
Sudah enam bulan berlalu setelah kejadian menyedihkan dimana aku tahu bahwa Argeş tidak dapat memberiku anak, saat itu juga aku sudah lama tidak bicara dengannya, hubungan kami menjadi sangat dingin. Kami lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, menghindar untuk bertemu satu sama lain tepatnya. Argeş pun sudah tidak menyentuhku lagi. Tak apa, aku mengerti perasaannya. Aku pun tidak banyak bicara, ya..hanya bicara seperlunya saja.
Sore ini sepulang kerja, aku mampir di kafe dekat sekolah tempatku bekerja. Kafe nya kecil, sederhana dan sangat nyaman tempatnya. Ku duduk di sofa berwarna maroon dekat jendela, menikmati coklat panas dan sepotong kue keju. Laptop yang sengaja kubawa dari rumah sudah menyala terang didepanku, aku menyibukkan diri untuk menulis cerita pendek, benar..kuhabiskan waktuku diluar untuk menghindari bertemu Argeş.
"Permisi" sapa seseorang dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
"Ya?" aku spontan menjawab dengan menggunakan Bahasa Indonesia, karena baru kali ini ada seseorang yang menyapaku menggunakan Bahasa Indonesia selama aku tinggal di kota Mardin, Turki.
"Yasmine, benar itu kau. Awalnya aku ragu untuk menyapamu, sekarang kau benar-benar seperti perempuan Turki" kata Rudy dengan senyum khasnya.
"Hai, Rudy. Kamu lagi disini?" tanyaku
"Boleh bergabung?" tanya Rudy
"Oh iya, silahkan." aku mempersilahkan Rudy bergabung denganku. Dia duduk diseberangku.
"Aku kebetulan mampir kesini setelah pulang kerja. Aku suka sekali coklat panas di kafe ini" kata Rudy sambil menunjukkan gelas yang ada ditangannya.
"Ya benar sekali, menurutku coklat panas terbaik di kota Mardin haha" kataku sambil tertawa kecil
"Kau sendiri belum pulang selepas kerja?" tanya nya sambil meminum coklat miliknya.
__ADS_1
"Ya begitulah" jawabku hambar.
"Oh iya, apa kamu memberiku nomor ponsel yang salah? Aku menghubungimu beberapa bulan yang lalu, tapi tidak ada balasan" kata Rudy
Hmm aku sedikit mengerutkan keningku, mencoba untuk mengingat-ingat, ah..benar aku lupa tidak membalas pesannya, batinku.
"Sepertinya aku lupa membalas pesanmu, maaf" kataku menyesal.
"Haha tidak apa-apa" jawab Rudy diiringi tawa nya yang membuat dia semakin terlihat tampan. Dia memang semakin tampan, cambang nya yang rapi semakin melengkapi wajah tampannya.
"Kamu akan lama tinggal di Mardin?" tanyaku
"Hmm sekarang sudah 7 bulan di Mardin, masih ada satu bulan lagi disini. Setelah itu pulang ke Indonesia." katanya
"Belum, hanya sempat ke Istanbul itupun untuk keperluan pekerjaan. Ya bagaimana lagi, aku datang ke Turki untuk bekerja. Kamu masih ingat dulu kita sempat bermimpi pergi ke Turki untuk berbulan madu?" tanya Rudy tertawa. Akupun hanya tertawa dan tertunduk malu.
Aku malu mendengarnya, geli sekali mendengar itu, masa-masa remaja, aku dan dia di tahun terakhir kami berpacaran, pernah merajut mimpi bersama, untuk menikah dan berbulan madu di Turki, kami memang sama-sama menyukai negara Turki.
"Kita memang sedang tidak berbulan madu, kita tidak membuat mimpi itu menjadi nyata, tapi takdir berkata lain, takdir membawa kita bertemu kembali setelah sekian tahun berpisah dan tak pernah bertemu, tanpa sengaja kita bertemu lagi disini. Di Mardin, Turki." kata Rudy dengan senyumannya. Dia menatapku untuk sesaat. Entah ada rasa yang dulu pernah ada saat seperti ini. Tatapannya yang dulu selalu membuatku tersenyum.
