
Detik berganti menit dan menit sudah berganti jam begitupun jam telah berganti hari. Tepat hari ini semua menjadi pertemuan terakhir mereka. Entahlah bagaimana menjalani setelah ini kedepannya saat mereka berdua tak lagi saling berjumpa untuk waktu yang cukup lama. kenapa tidak dipaksakan? jawabanya tidak bisa. Dipaksa pun jatuhnya akan tetap saling melukai satu sama lainya.
Tepat pada pagi ini Senja berangkat ke London. Dia tidak.mau di antarkan oleh Adrian. Dia hanya tidak mau jika dirinya akan berat untuk segera pergi ke London. Lebih baik berangkat sendiri dari pada hati dan pikirannya tertinggal di hadapan Adrian sedangkan tubuhnya harus segera berangkat.
"Adrian semoga nanti kita dipertemukan kembali dengan rasa yang masih sama. Semoga kamu memang benar jodohku dan kita bisa bersatu. Aku ingin menggapai mimpi ku dahulu dan setidaknya nanti derajat kita dapat sepadan walau itu sulit" Doanya dalam hati sebelum pesawat benar benar meninggal tanah Indonesia tercinta ini.
Sama sama berada di dunia yang sama tetapi berada di negara berbeda dengan waktu yang berbeda pula. Sama sama berat untuk meninggalkan. Sebenarnya sama-sama saling membutuhkan satu sama lain tapi kalau gak gengsi bukan Senja dong.
Di Indonesia
Malam hari Adrian mendapatkan telfon dari orang tuanya bahwasanya mereka akan pulang ke Indonesia setelah sekian lama berada di Prancis. Orang tua Adrian adalah pebisnis yang hebat dan terkenal. Saking hebatnya kekayaan mereka tidak habis tujuh turunan. Sebenarnya mereka pulang ke Indonesia bukan untuk mengunjungi rumah atau sekedar menjenguk Adrian tetapi ada tujuan tersendiri. Salah satu tujuannya itu agar perusahaan mereka bisa lebih maju yaitu dengan cara melakukan kerjasama dengan pemilik perusahaan lainya.
Dirumah utama keluarga Adrian
"Bi Asti tolong panggilkan Adrian untuk segera turun, bilang sudah ditunggu mama papanya di ruang keluarga."
"Baik nyonya."
lalu Bi Asti naik ke lantai dua untuk memanggil Adrian.
tok tok tok tok tok tok
"Aden Aden" tok tok tok "Permisi Den Adrian ini Bi Asti Den."
__ADS_1
Mendengar ketukan pintu kamarnya Adrian membukakan pintu kamarnya untuk mengetahui kenapa malam malam Ni Asti memanggil dirinya, tumben sekali.
"Iya Bi. Ada apa ya?"
"Di panggil nyonya dan tuan di ruang keluarga, katanya beliau ada hal penting yang akan dibicarakan dengan Aden."
" Okay baiklah. Aku akan segera turun. Makasih Bi."
"Baik sama sama Den."
Segeralah Adrian turun ke bawah lebih tepatnya ke ruang keluarga karena ditunggu oleh mama dan papanya.
"Ada apa ya Pa Ma manggil aku kesini. Tumben banget masih ingat anak."
"Udahlah Pa tenang, tarik nafas lalu hembuskan, kita kesini kan ada hal yang akan dibahas dengan Adrian bukan untuk Papa marah marah." Mama Adrian menenangkan Papanya agar tidak terbawa emosi dengan ucapan Adrian.
"Adrian duduk dulu. Papa sama Mama akan bahas hal penting sama kamu."
"Baiklah..Hal penting apa yang mau kalian bahas denganku?"
"Jadi gini. Kamu kan anak tunggal kami. Kami ingin kamu meneruskan perusahaan keluarga. Papa sama Mama sudah memutuskan untuk segara memperkenalkan kamu sebagai CEO dan penerus dari Papa bukan sebagai direktur lagi. Jadi semua keputusan perusahaan ada ditangan kamu nantinya. Untuk peresmian kamu sebagai CEO barunya akan dilaksanakan pada besok malam di gedung Buana jam 8 malam " Ucap Papa Adrian dengan begitu tenang namun tegas. Setiap kata yang keluar dari mulutnya menandakan bahwa tidak bisa untuk ditentang bahkan secara tidak langsung kalimat itu ada paksaan dan sudah ditetapkan.
