
Brak. Ardian membanting pintu kamar yang di tempati oleh Senja.
Ardian langsung begitu saja keluar .tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Apa kamu begitu menyukai aku yang dulu? kenapa kamu gak melirik aku sama sekali yang sekarang. Aku lebih segalanya dari pada yang dahulu Senja! Gumannya dalam hati Ardian.
Senja begitu kaget melihat Ardian membanting pintunya.
Tak terasa air bening berhasil lolos dari sudut matanya.
" Apa perkataanku keterlaluan ya?" gumannya yang terdengar begitu lirih.
Tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipinya sendiri.
" Ahh kenapa aku tiba-tiba nangis sih. Aku mendingan minta maaf nanti aja ketika dia sudah tenang."
Krek suara pintu terbuka.
" Ardian?" Senja segera membalikan badanya menghadap arah pintu tadi. Namun, ternyata dugaannya salah.
" Maaf nona saya mau mengantarkan makanan dan juga minuman. Kata aden tadi obatnya harus diminum dan maaf beliau tidak bisa membawanya kesini sendiri. Aden harus keluar karena ada keperluan." Bibi menjelaskan panjang lebar terkait Ardian tidak bisa membawa makanannya kekamar Senja sendiri.
" Terima kasih Bi. Maaf merepotkan. Lain kali saya ambil sendiri.
" Baik non saya permisi dahulu ya"
Puspa hanya menganggukan kepalanya.
Di kampus
" Kemana tuh cewek resek di tunggu dari tadi tak nongol-nongol juga, sudah satu jam tidak datang awas saja kalau lima menit lagi tidak muncul. Apa dia mau menghindar ya?"
Abang kampus
Lima menit tak muncul awas kau!!
Cewek resek
Iya sebentar dijalan ini
Tut tut tut
Berani beraninya dia mematikan telfonku. Guman Dilon yang begitu dibuat kesal oleh Puspa.
__ADS_1
lima menit
............
empat menit
............
tiga menit
............
dua menit
............
Flash Back On
085256*****7
Aku tunggu kamu sekarang juga di taman dekat kampus. Jangan menghidar awas kau kalau sampai itu terjadi. Bakal aku cari sampai manapun.
Cewek resek
*Maaf dengan siapa ya ini?
Amnesia kamu. Lupa sama aku yang kamu tabrak kemarin. Tidak ada penolakan sekerang cepat datang kesini.
Cewek resek
Oh iya kak nanti saya akan datang. Sekarang masih ada di kosan. Tunggu dulu.
Sebenarnya boleh juga tuh cewek buat aku manas manasin dan membuat cemburu Dita. Aku tahu Dita kamu masih sayangkan sama aku dan bukan hanya kamu yang mendapatkan gebetan batu aku bisa. Dilon bicara dalam hatinya seakan misinya nanti akan berhasil untuk membuat Dita cemburu.
Flash Back Off
glubuk.
Puspa menabrak laki-laki di depanya yang memakai jaket kulit berwarna coklat. Karena kejadian itu membuat Puspa sekarang berada di atas laki-laki yang tadi ditabraknya. Mata mereka saling bertemu pandang. Puspa segera sadar segara berdiri dengan tatapan mata begitu takut dengan laki-laki di depanya itu.
" Hai lo sengaja?" Tanya Dilon dengan tatapan mata seakan mau menerkan musuhnya.
" Tidak kak maaf. Habisnya kakak surih aku cepat jadi aku lari dong trus..."
" Trus apa? Ha? Apa?" Wajah Dilon sudah didekatkan pada wajah milik Puspa.
Melihat wajah Dilon yang tepat ada di depanya dengan tatapanya yang begitu tajam membuat nyali Puspa menciut. Dia segera menundukan mukannya kebawah.
__ADS_1
" Trus tadi kelepasan larinya jadi kakiku gak bisa direm dan gak sengaja. Maaf kak." Karena rasa takutnya Puspa menjawab dengan dia menutup matanya dan pandanganya ke bawah. Dia tak berani sama sekali menatap Dilon yang saat ini begitu menyeramkan dari pada kemarin ketika dia menabraknya di kampus.
" Cihh alasan, lo harus tanggung jawab sekarang juga."