"Ah yaa..benar sekali. Aku tidak pernah bertemu denganmu setelah kita putus, bertahun-tahun lamanya, kau ada dihadapanku lagi sekarang" jawabku lalu aku menatap matanya sesaat, kemudian aku menundukkan pandanganku.
__ADS_1
"Apa aku boleh bicara sesuatu?" tanya Rudy
"Iya" jawabku singkat
"Setelah kau memutuskan untuk berpisah denganku. Aku merasa patah hati sekali. Aku benar-benar kecewa denganmu, Yasmine. Tapi aku berusaha untuk tetap melanjutkan keseharianku dengan baik, aku pikir kau hanya cinta monyetku saja, cinta anak remaja. Tapi aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintaimu, bertahun-tahun aku tidak bisa melupakanmu, sampai aku berusaha untuk mendapatkan beasiswa di Turki, berharap juga mendapatkan pekerjaan di Turki, agar suatu hari nanti saat aku bertemu denganmu lagi, aku akan menikahimu dan membawa tinggal bersamaku, aku akan membuat mimpi kita berbulan madu di Turki menjadi nyata. Kau adalah cinta pertamaku, Yasmine. Tidak ada yang lain dihatiku." terang Rudy.
Mataku berkaca-kaca, hatiku sedang tidak siap, bukan untuk menerima Rudy atau menolaknya, tetapi hatiku saat ini sedang rapuh. Kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini? Akupun tau aku sangat mencintainya, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah menjadi seorang istri. Cintaku hanya untuk suamiku. Aku bergeming. Tanganku hanya diam memegang gelas coklatku yang kini sudah dingin.
"Akuu.."kalimatku terhenti. Entah apa yang aku harus aku katakan saat ini.
"Apa kau sudah menikah, Yasmine?" tanya Rudy, wajah tampannya kini diselimuti kecemasan.
Lagi, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menganggukkan kepala.
Rudy tertunduk lesu, raut wajahnya sangat kecewa. Seperti seseorang yang patah hati. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Rudy.
"Aku menikah dengan orang Turki, Rud. Itulah kenapa aku berada disini sekarang. Aku sudah hampir enam tahun tinggal di Mardin. Maafkan aku. Aku tidak menunggumu. Hanya saja aku sempat mencarimu setelah kita berpisah, aku ingin kembali padamu, tapi aku tidak berhasil menemukanmu, teman-teman mu bilang bahwa mereka tidak boleh memberitahukan keberadaanmu kepadaku. Aku tahu, aku salah karena telah memutuskan hubungan kita, karena itulah akhirnya aku bisa menerima saat aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Bertahun-bertahun aku menunggumu, berharap bertemu kembali denganmu dan bisa membangun hubungan lagi denganmu, karena aku benar-benar mencintaimu. Tapi takdir berkata lain, aku bertemu dengan seorang pria, yang kini menjadi suamiku, dia selalu meyakinkan aku bahwa dia bisa membahagiakan aku. Dia benar-benar berjuang untuk mendapatkan aku dan merebut hatiku. Akhirnya kami menikah. Pernikahan kami berjalan sudah hampir enam tahun..." jelasku pada Rudy, buliran air mata jatuh dipipiku tanpa kusadari, aku sudah tidak sanggup melanjutkan kalimatku.
"Selamat, Yasmine. Maafkan aku telah berkata seperti ini sedangkan kau sudah bersuami." jawab Rudy tersenyum, tapi kulihat sorot matanya penuh dengan kesedihan.
"Maafkan aku, Rudy.." hanya itu yang bisa kukatakan.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Terima kasih sudah menemaniku." kataku sambil membereskan laptopku lalu berpamitan kepada Rudy.