"What? loh kenapa kalian gak diskusi sama aku dulu. Kenapa asal memutuskan begitu saja. Kalian gak tanya dulu. Apakah aku mau jadi CEO atau enggak dan kapan waktu yang tepat untuk peresmiannya jika aku menyanggupi jabatan itu. Kenapa kalian gak tanya dulu?"
__ADS_1
"Adrian ini sudah diputuskan oleh beberapa dewan direksi dana Papa serta Mama juga. keputusan sudah final."
" Okelah. Aku bisa apa? dari dulu pendapat ku selalu gak pernah di anggap. Kalian memutuskan kehendak sendiri tanpa tahu Maluku gimana dan apa? Kalian orang tua egois." Jawab Adrian dengan nada dingin tapi penuh penekanan.
Adrian Adrian kamu menyalahkan orang tuamu karena egois dan memutuskan semuanya secara sepihak. Lalu bagaimana dengan dirimu yang suka memaksa kehendakmu kepada Senja. Kamu gak mikir kali ya. Itu juga egois loh. Emang bener kata pepatah bahwa "buah tidak jatuh jauh dari pohonnya". Kamu itu jiplakan orang tuamu sifatnya jadi jangan sepenuhnya menyalahkan mereka atas keegoisannya.
"Terserah Mama dana Papa sajalah. Aku bisa apa? Nanti dibilang anak durhaka, gak mau dengar orang tua, gak tahu terimakasih sama orang tua."
"Adrian maksud Papamu tadi tidak gitu. Kami melakukan ini juga demi kebaikanmu juga. Kami ingin yang terbaik untukmu. Mama dan Papa sayang sama kamu Adrian."
"Halah basi. Sudahlah aku capek maj istirahat." Adrian meninggalkan begitu saja orang tuanya di yang berada di ruang keluarga.
"Pa kita gak salahkan membuat Adrian untuk segera diresmikan jabatan CEO nya? Mama takut Adrian marah dan kecewa."
"Usahlah Ma. Seperti tidak tahu bocah tu aja. Udah dewasa juga pasti bisa mikir juga bahwa maksud kita juga demi kebaikan dia dan masa depannya juga."
Didalam kamar Adrian begitu marah atas keputusan orang tuanya yang dadakan seperti itu. Mereka tidak memikirkan perasaanya. merek egois. Adrian marah karena dia sudah merencanakan bahwasanya setiap dua Minggu sekali dia akan pergi ke London dimana Senja berada. Tetapi dengan jabatan barunya pasti dia akan disibukan dengan tumpukan berkas berkas. Bagaimana dengan Senjanya disana? bagaimana juga dia kangen Senja? Jika aku gak bisa ketemu dia trus kalau disana dia ketemu cowok lain gimana? Bagaimana jika dia benar benar memutus hubungan dengannya. memikirkan hal itu membuat kepala Adrian begitu pusing. Sungguh orang tua Adrian tidak memikirkan hal seperti itu. Tidak memikirkan perasaan anaknya.
"Arkh arkh arkh arkh." Adrian sambil memikul guling dan bantal ke ranjangnya. Karena merasa kepalanya pusing dan pikirannya sedang buntuk. Banyak hal yang harus dipikirkannya. Banyak rencana bahagia dirinya yang gagal seketika semuanya. lengkap sudah sakit kepalanya malam ini. Tadi pagi ditinggalkan Senja ke London trus tiba-tiba malamnya diberikan kabar yang sulit untuk diterima oleh Adrian.
"Arkh Arkh Arkh Arkh" Adrian membanting lukisan sungai mengalir yang dipajang di dekat pintu kamarnya.
Capek dengan pemikirannya sendiri Adrian memutuskan untuk tidur saja. Siapa tahu ini hanya mimpi saja. Oh iya asal jangan kaget saja jika besok pagi bangun tidur bahwa kamarnya sudah berbentuk seperti rumah yang di rampok. Kalau tidak bayangkan saja kamar Adrian seperti kapal pecah. guling dan bantal ada dimana. Selimut pasti sudah berada yang awalnya dia atas pasti sudah jatuh ke samping dirinya. Untung orang kaya jadi tinggal memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membersihkan kamarnya nanti. Tidak masalah mau seberantakan apapun nanti.
__ADS_1