
Seketika Amel sadar dan dia pun berbalik mencari arah sumber suara dan seketika.....
Deg.
" Opa ?." Ucap Amel kaget dan dia pun lebih kaget lagi karena di rumah ternyata masih ada Yusuf.
" Apa ?." Tanya opa sinis kepada Amel.
" Ngapain opa dan yang lain ada di sini." Ucap Amel yang berusaha menahan rasa sakit ketika opa yang selama ini Amel sayangi menjawab dengan tatapan sinis.
" Harusnya saya yang tanya kepada kamu ." Tunjuk opa pakai tongkat ke arah Amel.
" Ko Amel opa ?." Tanya Amel sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Ya iya lah kamu siapa lagi." Ucap opa.
" Tapi kan Amel ngga tau kenapa kalian semua ada di sini dan bahkan Amel juga kaget." Ucap Amel.
" Jangan sok ngga tau deh anak pembawa sial." Ucap Areta.
" Tapi kan aku beneran ngga tau." Ucap Amel jujur.
" Alah bisanya ngeles Mulu." Ucap Areta.
Mereka semua melupakan keberadaan Yusuf dan mereka semua malah menghakimi Amel dengan semua cacian dan makian.
" Nih cepat setrika baju gue kalau mau tinggal di sini." Ucap Areta sambil menyerahkan bajunya ke Amel.
" Loh bukannya ini kemarin sudah di setrika ya.." Tanya Amel bingung karena setau dirinya baju yang di pegang saat ini adalah baju yang kemarin sudah Amel setrika.
" Mau kemarin udah di setrika kek mau ngga pokoknya harus di setrika lagi, karena apa ? karena bajunya kusut." Ucap Areta.
" Tapi ini ngga kelihatan kusut ko." Ucap Amel sambil membolak-balikkan baju seragam.
" Hay Lo di sini hanya numpang ya... jadi jangan pernah ngebantah apa yang gue ucapkan " Ucap Areta lagi.
" Mending kamu setrika lagi sana, takut anak saya telat sekolah." Ucap papi Yusuf dan papinya juga lupa yang awalnya ingin mengehentikan Yusuf supaya tidak tau kebenarannya tapi ini dia malah melupakan tujuan awalnya.
" Tapi Pi....." Ucap Amel terpotong karena mendengar suara maminya.
" Hay jangan memanggil suami saya dengan sebutan papi ya... dan kamu harus nya hormat sama suami saya dan ingat jalan pernah ngelunjak." Ucap maminya Yusuf yang juga sama lupa dengan tujuan awalnya seperti Papinya.
" Baik dan maaf jika saya lancang nyonya tuan." Ucap Amel menunduk yang berusaha menahan air matanya agar tidak lolos.
" Buruan jangan lama." Ucap Areta sambil mendorong bahu Amel.
Karena merasa sudah jengah dan tidak di anggap keberadaan nya Yusuf pun langsung bicara.
" Oooh jadi begini ya.... kelakuan kalian yang sebenarnya terhadap Amel." Ucap Yusuf sambil bertepuk tangan sebagai tanda hebat karena sudah bersandiwara secara bagus.
Ketiak mendengar suara Yusuf dan tepuk tangan mereka semua pun menoleh ke sumber suara seketika....
" Yusuf, Kaka." Jawab mereka serempak Secara bersamaan.
" Apa." Ucap Yusuf.
" Apa ini kelakuan kalian yang sebenarnya hah !!." Teriak Yusuf keras dan membuat semua orang pun kaget serta menutup kuping mereka masing masing.
Karena kaget mendengar teriakkan Yusuf semua pelayan yang berada di rumah itu pun seketika kumpul tetapi tidak di tempat keluarga itu melainkan di celah celah.
" Kenapa Aden Yusuf teriak ya... dan tumben tumbenan dia marah serta teriak sangat keras apalagi di depan keluarga nya ?." Tanya pelayan yang berada di rumah itu kepada temannya yang saat ini masih fokus.