" Hah tanggung jawab...tapi..tapi a-aku kan tidak memper**** kakak dan kakak kan juga tidak mungkin bisa hamil trus aku juga gak mungkin nikahin kakak." Tes tes tes air mata Puspa begitu saja keluar dari kelopak matanya. Entah mengapa dia yang begitu tegar dan tak pernah menangis. Kali ini karena begitu saking takutnya dia sampai mengeluarkan air matanya.
Jletak
" Aduh kak jidatku sakit."
" Kamu itu pura pura bodoh atau mungkin memeang benar-benar bodoh hahahahaha."
" Ha kok kakak ketawa sih. Emang ada yang lucu gitu?" Tanganya sambil menghapus air matanya yang keluar tadi karena mendengar Dilon tertawa begitu keras.
" Iya benar kamu harus nikahin aku. Sekarang juga kamu harus aku bawa ke KUA untuk melakukan tanggung jawabmu." Sambil menahan tawa karena menjawab pertanyaan bodohan Puspa.
Puspa langsung sadar akan pertanyaan bodohnya itu. Gadis pintar di kampus ini karena rasa takutnya mengeluarkan pertanya tidak masuh akal.
" Hah mana ada kayak gitu. Kamukan laki mana mungkin bisa kayak gitu. Tapi kalau benar aku suruh tanggung jawab jangan yang itu ya kak plist... Yaah kak aku mohon jangan ya kak. Aku akan di lengserkan dari KK keluargaku nanti karena kejadian bodoh ini."
" Kamu yang minta lo tadi jadi aku akan mengabulkan dengan senang hati. Lagi pula kamu lumayan cantik dan tidak malu-maluin lah kalau dibawa ke kondangan dan setidaknya nanti kamu bakal kasih aku lebih dari itu kan?" Dilon menggoda Puspa.
" Mana ada kayak gitu. Udahlah lupain kata-kataku tadi lagian siapa juga yang minta dan mau sama situ."
Hahahahahahahaha gadis bodoh. Begitulah sekiranya kata-kata ejekan yang akan diungkapkan Dilon.
Di tempat lain Ardian menenangkan diri takut dia nanti ketika kembali tidak bisa mengontrol dirinya pada Senja.
" Aku gak tahu harus sedih atau senang sekarang Senja. Aku senang karena kamu masih mengingat aku sebagai kak Ael tapi aku juga karena aku belum bisa mengatakan kalau aku kak Ael yang kamh sebut-sebut tadi." Gumannya sambil duduk di bawah pohon di taman belakang rumahnya.
" Arkh sial sial kenapa harus begini sih. Kenapa dia tidak melirik aku sebagai Ardian."
Di dalam kamar Senja masih kepikiran kelakuan Ardian tadi yang tiba-tiba membanting pintu kamar. Dia mengambil buku yang ada di dalam nakas kamar itu lalu dia menulis permintaan maaf karena sudah merepotkan dan berkata hal yang seharusnya tidak dia katakan kepada orang lain. Lalu Senja menyobek kertas itu dan meletekan di atas nakas kamar tamu Ardian yang di tempatinya.
" Loh non mau kemana? Kata Tuan tadi non tidak boleh keluar." Tanya penjaga rumah Ardian yanh ada di depan gerbang rumah.
" Tadi tuan kalian sudah mengijinkan saya kok. Lagian saya akan ke kampus tadi tiba-tiba dosen saya menelfon apa pun keadaanya harus datang ke kakampus sekarang juga. Hidup saya dipertaruhkan sekarang juga."
" Ya udah kalau begitu saya antarkan non."
Dari pada aku gak bisa keluar dari tempat ini mending iya in aja lah. " Iya deh pak tapi maaf kalau merepotkan."
" Tidak non itu sudah tugas saya."
Ardian yang sudah menenangkan dirinya kembali ke kamar Senja dan Duor ternyata Senja tidak ada di kamarnya bahkan kamar madipun kosong. Ardian menemukan sebuah surat di atas nakas kamar tamunya. Dia membacanya dengan seksama. Kata maaf yang diucapkan Senja membuat Ardian meurutuki kebodohanya.
Setelah selesai Ardian melihat posisi Senja dari telfonya karena dia sudah menyadap dan memasang GPS tanpa sepengetahuan Senja.
__ADS_1
" Syukurlah dia sekarang ada di kedai kopinya. Aku harus segera kesana. Senja maafkan aku dan tunggu aku disana." Guman Ardian sambil berlari menuju mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumahnya lalu menuju kedai kopi Senja.