
" Arhk aduh" Senja tergeletak di samping meja yang tidak sengaja ditabraknya tadi sambil merasakan sakit pada kakinya.
" Senja" Teriak Ardian sambil berlari menghampiri Senja.
Ardian begitu khawatir melihat Senja kesakitan. Tanpa berfikir panjang dia menggendong Senja menuju mobil dan membawanya kerumah sakit. Ardian siap
menerima semua amukan Senjanantinya yang terpenting sekarang adalah keselamatan Senja. Dia tidak mau Senja merasakan sakit.
" Lepas dan turunkan aku sekarang. Jangan macam-macam kamu." Sambil memukul dada bidang Ardian.
" Tidak kamu harus segera mendapat perwatan dokter dan sekarang kamu diam bisa tidak sih. Jangan memberontak deh aku tidak suka diberontak kayak begini."
" Kalau tidak mau diberontak jangan kayak gini. Sekarang turunkan aku. Aku tidak butuh belas kasihanmu Tuan Ardian terhormat."
" Senja diam" Ardian sengaja membentak Senja agar dia menurut untuk membawanya kerumah sakit. Dia akan menerima resikonya nanti jika Senja sudah sembuh. Mungkin nanti dia akan marah.
Setelah dibentak oleh Ardian dia sudah berhenti memberontak untuk turun dari gendongan Ardian. Sekarang mereka sudah masuk ke dalam mobil. Di perjalanan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Suasana di dalam mobil Ardian begitu canggung.
Ardian hanya melirik Senja yang diam dan fokua melihat jalan. Setelah beberapa saat tanpa ada suara di mobil itu akhirnya Ardian memulai untuk mengawali dan memecahkan suasana canggung yang terjadi sekarang.
" Maaf dan silahkan kalau mau marah tapi tunggu nanti setelah kamu diobati dan punya tenaga lebih untuk melawanku Senja."
" Turunkan aku turun aku dan buka pintu mobilnya."
" Kalau kamu masih membantah aku bisa pastikan kamu akan berakhir di mobil ini dengan ciumanku." Mendengar ucapan Ardian sontak membuat Senja mengeraskan rahangnya untuk mau menerkam kancil disampingnya ini.
__ADS_1
" Mau marah silahkan berarti kamu memang bersedia dan mengingkan aku untuk menciummu ya." dengan senyum devil yang diperlihatkan Ardian dan satu kedipan mata sebelah kirinya.
" Hais kamu kenapa sakit mata ya."
" Mungkin"
Mereka sekarang sudah sampai di rumah sakit. Ardian menggendong Senja untuk keluar dari mobilnya menuju keruangan dokter spesialis tulang. Dokter itu yang tak lain adalah omnya Ardian sendiri.
tok tok tok
" Masuk"
" Om tolong periksa kakinya sekarang ya dan maaf merepotkan."
Dokter memeriksa keadaan kaki Senja. Kaki Senja begitu lebam dan muncul tanda sedikit membiru pada pergelangan kakinya.
" Sedikit bermasalah ya tapi tidak perlu sampai dirawat dan setelah dilihat dari hasil Scan kakinya sedikit retak."
" Jaga dia Ar jangan biarkan dia untuk jalan jauh dahulu, tidak boleh naik turun tangga, banyak istirahat dan sering kompres kakinya an segera tebus nanti obatnya di apotek rumah sakit ini."
" Baik Om laksanakan." Jawabnya sambil tersenyum.
" Itu dengerin kata doketr jangan bandel dan nurut sama aku mulai sekarang kamu." Dengan membelai kepala Senja. Senja hanya pasrah dengan kelakuan Ardian dan tidak mungkin juga dia marah di depan dokter.
Ardian membawa Senja pulang ke rumahnya. Senja hanya pasrah dan nurut dari pada ancaman Ardian jadi kenyataan.
__ADS_1
Di rumah Ardian
Ardian membawa Senja ke dalam kamarnya yang ada di lantai tiga menggunakan tangga padahal jelas-jelas di pojokan rumahnya ada lift yang digunakan menuju lantai atas. Rumah Ardian memiliki lantai empat bagaikan istana dan lantai yang paling atas adalah tempat khusus dan tidak bisa sembarangan orang untuk menuju tempat itu.
Dia memilih mebawa Senja ke kamarnya yang ada di lantai tiga katena Ardian tidak mau jika Senja pergi lagi dari rumahnya dengan keadaan kakinya yang membiru. Dengan ditempatkan di lantai atas maka Senja tidak mungkin untuk turun ke bawah dan mencari alasan lagi untuk pergi.
" Kamu sekarang istirahat saja di kamarku agar mudah aku untuk mengawasimu. Jangan coba-coba kabur lagi atau aku akan benar-benar melakuakn hal yanh diluar kendaliku."
Glek. Senja menelan salivanya mendengar ucapan Ardian. Pikiranya sudah berkecamuk ke mana mana. Dia tidak mau jika sampai hal itu terjadi bisa hancur hidupnya sekarang juga dan mimpinya pasti juga akan lenyap seketika.
" Hmm iya." Menjawab pertanyaan Ardian tanpa senyuman dan hanya melihatkan matanya yang melotot hampir keluar padahal dalam hatinya dia begitu resah.
Melihat tingkahnya membuat Ardian terkekeh geli.
" Sudah masukan lagi itu matanya. Lihat hampir keluar itu bola matamu." Sambil menyentuk pipi Senja.
Hal itu membuat Senja menampik tangan Ardian yang menyentuh pipi mulusnya.
" Ya sudah aku mau mandi dahulu dan ganti baju kalau kamu mau mandi tinggal bilang ke ak nanti tapi tunggu aku selesai dahulu." Memincingka senyumnya.
" Mulutmu kalau ngomong di filter kenapa dan jangan cari kesempatan. Aku jitak kepalamu nanti dan aku masukan ke dalam air panas utuk membuat kopi di kedaiku."
" Hmm dengan senang hati."
Senja melempar bantal yang ada di sampingnya kepada Ardian. Untung saja Ardian menghidar dan langsung lari ke dala kamar mandinya. Ya walaupun lemparan bantal tidak sakit tapi dia mau menggoda Senja.
__ADS_1
" Tunggu aku ya"
" Dasar cowok gak punya sopan apa dia bisa bisanya ngomong seperti itu. Awas saja nanti kalau aku sudah sembuh bakal ku balas kelakuanya. Jika kamj benar kak Aelku maka kelakuamu tidak kayak begini Ardian. Kelakuanmu pasti bakal ramah, sopan, dan pastinya baik tidak seperi kancil. Hais kenapa aku jadi ngomong sendiri seperti orang g**a saja." Menggeleng gelengkan kepalanya merutuku kelakuanya tersebut.