" Mana kita tau, kan kita di sini hanya kerja tanpa tau masalah orang lain." Jawab pelayan yang sedang serius.
" Benar juga apa yang kamu bilang." Ucapnya lagi.
Akhirnya mereka pun memilih diam dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.
__ADS_1
" Maksud kamu apa nak." Tanya mami Yusuf yang saat ini sedang takut.
" Kalian masih tanya, kalian ini manusia bukan sih." Ucap Yusuf yang sudah kesal.
" Kalian membohongi aku dan kalian memperlakukan Amel kaya begini." Ucap Yusuf melangkahkan kakinya ke arah Amel sambil memeluk Amel yang saat ini masih menundukkan kepalanya.
" Apa yang kami bohongi kepadamu nak." Tanya opa.
" banyak." Jawab Yusuf.
" Adakah yang ingin menjelaskan kepadaku ?." Tanya Yusuf lagi sambil mengusap tubuh Amel yang sedang bergetar hebat.
" Papi, mami, opa, Oma, Areta, Vito." Ucap Yusuf menyebutkan semua keluarganya.
" Baiklah akan papi jawab dan ingat baik baik." Ucap papi Yusuf yang lebih baik mengungkapkan kebenaran nya selama ini dari pada di tutupi terus.
" Papi." Ucap mami Yusuf yang sedang mencoba menahan sang suami agar tidak bercerita kepada Yusuf.
" Biarkan dia tau." Ucap papi Yusuf.
" Baiklah akan papi jawab tapi ingat jangan pernah menyela apa yang akan papi ucapkan." Ucap papinya.
" Baik." Ucap Yusuf yang sudah mulai penasaran.
Akhirnya papinya Yusuf pun bercerita kepada Yusuf dan membongkar semua kebohongannya selama ini.
" Begitulah nak ceritanya." Ucap papi Yusuf.
" Lalu kenapa kalian menyalahkan Amel." Ucap Yusuf yang sudah berusaha menahan emosinya.
" Dia memang pantas untuk di salahkan." Ucap Oma yang sedari tadi hanya bisa menyimak, namun ketika itu di ungkit kembali maka membuat sang Oma pun marah.
" Apa alasannya ?." Tanya Yusuf.
" Karena dia lahir dari rahim seorang wanita yang telah membuat keluarga kita hancur." Ucap Oma Yusuf.
" Harusnya yang di salahkan bukan Amel Oma, tapi opa." Ucap Yusuf sambil menunjuk ke arah opanya.
" Setega itukah kalian membuat anak yang tidak tau sama sekali permasalahan orangtuanya di siksa dan di berikan tekanan." Ucap Yusuf lagi.
" Itu tak seberapa dengan rasa sakit Oma." Ucap oma sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
" Oh iya ?." Ucap Yusuf yang meremehkan kata kata Oma.
" Iya." Ucap Oma
" Tapi aku tidak yakin kalau Oma yang tersakiti." Ucap yusuf.
" Malahan nih ya....aku melihat Oma itu merasa bahagia bahwa wanita itu menderita dan juga tersiksanya seperti anaknya." Ucap Yusuf.
" Jangan sok tau kamu bocah kecil." Ucap Oma yang mulai kesal dnegan cucunya ini.
" Ini memang kenyataan loh ya... dan bukan hoax." Ucap Yusuf lagi.
" Jika memang ini kenyataan mana buktinya." Ucap Oma menantang cucunya.
" Baik akan aku buktikan." Ucap Yusuf sambil melepaskan tangannya dari pelukan Amel dan setelah itu dia melangkahkan kakinya ke arah kamarnya.
Setelah kepergian Yusuf Oma Yusuf pun menghampiri Amel setelah dekat dengan Amel.
PLAK.
" Puas kamu sudah mengancurkaan keluarga ini puas hah !." Teriak Oma Yusuf.
" Harusnya kamu itu mati sama seperti ibumu ketika melahirkan dirimu." Ucap Oma Yusuf sbil menunjuk ke arah Amel dan seketika Amel pun menatap Omanya.
