
Setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sehingga membuatnya cepat sampai di Bandar Udara Abdulrachman Saleh. Ardian segera berlari mencari sosok perempuan yang tadi menuliskan surta perpisahan untuknya. Hati Ardian begitu tidak tenang. Dia terus mencari dan mencari. Ardian memperhatikan papan nama bagian penerbangan tujuan London. Ternyata penerbangannya sudah berlalu sepuluh menit yang lalu. Ardian terlambat sedikit saja. Dia menyesali atas keterlambatanya. Andai dia bisa lebih cepat sedikit pasti masih memungkinkan untuk bertemu dengan Senja walau hanya sebentar tetapi apalah dikata nasi sudah menjadi bubur. Kalau bisa waktu diputar saat ini juga dia menginginkan agar penerbangannya di tunda setengah jam saja. Ardian tidak melarang Senja untuk mengambil pertukaran pelajar ini tetapi setidaknya dia masih bisa merubah pandangan Senja bahwa kita masih tetap dan akan selalu bersama. Tidak ada kata meninggalkan atau ditinggalkan hanya karena satu alasan janji bodoh waktu SMA dahulu.
Kini Ardian masih termenung dengan duduk di kursi tunggu. Badanya seakan lemas tak berdaya mengingat Senja yang meninggalkanya tanpa bisa dia melihatnya walau cuman punggunya saja. Ardian memejamkan mata membayangkan sekarang Senja berada di sampingnya walau itu hanya sebentar untuk mengucapkan kata sapa dan perpisahan kepada dirinya.
Sebenarnya dia bisa saja menyusul Senja ke London untuk mencari keberadaanya tetapi London terlalu luas dan terlalu juga banyak universitas di sana. Dia tidak mungkin mencari Senja di sana tanpa tahu dengan jelas tempat tinggal dan universiats tujuan Senja pada pertukaran pelajar ini. Tidak hanya itu bisa jadi dia juga dapat dipindahkan lagi ke tempat lain dan jtu hanya pihak universitaslah yang mengetahuinya. Semua itu hersifat privasi mahasiswa dan pihak Univ tidak boleh orang lain mengetahuinya. Sebenarnya boleh mengetahui keberadaan tujuan mahasiswa ketika melakukan pertukaran pelajar tetapi itu hanya pihak tertentu saja yang boleh mengetahuinya diluar orang tua yaitu pihak keluarganya asal berdasar persetujuan mahasiswanya. Tetapi pasti Senja tidak mengizinkan dirinya mengetahui keberdaanya. Pikiran Ardian berkecamuk kemana-mana. Hatinya sungguh sekarang tidak tenang, fisiknya lemas begitu saja.
Ardian segera bangkit untuk meninggalkan bandara. Tetapi setelah sekitar sepuluh langkah pundaknya dari belakang ada yang menepuknya. Ardian menoleh kearah belakang dan betapa terkejutnya dia sekarang melihat Senja berada tepat dihadapanya. Seakan tak percaya seperti ini adalah mimpi sore hari bagi Ardian. Ardian masih diam mematung dihadapan Senja.
" Hai hai kak kak hallo. Are you okay? Kak Ardian" Sambil menggerak gerakan tanganya di depan wajah Ardian yang dari tadi diam saja.
" Kak Ardian." Senja sedikit menikan nadanya untuk memanggil Ardian.
__ADS_1
Ardian terkejut karena ada yang meneriaki dirinya dihadapannya. sontak saja hal itu membuat dirinya tersadar dari lamunannya yang dari tadi diam mematung saja. " Ah iya ada apa?"
Beberapa detik kemudian Ardian sadar jika di hadapanya adalah Senja.
" Senja ini Senja kan? ini beneran Senja kan bukan khayalanku saja kan? Senjaku kan ini?" tangan Ardian memegang pipi Senja untuk memastikan lagi bahwa yang ada di hadapanya itu adalah memang benar Senja karena baru setengah jam yang lalu pesawat tujuan London sudah take off.
" Iya kak ini aku Senja. Kenapa kakak disini? Mau ngapain di bandara bukanya kak Ardian ada matkul ya sekarang?"
" Ayo ikut aku kak kita cari tempat jangan disini banyak orang,ada yang mau aku bicarakan sama kamu kak." Senja menarik tangan Ardian untuk mengikutinya pergi.
Sampailah mereka berdua di restoran yang masih berada di lingkup bagian dalam bandara tersebut. Senja mencari tempat di bagian pojok dekat jendela yang menampakan pemandangan bagian perkiran penumpang. Ardian hanya mengikuti arah tarikan tangan dari senja. Ardian duduk disebelah Senja.
__ADS_1
" Apa yang mau kamu bicarakan sama aku? Bahkan tadi kamu tidam menjawab pertanyaan dariku?"
" Maaf kak. Maaf bukan maksudku untuk seperti itu tetapi ini adalah yang terbaik untuk kita berdua."
" Kita berdua? Bukun kebaikan tetapi keburukan lebih tepatnya untuk diriku Ja" Ardian mengangkat bibirnya ke bagian atas.
" Maaf kak aku minta maaf kalau selama ini telah menyusahkan kak. Telah membuat kak Ael memaksakan mengingat dan menepati janji bodoh kamu SMA dahulu." tanpa terasa butir bening lolos sampai ke pipi mulus Senja.
" Hai lihat aku tatap mata aku dan pegang tanganku. Kamu tidak salah dan itu atas kemauanku sendiri untuk memenuhi janjiku padamu. Aku melakukan itu tulus tanpa ada rasa terpaksa sayang."
" Sayang?"
__ADS_1