Pudarnya Pesona Pria Turki

Pudarnya Pesona Pria Turki
Sikap Manis


__ADS_3

Beberapa minggu ini aku sering bertemu dengan Rudy, bukan untuk berkencan atau apapun yang berkaitan dengan percintaan melainkan tentang rencana yang kami buat pada saat makan malam di rumahku yaitu membuat perpustakaan untuk anak-anak jalanan.


Rudy mengeluarkan biaya untuk membangun perpustakaan murni dari kantong pribadinya, dia memiliki cita-cita untuk membangun sekolah dan perpustakaan gratis bagi anak-anak yag membutuhkan. Dia banyak cerita tentang apapun kepadaku. Itu membuatku merasa nyaman dan semakin kagum dengannya.


Proses pembangunan perpustakaan ini sudah hampir tujuh puluh persen, aku pun sudah membantu mencari buku-buku yang dibutuhkan, tentu saja Rudy ikut menemaniku.


Malam ini dia mengundangku makan malam di sebuah rumah makan yang menyajikan berbagai menu nusantara. Aku memesan jus jeruk, paket nasi liwet ayam goreng, salah satu menu favoritku, sedangkan Rudy memesan teh manis hangat dan soto padang. Kami memang tidak makan di restoran mewah tetapi makan sederhana seperti ini saja membuatku sangat bersyukur dan bahagia.


"Terima kasih sudah sangat membantuku untuk mewujudkan impianku, Yasmine" ujar Rudy sambil menatapku teduh. Mata hitamnya terlihat indah, dulu saat kami masih berpacaranpun, aku mengagumi setiap detail yang ada dalam dirinya.


"Dengan senang hati, Rud" ucapku santai.

__ADS_1


Rudy mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil berwarna hitamnya, terlihat dia mengeluarkan kotak beludru berwarna merah berukuran sedang dan meletakkannya di meja, sesaat dia mendorong perlahan kotak itu mendekat ke arahku.


"Ini hadiah untukmu" kata Rudy ragu-ragu.


"Jangan tersinggung, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini untukmu" lanjutnya.


Aku hanya terdiam bingung.


"Iya, bukalah. Apa kamu menyukainya?" tanyanya.


Aku membuka kotak beludru itu, aku terkejut melihat isinya, sebuah kalung emas dengan liontin bertuliskan "Yasmine" namaku. Kalung ini terlihat sangat..cantik. Netraku seperti terhipnotis oleh kecantikan kalung ini. Aku tersenyum.

__ADS_1


"Dulu, saat kita masih bersama, aku ingin sekali memberikanmu hadiah kalung seperti ini, liontin ini aku sendiri yang membuat design-nya, gambarnya sudah lama sekali tersimpan di lemariku. Hanya saja dulu aku masih belum punya apa-apa sehingga belum bisa tercapai memberikanmu hadiah ini. Aku ingin bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk seseorang yang sangat berharga dan berarti dalam hidupku. Akhirnya aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa mewujudkan impianku kapanpun itu. Ternyata Tuhan merestui impianku menjadi nyata. Walaupun baru saat ini aku bisa memberikannya.." jelas Rudy, sepertinya dia sudah bisa lebih tenang.


"Jangan berpikiran macam-macam, aku tidak bermaksud apa-apa. Mohon diterima, Yasmine" pinta Rudy, matanya menatapku bersungguh-sungguh.


Mataku berkaca-kaca, aku kehilangan kata. Aku tidak menyangka dulu Rudy sangat mencintaiku. Akupun sama. Kami terpisah oleh jarak dan waktu, keegoisanku yang membuatku putus dengannya. Kini aku dan dia kembali dekat, walaupun dengan hubungan yang tak lagi sama.


"Aku terima hadiahmu, terima kasih, Rudy..terima kasih" ucapku menahan tangis.


Lalu Rudy memakaikan kalung cantik itu di leherku. Ah..sungguh, aku menyukainya. Menyukai cara Rudy memperlakukan aku sedari dulu, sejak pertama aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu sampai saat ini, tidak ada yang berubah.


Rudy tersenyum saat melihatku sudah memakai kalung itu. Lalu dia mempersilahkan aku untuk menikmati makan malam ini.

__ADS_1


Rasanya makan malam ini terasa sangat berbeda untukku. Makan malam berdua bersama mantan kekasih saat aku SMA dulu. Asing tapi terasa rindu.


__ADS_2