" Maksudnya apa Oma ?." Ucap Amel bertanya.
__ADS_1
" Jangan sembarangan kamu memanggil saya Oma ya... dan harusnya kamu itu memanggil saya dengan sebutan Nyonya besar." Ucap oma Yusuf dan menekankan setiap ucapannya agar Amel mengerti dan tau posisi dia yang sebenarnya.
" Maaf nyonya besar." Ucap Amel.
Setelah Amel mengucapkan permintaan maaf oma Yusuf pun membalikkan badannya setelah itu melangkahkan kakinya menuju sang suami.
" Harusnya kamu itu tidak marah marah sama ank itu." Ucap opa.
" Ngapain kamu bela dia." Sinis Oma.
" Aku bukan belain anak itu, tapi aku hanya ingin kamu tidak keterlaluan dan jangan pernah bertindak bodoh." Ucap opa yang mengingatkan agar tidak bertindak gegabah apalagi sekarang masih ada Yusuf.
" Alasan saja." Ucap Oma.
Karena sudah merasa kesal akhirnya mereka pun diam tanpa banyak bicara ataupun melakukan hal hal yang lain.
Sekitar 30 menit akhirnya Yusuf pun kembali lagi ke tempat di mana Amel berada saat ini dan dia pun tidak lupa membawa sebuah buku catatan entah buku catatan apa itu.
" Silahkan di baca." Ucap Yusuf sambil menyerahkan data data soal pasien sekitar 19 tahun yang lalu.
" Maksudnya apa ini." Bingung opa karena dirinya melihat soal data data pasien kisaran 19 tahun yang lalu.
" Opa kan dokter masa tidak bisa baca sih." Ucap Yusuf menyindir sang opa.
" Opa mengerti ini memang data pasien tapi apa hubungannya dengan Oma kamu Yusuf." Tanya lagi.
" Dari pada opa banyak tanya mending opa baca saja deh." Ucap Yusuf sambil memberikan data data pasien 19 tahun yang lalu.
Akhirnya opa pun menerima data data pasien yang cukup lama dan sudah belasan tahun, dan dirinya sebenarnya merasa bingung kenapa cucunya malah memberikan ini.
Satu persatu buku catatan soal pasien dia baca dengan teliti dan ketika akan di buka lagi....
Deg.
" Ini." Ucap opa sambil menunjuk ke data pasien.
" Iya." Ucap Yusuf cepat.
" Bagaimana kamu bisa tahu." Tanya opa penasaran.
" Soal itu gampang bagi diriku opa, dan jangan anggap kalau aku tidak tau apapun selama ini " Ucap Yusuf menang karena keluarga salah telah membodohi dirinya.
" Coba kamu jelaskan maksud dari ini." Ucap opa kepada Yusuf yang meminta penjelasan.
" Mending opa tanya saja sama istri opa itu." ucap Yusuf sambil memberikan kode dengan dagunya ke arah Omanya.
" Bisa kamu jelaskan ini sayang." Ucap opa bertanya kepada sang istri.
" Memangnya apa ya......" Ucapan Oma terhenti ketika melihat data pasien yang selama ini dia tutupi dan setelah itu dia merebutnya dan membawa data pasien itu.
" Mau di bawa kemana data itu sayang." Ucap opa kepada sang istri yang saat ini lari membawa data pasien dan setelah itu dia pun lari walaupun agak susah karena menggunakan tongkat.
Setelah kepergian opa dan Oma nya Yusuf menghampiri Amel dan memeluknya.
" Menangis lah." Ucap Yusuf sambil mengelus punggung Amel.
Hay Hay Hay Hay
maaf ya... cukup lama ngga bis up
tapi insya Allah mulai besok bakal up terus kaka.
Ning ngga bisa ngomong banyak jadi Ning hanya mau minta maaf dan maaf banget kalau ada kata yang membuat Kaka Kaka tersinggung dan maaf banget kalau misalnya kebanyakan Typo.
Terima kasih 😁😁
Salam sayang 🤗🤗
__ADS_1