataku sedikit canggung.
Entah, setiap menyebut nama Argeş atau hanya membahasnya, suasana terasa sangat canggung. Dulu saat aku masih menjadi istrinya, Argeş adalah topik yang selalu membuatku semangat untuk dibahas. Dia amat sangat berarti dalam hidupku terlebih lagi aku sangat mencintainya. Tapi kini? Semuanya terasa menjadi canggung, bahkan hanya mendengar namanya saja.
"Argeş selalu membicarakanmu saat kau sudah pulang ke Indonesia. Dia selalu bilang bahwa dia sangat merindukanmu. Saat dia tahu aku akan pergi ke Indonesia, dia sangat bersemangat dan tanpa persetujuanku, dia langsung mencarikan tiket untuk kami. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak tega jika menolaknya ikut denganku, tetapi di sisi lain aku merasa tidak enak denganmu" jelas Sara, tampak jelas wajahnya terlihat sangat menyesal.
"Tak apa, Sara. Aku senang bisa bertemu dengannya lagi" aku mencoba menenangkan Sara.
Sara memelukku, aku bisa merasakan bahwa dia merasa lebih tenang saat ini. Dia meninggalkanku dan memutuskan untuk mandi. Aku melanjutkan aktifitasku menyiapkan selimut yang masih belum sempat kuletakkan di atas tempat tidur.
Saat aku keluar kamar, aku bertabrakan dengan Argeş yang akan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Ya ampun, aku bahkan lupa menyuguhkan air minum untuk tamu.
"Tidak apa-apa, Yasmine" jawabnya gugup.
"Hmm..yaa..hmm" aku berdehem meskipun tenggorokanku tidak gatal sama sekali.
__ADS_1
"Aku ambil minum dulu" Argeş mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ya silahkan" jawabku asal.
Sepersekian detik aku baru menyadari bahwa akulah tuan rumah yang tidak menjamu tamu dengan baik, aku buru-buru mengejar Argeş ke dapur dan menyalip langkahnya, segera mengambil gelas dan air putih. Argeş yang terkejut melihatku tiba-tiba datang, dia menghentikkan langkahnya dan terdiam melihatku yang cepat sekali gerakannya mengambil gelas dan air.
"Ini minumannya, silahkan" kataku sambil menyodorkan segelas air putih.
Argeş yang masih terkejut denganku menanggapinya dengan cepat.
"Terimakasih.." Argeş langsung meminum airnya dan tanpa sengaja menatap ke arah mataku.
Tatapan kami bertemu, baru lagi aku menatap matanya yang indah. Sejenak aku terhipnotis dengan tatapannya dan tidak tahu darimana asalnya, memoriku kembali pada masa-masa kami masih bersama.
Dulu aku sering sekali mengambilkan air minum untuknya, menyiapkan makan, menyambutnya sepulang kerja, semuanya terasa indah. Dulu dia lah yang pernah singgah di hatiku dan cukup lama untuk hanya sekedar singgah, aku tak yakin bahwa hatiku hanya singgah dalam hidupnya, karena mungkin sampai saat inipun hatiku masih tertinggal disana. Tak terasa airmataku sudah menggenang. Buru-buru aku menundukkan kepala, jika tetap kulanjutkan maka tangisku tak bisa kubendung lagi.
__ADS_1
"Permisi" ucapku lirih, meninggalkan Argeş sendiri.
Argeş tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya terdiam memegang gelas yang kuberi. Apa yang sedang dia pikirkan saat ini?